Akibat Longsor, 13 KK Terisolasi di Desa Tugu Utara Kabupaten Bogor

oleh

Korban longsor di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor sangat berharap bantuan pemerintah. Penelusuran Radar Bogor (Pojoksatu.id Group), masih sebanyak 13 kepala keluarga (kepala keluarga) masih mengungsi di rumah–rumah kerabat dan bangunan vila di sekitaran kampung.

Lokasi terdampak longsor terparah berada di Kampung Cisuren RT 4/4, Desa Tugu Utara. Longsoran tanah dari tebingan menghancurkan rumah Muhammad Rusdiana (34). Rusdiana selamat dari longsor karena pada saat kejadian, Senin (5/2) pukul 08.00 pagi, ia bersama istri dan anak anaknya berada di rumah mertua.

”Memang kalau musim hujan saya tidak di sana. Paling hanya pagi atau siang ke sana, matiin lampu. Sorenya kembali lagi untuk dinyalain,” akunya kepada Radar Bogor (Pojoksatu.id Group).

Ustaz di salah satu majelis itu sudah enam tahun tinggal di rumah tersebut. Dia menyadari, lokasi tempat tinggalnya rawan terkena longsor.

”Akibat longsor, semua barang sudah tidak ada, tertimbun. Dari mulai kulkas, mesin cuci, semuanya sudah tidak ada. Bahkan kitab pun sudah lenyap,” tuturnya.

Untuk sementara, Rusdiana beserta keluarga akan tetap tinggal di rumah orang tuanya. Dia juga masih berpikir ulang utnuk membangun kembali rumahnya tersebut. ”Ya, saya cuma pasrahin kepada pak RT dan pak lurah saja, gimana baiknya,” ungkapnya.

Rumah Rusdiana yang hancur oleh longsor seluas 130 meter, dengan ukuran bangunan 6×9 meter. Rumah bercat ungu itu kini sudah menjadi puing. Diwawancarai di waktu yang sama, Ketua RT 04/04 Kampung Cisuren, Midi, mengatakan warganya memang sudah mengantisipasi longsor di musim hujan seperti sekarang.

”Memang suka ada saja longsor setiap hujan. Tahun lalu juga ada, tapi dampaknya tidak ke warga. Di sini kebanyakan villa. Warga yang tinggal di titik rawan longsor juga sudah siaga,” katanya.

Selain Rusdiana, masih ada 13 KK yang mengungsi di sekitaran rumah mereka di wilayah Cikoneng, kampung yang sama. Midi mengungkapkan, dua akses untuk menuju kampung tersebut terputus karena tanah yang menutupi jalan. Akibatnya logistik yang ada sementara tidak bisa terkirim sempurna.

”Ada dua akses menuju Cikoneng. Yang pertama melewati Citamiang, hanya bisa lewat motor, itupun masih rawan. Yang kedua lewat Curug Cisuren, itu hanya bisa dilewati jalan kaki saja,” kata dia lagi.

(POJOKJABAR)