Ilmuwan Dengarkan Sinyal dari Batuan Antariksa, Seperti Apa?

oleh

Para ilmuwan kembali mulai mendengarkan sinyal yang berasal dari batuan antariksa, bernama ‘Oumuamua, menggunakan teleskop radio terbesar di dunia, pada 13 Desember. Sejumlah tokoh mengatakan bahwa objek aneh itu mungkin merupakan pesawat alien.

Para ahli menggunakan teleskop Green Bank di West Virginia untuk mengamati objek tersebut selama sepuluh jam pada Rabu dari pukul 20.00 GMT (03.00 WIB).

Sejauh ini, belum ada bukti sinyal buatan yang berasal dari objek tersebut, tapi butuh waktu yang lama untuk menganalisis data-data yang terkumpul.

“Yang paling menarik dari alam semesta adalah membuat kita bertanya-tanya tentang keberadaan makhluk di luar sana,” kata Andrew Siemion, direktur Berkeley SETI Research Center.

Breakthrough Listen mengamati ‘Oumuamua di empat pita radio, yang mencakup miliaran saluran individual di kisaran 1 sampai 12 GHz. Instrumen tersebut mengumpulkan 90 data mentah TB selama pengamatan dua jam terhadap ‘Oumuamua itu sendiri.

Baca juga: 2020, NASA Akan Membawa Batu dari Mars ke Bumi, Benarkah?

Sejauh ini, data dari penerima S-band meliputi frekuensi 1,7 sampai 2,6 GHz telah diproses. Analisis terhadap tiga pita lainnya sedang berlangsung.

Yang membuatnya unik, bentuk objek tersebut tidak bulat seperti asteroid umumnya. Selain itu, ‘Oumuamua melayang dengan sangat ‘bersih’, tanpa memancarkan awan debu luar angkasa yang biasanya terdapat di sekitar asteroid.

Para ahli mengatakan ini menunjukkan bahwa objek itu terbuat dari sesuatu yang padat, mungkin batu, tetapi bisa juga logam. Seorang astronom mengklaim bahwa ‘Oumuamua kemungkinan merupakan pesawat luar angkasa asing yang rusak dan terguling dalam tata surya.

Para analis juga mengatakan, warna merahnya yang samar mengindikasikan adanya radiasi kosmik interstellar yang lebih kuat dari tata surya ini. Fakta bahwa mesin itu tampaknya tidak memiliki mesin atau tanda-tanda adanya daya dorong. Bisa menghancurkan teori pesawat luar angkasa antar planet.

Profesor Avi Loeb, Profesor Astronomi di Universitas Harvard, menyarankan untuk memprosesnya dengan hati-hati, dikutip dari Daily Mail, Jumat (15/12/2017).

“Saran saya, seperti dalam dialog apa pun, adalah pertama-tama kami mendengarkan dan melakukan yang terbaik untuk memahami apa yang kami dengar. Jika kami sudah mengetahuinya, kami bisa memutuskan tindakan selanjutnya,” tuturnya.

(Okezone)