Bukan Turki, Putin Tahu Penyerang Basis Militer Rusia di Suriah

oleh

Presiden Vladimir Putin mengaku tahu siapa pelaku serangan baru-baru ini terhadap basis Rusia di Pangkalan Udara Khmeimim dan Pangkalan Angkatan Laut Tartus di Suriah. Pelaku serangan bukan Turki, namun provokator yang ingin menghancurkan hubungan Moskow dan Ankara.

”Ini adalah provokasi yang ditujukan untuk mengganggu kesepakatan sebelumnya, di tempat pertama. Kedua, ini tentang hubungan kita dengan pasangan kita—Turki dan Iran. Ini juga merupakan upaya untuk menghancurkan hubungan tersebut,” kata Presiden Putin dalam sebuah pertemuan dengan media Rusia di Moskow pada hari Kamis.

“Kami memiliki pemahaman yang sempurna tentang hal itu dan akan bertindak dalam solidaritas,” ujar pemimpin Kremlin itu.

”Ada provokator di sana, tapi bukan orang Turki,” imbuh Putin, membantah laporan sebelumnya yang mengatakan bahwa serangan terhadap pangkalan udara Rusia dilakukan oleh unit Turkoman yang didukung oleh Ankara.

”Kami tahu siapa mereka. Kami tahu siapa dan berapa banyak mereka membayar provokasi ini,” lanjut Putin, tanpa menyebutkan pihak yang dia maksud, seperti dikutip Russia Today, Jumat (12/1/2018).

Basis militer Rusia di Suriah menjadi sasaran dua serangan besar dalam dua minggu terakhir. Pertama pada malam Tahun Baru dan kedua pada 6 Januari.

Serangan pertama dilakukan penyusup yang dipersenjatai dengan mortir. Dua tentara Rusia terbunuh dan sebuah pesawat tempur di Pangkalan Khmeimim rusak.

Serangan kedua melibatkan 13 pesawat tanpa awak atau drone yang dilengkapi bom. Semua pesawat nirawak mini itu ditembak jatuh atau dipaksa mendarat melalui sistem peperangan elektronik yang dilakukan oleh pasukan Rusia.

“Serangan di Pangkalan Udara Khmeimim dipersiapkan dengan baik,” kata Putin. ”Kami tahu kapan dan di mana kendaraan udara tak berawak itu diserahkan dan berapa banyaknya.”

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Rusia mengungkap kejanggalan dalam serangan belasan drone tersebut. Kejanggalan yang dimaksud adalah munculnya pesawat mata-mata P-8 Poseidon Amerika Serikat (AS) di sekitar lokasi serangan. Pesawat pengintai itu terlacak radar Rusia.

Presiden Putin telah melakukan pembicaraan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Keduanya sepakat mengintensikan koordinasi upaya militer dan layanan khusus kedua negara dalam memerangi teroris di Suriah.

Hubungan antara Moskow dan Ankara pernah rusak setelah Angkatan Udara Turki menembak jatuh pesawat pembom Su-24 asal Rusia, yang terlibat dalam operasi anti-teroris di Suriah, pada bulan November 2014. Seorang pilot Rusia terbunuh dalam insiden tersebut. Turki saat itu mengklaim, pesawat itu melanggar wilayah udaranya, namun Rusia membantah klaim tersebut.

(sindonews.com)