Disdik: Dua Oknum Wartawan Tangani Pengadaan Soal

oleh

Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor akhirnya mengakui keterlibatan wartawan atas keterlanbatan Ujian PAS (Penilaian Akhir Sekolah) yang menumbalkan 23 ribu lebih siswa di Dua Kecamatan Cigombong dan Cijeruk. Pengadaan soal rupanya diserahkan ke dua oknum wartawan majalah tabloid Aksara, Dede dan Aryadi.

Namun fakta kedekatan Kepala Seksi Kurikulum, Ade Suryana, dengan oknum wartawan tersebut membuat Disdik bersilat lidah. Mantan pejabat sementara UPT Pendidikan itu, akhirnya mengakui seberapa dengat hubungannya dengan oknum wartawan majalah bergenre pendidikan itu.

“Saya kenal dengan Dede dan Aryandi. Saat saya masih UPT mereka adalah wartawan yang sering bergaul dengan kepala sekolah dan guru. Kebetulan mereka adalah murid saya ketika di SMP,” ungkapnya.

Menurut Ade, kedua wartawan itu meminta kerja sama dalam pasokan koran saat di UPT dan Kabupaten Bogor. Kerjasama itu berlanjut termasuk pengadaan Naskah. Namun dirinya mengaku tidak memberi instruksi melainkan menyarankan untuk langsung ke tim Kecamatan. Oleh karenanya, Ade juga mengaku tidak mengetahui jumlah anggaran yang dipakai pengadaan naskah di sekolah.

“Karena saya tidak punya kewenangan dengan yang punya anggaran adalah mereka. Besaran sesusai dengan Rencana Kegiatan Anggaran Sekolah (RKAS) untuk pengadaan naskah ulangan. Ada pagu yang sudah ditetapkan,” pungkasnya.

Wartawan pun meminta tanggapan terkait keterlambatan lembar soal kepada Kepala Dinas Kabupaten Bogor, TB Luthfi Syam. Menurutnya, keterlambatan kekurangan sudah diatasi Disdik.

“Bukan tidak ada tetapi kurang dan sudah tertangani oleh panitia saat itu juga,” katannya.

Ditanya soal standar lembar ujian sekelas fotocopy, kata Luthfi, Disdik tidak memiliki patokan asal tulisan terbaca oleh siswa. “Boleh (difotocopy) diapapun yang penting bisa terbaca,” jelasnya

(POJOKJABAR)