Kopi Liong Bulan, Distributor Tutup, Pabrik Masih Beroperasi

oleh

Kabar tutupnya distributor kopi Liong Bulan menjadi perbincangan pu­blik Bogor sepekan terakhir. Mayo­ritas menyesalkan dan berharap tak ber­­dam­pak pada produksi kopi yang telah membudaya bagi warga Kota Hujan itu.

”Sangat menyayangkan satu distri­butornya tutup,’’ ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Bogor, Siti Nuryanti.

Nuryanti adalah sosok yang paling getol mengenalkan kopi khas Bogor kepada masyarakat luas. Beragam agenda dia gelar hanya untuk memajukan pertanian hingga industri kopi. Salah satunya, agenda rutin Bogor Coffee Festival. Nuryanti paham betul kualitas kopi asal Bogor yang mampu bersaing dengan biji-biji kopi dari daerah lain di dunia. ”Saya berharap akan ada distributor-distributor baru, sehingga Kopi Liong bisa tetap hadir di masyarakat,’’ tutur Nuryanti.

Tak hanya Nuryanti, Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman yang juga penikmat kopi Liong buka suara. Usmar meminta anak buahnya untuk memeriksa distributor kopi khas Kota Hujan tersebut. Melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), seharusnya ada pembinaan pada para pengusaha Bogor, terlebih jenis usaha yang sudah membudaya.

Usmar meminta Disperindag Kota Bogor peka atas isu yang beredar di masyarakat, meskipun kabar yang tutup hanya pada distributor yang berlokasi di Kelurahan Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah itu. “Disperindag harus proaktif lah ya. Kalaupun diisukan, hanya sebagian saja di toko yang di Pasar Anyar,” ungkap­nya kepada Radar Bogor.

Kopi Liong Bulan sudah menjadi salah satu ikon Kota Bogor. Untuk itu, kata Usmar, perlu dilakukan kajian mendalam terhadap usaha kopi Liong Bulan. “Karena kopi liong sudah identik dengan Bogor, maka harus dipertahankan. Disperindag harus melakukan pembinaan juga cek dan ricek. Kira-kira kendalanya apa, apa karena sumberdaya manusianya tidak ada, atau karena bahan bakunya kurang, atau alatnya sudah kedaluwarsa dan sebagainya,” terangnya.

Setelah mengetahui penyebab tidak beroperasinya toko kopi terbesar di Bogor itu, menurutnya, Disperindag bisa melakukan pembinaan dan upaya penyelamatan. “Kalau generasinya sudah tidak ada, bisa saja kan melakukan pembinaan usaha baru, dengan modifikasi administrasi yang baru, tapi mereknya bisa dipertahankan.

Bisa saja dukungan materi. Kalau perangkat administrasinya, ini kan berbentuk industri rumahan. Jadi, kita harus lihat faktor-faktornya dulu,” ujarnya.

Usmar menduga, tidak ada generasi yang bisa melanjutkan usaha yang memang sudah dilaksanakan dalam waktu yang lama. Dia mengaku siap membentuk kelompok usaha baru, jika dugaannya benar. Nantinya, kelompok usaha yang baru itu perlu melakukan berbagai inovasi, guna mengimbangi perkembangan zaman yang kian modern.

“Bisa saja dengan sentuhan menyeduh kopi dengan berbagai inovasi, bisa saja mengangkat lagi derajat kopi liong itu. Saya masih yakin itu ciri khas Kota Bogor bisa dipertahakan dan dibangkitkan kembali,” tandasnya.

Pernyataan Usmar diamini Kabid Perindustrian pada Disperindag Kota Bogor, Heri Drajat. Heri menyebut pabrik kopi Liong Bulan dahulu berada di kawasan MA Salmun, dekat PN Gas. Tapi saat ini pabrik itu telah pindah ke wilayah Kabupaten Bogor. ”Sepe­ngeta­huan saya begitu (pindah ke Kabupaten Bogor),’’ sebutnya.

Untuk diketahui, toko Kopi Liong Bulan yang berlokasi di ruko kawasan Pasar Anyar, Kota Bogor, hanyalah satu dari sejumlah distributor kopi yang ada sejak 1945 itu. Penelusuran Radar Bogor, pabrik dan gudang utama kopi ini berada di Nanggewer, Jalan Bintang Mas 5, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.

Radar Bogor pun mendatangi pabrik yang tertutup dengan dua lapis gerbang itu kemarin. Namun saat didatangi, perwakilan pabrik, Wawan, menyebut lokasi itu hanya gudang utama, bukan pabrik peracikan kopi. Dia juga mengaku tidak tahu-menahu urusan manajemen, juga terkait tutupnya satu distributor besar kopi yang sudah melegenda itu. “Ini hanya gudang, saya tidak tahu produksi di mana, kopinya dari mana,” ujarnya kepada wartawan.

Wawan membenarkan Toko Kopi Liong Bulan di Pasar Anyar mengambil kopi dari gudangnya. Tapi, dia kembali menegaskan tidak tahu-menahu produksi kopi dan urusan manajemen lainnya.

“Kalau pemberitaan banyak orang beralih ke kopi lain dan pemilik kopi bangkrut, ya, itu urusan pemiliknya. Yang jelas di sini baik-baik saja. Di toko itu juga baik-baik saja. Si bapaknya (distributor) sakit-sakitan dan anaknya tidak mau meneruskan. Lainnya saya tidak tahu,” tutup Wawan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bogor, Dace Supriadi, membenarkan bahwa pabrik dan gudang Kopi Liong Bulan berada di wilayahnya. Dace mengatakan, hingga kemarin pabrik tersebut dalam kondisi baik. Dia memastikan, tutupnya distributor tak berdampak langsung pada usaha kopi Liong. “Saya rasa baik-baik saja. Kalau ada masalah, ya, saya akan sidak. Kalau tidak ada apa-apa, ya, aman-aman saja selama ini,” katanya.

Kabid Perindustrian pada Disperindag Kabupaten Bogor, Asep Saepulloh, menambahkan bahwa hari ini dia akan memeriksa kondisi pabrik. Itu untuk mengetahui apakah tutupnya distributor berpengaruh pada produksi. “Mungkin Senin (hari ini, red) saya cek,” kata Asep

(radarbogor)