Asal Julukan ’Kampung Janda’ di Kampung Panyarang

by

Entah sejak kapan Kampung ­Panyarang, Desa Ciburayut, Kecamatan ­Cigombong, menyandang julukan sebagai ’Kampung Janda’. Hal ini bahkan sempat heboh di media nasional hingga ­mengundang para peneliti datang. Mulai dari ­mahasiswa sampai kalangan ­aktivis ­perempuan.

Rosmiyati (54), warga RT 02/07, adalah satu dari 65 kepala keluarga (KK) yang menyandang status janda. Perempuan yang sehari-hari sebagai petani kacang tanah ini, ikhlas menafkahi anak-anaknya sejak 15 tahun silam.

Menurut pengakuannya, tak sedikit yang mengalami nasib serupa di kampungnya. Dia sendiri ditinggal suaminya, Oim Abdullah, karena mengalami kecelakaan kerja.
“Ya, kalau suami saya mening­gal kena longsor. Tetangga juga sama,” katanya kepada Radar Bogor.

Ia menuturkan, di kampungnya ada lebih dari 30 wanita tak ber­suami. Meski tidak menge­tahui angka pastinya, usia mereka berkisar 20 sampai 60 tahun.

Menurut ketua RT 02, Damiri, di kampungnya hampir setiap ruas jalan ada yang menyandang status janda. Musababnya beragam. Mulai ditinggal suami karena kecelakaan hingga motif ekonomi maupun kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Alasannya cukup beragam,” singkatnya.

Terpisah, Kepala Desa Ciburayut, Chandra Lena juga mengatakan, ’Kampung Janda’ yang disandangkan pada Kampung Panyarang. Bermula saat strategi longsor yang menimpa puluhan pekerja tambang batu kapur beberapa tahun silam. “Ya, sebenarnya hanya sedikit, tidak banyak. Dan ini memang mengundang perhatian banyak orang. Kami sudah data tidak lebih dari 50 puluh orang, apalagi ratusan korban,” tuturnya.(*/c)

(radarbogor)