Ramai Didatangi Peziarah hingga dari Brunei

oleh

Di Kampung Ciburial, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, sebuah batu raksasa berdiri kokoh. Batu yang berlokasi di RT 05/05 itu diyakini warga pernah jadi persembunyian Presiden Soekarno. Tak heran jika kini area itu dianggap keramat hingga sering didatangi para peziarah lokal dan mancanegara.

Tak banyak yang tahu tentang batu raksasa tersebut. Juru pemelihara situs generasi keempat, Pian Sofian, menceritakan bahwa di era 1994-1960 batu itu pernah didatangi Presiden Soekarno. Lokasinya berada di tengah permukiman penduduk.

Menurut Pian, batu yang kini menjadi situs naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor itu ramai didatangi peziarah dari dalam hingga luar negeri. “Malam Jumat yang ziarah banyak, ada dari Jakarta, Bogor, bahkan dari Brunei juga ada. Tapi sekarang nggak seramai dahulu,” katanya.

Biasanya pelancong yang membawa roda empat memarkir kendaraan 300 meter dari lokasi situs. Dari tepi jalan, pengunjung harus menyusuri jalan setapak kemudian menaiki anak tangga hingga di pintu gerbang. Warga di sana terbiasa kedatangan wisatawan, maka rumah-rumah mereka menjajakan makanan dan jasa parkir kendaraan.

Batu tersebut memiliki panjang sekitar 150 meter dengan tinggi rata-rata tiga meter. Di atasnya ada sebuah lempengan yang menyerupai sajadah. Di lokasi ini, konon Soekarno pernah menggunakannya sebagai alat salat. “Cerita dari masyarakat dan yang saya dengar dari orang tua kalau Bung Karno pernah ke sini. Dan warga kompak untuk menyembunyikannya,” ujarnya.

Batu itu juga mempunyai juru kunci. Saat ini juru kuncinya adalah Pian yang merupakan anak dari juru kunci pertama, H Abu Bakar, yang sudah meninggal pada 2003.

Batu cagar budaya yang sarat nilai sejarah tersebut kondisinya kini kurang terawat. Pagar tembok di sekeliling lokasi sudah lapuk dan sebagian roboh.

(METROPOLITAN)