Kampung Kelinci di Desa Gunung Mulya Kec. Tenjolaya Kab. Bogor

November 24 2011 oleh  
Kategori Bogor Barat Terkini, Ekonomi, Koperasi dan UKM

Sejak puluhan tahun silam, Kampung Budi Asih yang terletak di Desa Gunung Mulya (Desa Pemekaran Gunung Malang, Red) bertebaran kelinci-kelinci disetiap pekarangan rumah warga, bahkan hingga kedalam rumah pemiliknya.

Desa Gunung Mulya yang memiliki luas kurang lebih 388,535 hektar, memiliki jumlah penduduk 6.764 jiwa dan 1827 kepala keluarga ini merupakan wilayah pemekaran Desa Gunung Malang memiliki komunitas peternak kelinci yang sudah turun temurun. Komunitas itu tersebar di lingkungan Rw01, 02, 03, 04, 10 terletak di kaki gunung Salak Bogor dan berbatasan dengan Desa Setu Daun (sebelah utara), Desa Tapos II (sebelah barat), Desa Gunung Malang (sebelah selatan), dan Desa Suka Jadi Kecamatan Taman Sari (sebelah timur ).

Dikisahkan, pada masa itu rumah warga berbentuk rumah panggung tiang pendek, sehingga kelinci-kelinci itu dengan sendirinya menerobos kolong rumah sebagai sarang mereka dan akhirnya beranak pinak. Pada tahun 2000-an, setiap minggu mulai berdatangan orang-orang dari perkotaan, termasuk para tengkulak untuk membeli kelinci di desa tersebut. Dialah, Aris Rizal, yang saat itu sebagai supplier kelinci yang berasal dari peternak-peternak di desanya.Oleh masing-masing pemilik rumah, kelinci itu pun dipelihara dan diberi makan berupa daun umbi dan hijauan lainnya pada malam hari saat kelinci-kelinci tersebut keluar untuk mencari makan. Ketika itu keberadaan kelinci-kelinci ini bukan komoditi yang diperjual belikan, kecuali kebutuhan konsumsi protein hewani bagi keluarga.

Hal ini berlangsung bertahun-tahun dan turun temurun. Hingga sekitar tahun 1990-an mulai adanya inisiatif warga untuk membuat kandang-kandang kelinci dengan cara-cara tradisional yang bukan hanya untuk keperluan konsumsi protein hewani bagi keluarga semata, melainkan untuk diperjual-belikan, bahkan menjadi mata pencaharian warga.

“Saat itu per ekor kelinci hanya dihargai Rp.2000,- per ekor, uang yang terkumpul dibelanjakan bahan pokok sembako oleh masing-masing peternak,” katanya saat dialog interaktif di radio 93 Teman FM, Jum’at (30/9/2011) petang.

Aris Rizal lebih lanjut menceritakan, pada pertengahan tahun 2009 pernah datang petugas dari Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Perikanan (Keswan Disnakkan) Kabupaten Bogor ke lokasi peternakannya. Petugas itu memberikan masukan-masukan cara bertenak secara benar.

“Saya lupa nama petugas itu, tapi dia sudah banyak membuka wawasan saya soal berternak dengan benar termasuk membuat kelompok tani ternak agar kesejahteraan meningkat pula,” tambahnya.

Sejak itulah, mulai dibimbing untuk mewujudkan Kelompok Tani Ternak Kelinci di desa tersebut, yang hingga kini seluruh peternak yang ada adalah menjadi anggota aktif, yang hingga kini memperoleh binaan dari Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI).

Tak jelas siapa orang pertama yang menjuluki kampong itu sebagai “Kampung Kelinci”. “Sebab, kebanyakan orang dari perkotaan yang datang menyebutnya kampung kelinci, bukan menyebut kampung Budi Asih,” kenangnya.

Masih Hadapi Kendala

Sembilan puluh persen warga di Kampung Budi Asih Desa Gunung Mulya, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor telah sepakat untuk merubah paradigma jual beli anak kelinci menjadi budi daya ternak daging kelinci.

Hal ini terungkap dari seorang peternak, yang juga Ketua Kelompok Tani Ternak Kelinci Budi Asih, Aris Rizal. Setelah puluhan tahun lamanya sebagian besar peternak setempat hanya mengandalkan cara-cara tradisional yang sudah turun temurun.

Lokasi geografis yang mendukung dan warisan turun temurun itulah yang menjadikan Kampung ini sebagian besar bermatapencaharian sebagai peternak kelinci, disamping sumber bahan pakan tersedia melimpah. Maka tak heran bila kampung itu dijuluki “Kampung Kelinci”.

“Berternak kelinci memang sangat cocok dikembangkan di kampung kami. Apalagi lahan pertaniannya masih cukup luas sehingga untuk mencari sumber bahan pakan hijau tidak terlalu sulit,” kata Aris Rizal.

Menurutnya, beternak kelinci tidak terlalu sulit asalkan bisa secara rutin dapat menyediakan pakan serta membuatkan kandang yang nyaman bagi hewan ternak itu. “Kalau belum biasa memelihara, memang akan ada anak kelinci yang mati. Namun kalau sudah menggeluti secara benar maka peningkatan jumlah kelinci akan pesat,” ujarnya.

Dia mengatakan, di desanya banyak warga yang memiliki usaha keluarga berupa ternak kelinci dan rata-rata setiap rumah tangga memiliki puluhan ekor kelinci. “Meski belum memenuhi target 100 ekor per bulan, namun kami akan berupaya mencapainya untuk memenuhi permintaan-permintaan,” pungkasnya.

Hal senada dikatakan Suminta Riyahya, Ketua Kelompok Tani Ternak Kelinci Wahana Taruna Karya (Watak) di desa yang sama.Dia pun mengungkapkan kendala yang dihadapi para peternak kelinci ialah modal dan bibit kelinci yang unggul, serta sumber pakan ternak disaat musim hujan tiba.

“Kelinci banyak yang mati dimusim hujan lantaran sumber pakannya tidak cocok yang dapat mengakibatkan penyakit kembung atau buang air cair pada kelinci, sehingga kebanyakan warga menjual ternaknya, lalu membeli bibit lagi setelah musim hujan usai, dan begitu seterusnya,” ungkapnya.

Para peternak di desanya memelihara kelinci hanya berskala kecil meskipun dapat dikatakan sebagai matapencaharian keluarga, apalagi kelinci dapat berkembang biak hingga enam bulan, sedangkan permintaannya membutuhkan waktu enam bulan sekali.

Binaan Koperasi

Ketua KOPNAKCI, Wahyu Darsono mengatakan pencanangan Kampung Kelinci di desa Gunung Mulya, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor ini didasari oleh potensi wilayah tersebut yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai peternak kelinci.

“Tentunya pencanangan itu bertujuan mempromosikan potensi dan peluang usaha ternak kelinci sebagai penyedia daging guna pemenuhan protein hewani bagi keluarga,” kata Wahyu Darsono.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh adanya program swasebada daging nasional yang pada dasarnya adalah kegiatan peningkatan populasi ternak dan pemenuhan kebutuhan protein hewani secara mandiri dengan mengurangi ketergantungan impor.

“Sehingga di perlukan diversifikasi penyediaan sumber protein hewani selain dari ternak besar maupun unggas. Kelinci merupakan ternak alternatif yang mempunyai peluang sebagai penyedia sumber protein hewani yang sehat dan berkualitas,” imbuh pria berkacamata ini.

Tentang KOPNAKCI yang berdiri secara resmi tanggal 17 Mei 2011 dan dibentuk dengan dasar pertimbangan adanya komoditas ternak kelinci saat ini sudah diandalkan sebagai substitusi penghasil protein hewani (daging) dalam peningkatan kualitas SDM masyarakat Indonesia, dan sudah menjadi perhatian dan dicanangkan pemerintah dalam program pengembangan dan realisasinya.

“Oleh karenanya, ntuk mencapai skala usaha ekonomis dan kapasitas produksi yang besar, maka dipertlukan wadah sebagai payung bersama dalam menjalankan kegiatan usaha ternak kelinci, pusat informasi, akses pemasaran dan pembinaan/pemberdayaan kelembagaan usaha tani ternak kelinci,” jelas ketua KOPNAKCI ini.

Lebih lanjut diterangkan, koperasi merupakan wadah yang tepat, selain sedang digalakan gerakan sadar koperasi berbasis komoditas (one village, one product) oleh pemerintah, kelembagaan koperasi juga sesuai dengan prinsip dan orientasi pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Selain itu, perintis pembentukan KOPNAKCI adalah para SMD Tahun 2010 komoditas kelinci diwilayah Bogor dan beberapa petani peternak kelinci lainnya. Koperasi yang dibentuk diharapkan akan menjadi wadh integrasi usaha ternak kelinci secara komprehensif, sehingga mampu mendukung daya saing dalam skala ekonomis yang sesuai dengan kondisi dan situasi pasar serta relevan dengan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
(Sumber : www.beritabogor.com, www.kopnakci.blogspot.com)

Tatiek Kancaniati : Bank Syariah Berkah!

Siapa yang tak kenal Tatiek Kancaniati. Sosok perempuan yang punya semangat luar biasa khususnya untuk pemberdayaan perempuan. Komitmennya sebagai seorang Social Eunterpreneur Leader yang berdaya terus ia buktikan dengan berbagai kegiatan-kegiatan social kemasyarakatan. Bersama teman-teman dan warga Tegal Waru ia mendirikan Kampung Wisata Bisnis Tegal Waru Bogor.

Kombinasi yang sangat luar biasa dimana selain memberdayakan masyarakat , ia juga bisa mengelola bisnis dengan cara yang berkah.

Bicara perbankan syariah, baginya hadirnya bank-bank syariah merupakan solusi bagi orang untuk menyimpan uangnya secara aman dan berkah.

“sejauh ini lahirnya bank-bank  syariah sangat luar biasa. Dimana menjadi solusi bagi para muslim menyimpan uangnya secara aman dan berkah,”akunya ketika dihubungi era muslim, Senin (!4/11).

Tatiek juga menegaskan bahwa seharusnya  di Indonesia tidak ada lagi bank konvensional.

“Seharunya Indonesia tidak ada lagi bank konvensional selain jumlah penduduk islam mayoritas , sistem bagi hasil sudah diakui oleh para non muslim lebih menguntungkan banyak pihak,”ungkap Tatiek yang mengaku menjadi nasabah bank syriah semenjak bank syariah hadir di Indonesia.(jwt)
sumber: ib.eramuslim.com

Kampoeng WisataBisnis Tegalwaru

Perlunya pembekalan terhadap anak memang harus dilakukan sejak usia dini. Inspirasi tentang profesi misalnya, tentunya hal itu menjadi sangat penting bagi anak untuk bisa lebih berkembang lagi dalam mengetahui berbagai macam profesi. Idealnya, anak-anak kebanyakan hanya mengetahui tentang profesi yang itu-itu saja. Dalam artian hanya mengacu dengan apa yang mereka lihat disekitar tanpa mengembangkan keinginannya sendiri.
“Itulah kenapa kami melakukan studi wisata ini, supaya anak bisa membuka wawasan tentang pengenalan profesi,” Ujar Lela Nurlela, Pengelola Sekolah Alam Peradaban Cilegon, ditemui saat melakukan studi wisata ke Kampung Tegal Waru Ciampea, Bogor. Kamis, (29/09) kemarin.

Lela menjelaskan, dengan memperkenalkan kepada anak tentang manfaat tumbuh-tumbuhan alam yang ada dan memperkenalkan bagaimana cara memproduksi. Mereka bisa mendapatkan inspirasi untuk bisa mengembangkan ide dan keinginan yang mereka inginkan. Semisal menjadi pengusaha, peneliti dan banyak lainnya.

“Ya seperti sekarang ini, dengan tanaman yang ada di sini. Anak-anak bisa mendapatkan tambahan pengetahuan,” jelasnya ketika berada di lokasi tanaman herbal.

Sementara itu, Tatiek Kancaniati selaku Direktur Yayasan Kuntum mengungkapkan. Selain memperkenalkan kepada anak tetang manfaat tumbuhan dan proses dalam sebuah produksi, dirinya juga memberikan inspirasi bisnis agar mereka bisa mengetahui ide bisnis yang bisa dilakukan di rumah masing-masing. Untuk anak usia Sekolah Dasar (SD) paling tidak mereka bisa tau bagaimana cara proses produksi dan cara pembuatannya. Dan juga, anak-anak tidak perlu jauh-jauh harus menuju kota mana untuk mengetahuinya. Cukup denga keliling Desa Tegal Waru saja mereka bisa mendapat 6 sampai 7 item inspirasi bisnis dalam studi wisata ini.

“Alhamdulilah pihak sekolah juga cukup merespon, karea mereka juga butuh lahan seperti ini untuk melakukan praktek,” ungkapnya.

Kegiatan yang berlangsung hingga sore hari ini diikuti oleh sebagian besar Murid Sekolah Peradaban Cilegon. Pengenalan materi meliputi, proses produksi kerupuk, pebuatan obat-obatan herbal, pembuatan nata de coco dan lokasi-lokasi lain yang ada di Kampung Tegal Waru.

Irbah salah satu peserta yang mengikuti kegiatan tersebut mengatakan, dirinya cukup senang dengan kegiatan ini, disamping memberikan banyak pengetahuan yang belum diketahui. Dirinya juga sangat tertarik dengan dunia sains.

“Senang sekali mas, saya suka sama sains dan cita-cita saya juga ingin menjadi profesor. Karena saya di rumah suka membuat yang aneh-aneh,” katanya saat diwawacaari.

Laporan Kontributor : R Maeilana.

sumber: kotahujan.com, http://www.facebook.com/kampoengwisatategalwaru

Mengunjungi Pengrajin Opak di Leuwiliang

Pilih Bertahan, Dibantu Anak yang masih Pelajar

opak

Ilustrasi Opak

Jika berkunjung ke Kecamatan Leuwiliang, rasanya kurang lengkap jika tidak membawa oleh-oleh makanan khas daerah ini. Salah satunya yang cukup terkenal adalah opak.

Sekitar pukul 08:00, halaman rumah Zainal Abidin (35) sudah dipenuhi jemuran opak. Puluhan tahun, Kampung Lebakpasar, RT 04/05, Desa Leuwiliang, Kecamatan Leuwiliang, ini dikenal sentra produksi makanan opak. Dari puluhan pengrajin, hanya Zainal yang masih bertahan.

Untuk pemasaran, Zainal tidak mengalami kesulitan karena sudah mempunyai penampung untuk menjual hasil produksi di Pasar Leuwiliang dan Ciampea.
Setiap hari Zainal selalu menjual opak kepada pengecer dengan harga Rp8.000 per kilogram. Memasuki Ramadan hingga Lebaran, naik menjadi Rp10.000 per kilogram.

Setiap hari dia dan beberapa saudaranya hanya mampu memproduksi opak 60 kilogram. Namun, saat bulan puasa naik menjadi 120 kilogram. “Jika sudah Lebaran, harga dan permintaan opak akan kembali normal seperti biasa,” ujar pria tiga anak ini.

Dalam mengolah opak sehari-hari, dia dibantu anak pertamanya Jesi (14) yang masih duduk dibangku SMP dan Jidan (10) kelas IV SD. Sementara anak ketiganya yang masih balita, Zaskia (5), belum bisa membantu usaha orangtuanya. “Biasanya, pulang sekolah saya membantu bapak kerja,” ucap Jidan.

Delapan tahun lalu, sebelum terjun dalam kerajinan opak, Zainal berjualan sayuran di Pasar Leuwiliang. Dia mengaku sempat meragukan usaha opak. Namun karena dinilai memiliki potensi yang menjanjikan, dia mulai tertarik menjalankan usaha warisan keluarganya tersebut.

Dia berharap ada bantuan dari pemerintah berupa modal karena selama ini belum pernah dirasakannya. Menikmati opak sebagai makanan ringan cukup mudah, tinggal digoreng seperti memasak kerupuk. Apalagi jika dikonsumsi pada musim hujan dijamin akan menambah cita rasa semakin lezat. (*)
(Lucky L Hakim) sumber : radar-bogor

Galeri

  • Advertisement

    Wirausaha