PENYANYI GAMBUS DARI KECAMATAN TENJOLAYA
February 16 2012 oleh admin
Kategori Bogor Barat Terkini, Khas Daerah, Seni dan Budaya, Tokoh
Qasidah adalah musik padang pasir yang bernafaskan islam. Adalah Ibu Lilih Sholihat seorang penyanyi kelahiran Desa Cibitung Tengah Kecamatan Tenjolaya – Bogor, semasa kecilnya senang dengan menyanyikan lagu-lagu Qasidah dan irama padang pasir. “Jika ada acara di kampung pasti Ibu Lilih sering naik panggung dan menyanyikan lagu-lagu Qasidah Nur Asiah Jamil” Kata tetangganya. Memang Nur Asiah Jamil adalah penyanyi favorit dia, sampai suaranya pun mirip Nur Asiah Jamil.
Ibu Lilih Sholihat adalah seorang ibu yang mengelola Lembaga Pendidikan Alhikmah di Cibitung Tengah, dan aktif di pengajian Ibu-ibu tingkat RT sampai kecamatan Tenjolaya. Menyanyi hanyalah hoby dari kecil. Sering dijemput untuk menyanyi di wilayah Bogor oleh beberapa group Orkes Gambus, salah satunya Group Nurshobah yang di pimpin oleh Bapak Arsa Sukarsa. Karena suara bagus maka Group Nurshobah mengajak Rekaman di Jakarta dan Alhamdulillah sekarang sudah mengeluarkan album kompilasi dengan penyanyi gambus lainnya. Ibu lilih menyanyikan tiga lagu dengan judul Siapa Tuhanmu, Bil khoiri dan Ya Malik.
Ya Malik – Lilih Sholihat :: Orkes Gambus Nurshobah
Siapa Tuhanmu – Lilih Sholihat :: Orkes Gambus Nurshobah
sumber : Bogor Barat Online
Temukan Topeng Emas yang Kini Berada di Kantor Puslitbang Arkenas
May 23 2009 oleh admin
Kategori Bogor Barat Terkini, Khas Daerah, Seni dan Budaya
Kabupaten Bogor memiliki museum tempat penyimpanan berbagai jenis benda purbakala. Museum yang disebut sebagai Museum Pasirangin yang berada di lereng bukit dengan ketinggian 210 m dpl, berada di Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang. Apa saja benda purbakala yang menjadi koleksi muesum Pasirangin?
SIAPAPUN yang pertama kali mengunjungi Museum Pasirangin akan mengalami kebingungan. Pasalnya, tidak ada ciri khusus yang menandakan bahwa bangunan yang berada ditengah pemukiman warga yang jaraknya sekitar 50 meter dari jalan Provinsi adalah tempat mengoleksi ratusan benda purbakala yang tersebar diwilayah Kabupaten Bogor. Apalagi bangunan tersebut tidak ada bedanya dengan rumah warga lainnya.
Berdasarkan keterangan dari Pamong Situs Museum Pasirangin Saefulloh (33), penggalian barang bersejarah di sekitar Pasirangin sudah mulai dilakukan tahun 1970 hingga 1975 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) yang dipimpin R.P Soejono.
Penggalian tersebut berhasil menemukan berbagai jenis artefak yang terbuat dari batu, besi, perunggu, tanah liat obsidian, kaca serta gerabah berupa periuk.
Benda yang berhasil ditemukan adalah kapak perunggu bentuk ekor burung seriti yang berfungsi sebagai alat potong, Candrasa, tongkat perunggu, bandul kalung perunggu, manik-manik batu, kaca, ujung tombak maupun kapak besi, gerabah serta alat-alat obsidian.
Apabila dibandingkan jumlah serta tipe benda-benda temuan, diperkirakan Pasirangin merupakan sebuah situs yang pernah dihuni pada masa logam awal di Indonesia sekitar tahun 600 hingga 200 tahun sebelum masehi. “Pada masa tersebut, kepercayaan pemujaan terhadap nenek moyang masih sangat kental,” jelasnya.
Bahkan, tahun 1972 di Pasirangin ditemukan sebuah topeng emas yang diperkirakan telah berumur 1.000 tahun sebelum masehi. Topeng tersebut pada zamannya digunakan sebagai salah satu perlengkapan pemujaan.
Namun, kata Saefulloh, topeng tersebut saat ini tidak berada di museum Pasirangin tapi dibawa dan kini berada di Kantor Puslitbang Arkenas, Jakarta. “Saya berharap topeng dapat kembali kesini sebagai penambah koleksi,” katanya.
Ia mengatakan, saat ini jumlah pengunjung yang datang ke museum masih minim. “Ya, Setiap harinya paling ada lima hingga sepuluh orang. Tapi kalau sedang sepi tidak ada pengunjung sama sekali.” katanya.
Menurutnya mayoritas pengunjung berasal dari kalangan pelajar untuk memenuhi tugas yang diberikan sekolahnya. Sedangkan untuk pengunjung umum, dinilainya masih sangat kurang.(*)
Istana Bogor Diserbu Murid SD
May 20 2009 oleh admin
Kategori Bogor Barat Terkini, Seni dan Budaya, Sosial Budaya
HARI kedua pelaksanaan Istana Open, Selasa (19/5), dimeriahkan ratusan murid SD yang datang dari berbagai wilayah di Bogor. Sedikitnya 500 anak dari berbagai SD menyerbu Istana Bogor untuk melihat dari dekat istana peninggalan Belanda tersebut.
Mereka dengan sabar menunggu giliran menuju ke Istana Bogor yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi pemberangkatan di halaman gedung DPRD Kota Bogor. Peserta Istana Open diberangkatkan berdasarkan kelompoknya masing-masing. Setiap kelompok berjumlah 300 orang.
”Ini untuk mengurangi kepadatan di dalam istana, makanya dibagi dalam beberapa kelompok,” kata Ade Syarif Hidayat, Kepala Dinas Periwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor, saat meninjau proses pemberangkatan peserta Istana Open, kemarin pagi.
Rudi (9), murid SD IV Cisarua mengaku gembira bisa melihat langsung Istana Bogor. Dia tidak terlihat lelah, meski harus menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer dari sekolahnya yang berlokasi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. ”Saya belum pernah masuk ke Istana Bogor, makanya saya senang ada kegiatan ini,” kata Rudi saat ditemui sedang menunggu giliran diberangkatkan ke Istana Bogor.
Menurut Ade Syarif, Istana Open yang sudah memasuki tahun ke-6 ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Jadi Bogor (HJB) ke-527. Ada yang berbeda dalam Istana Open kali ini, yakni setiap peserta bisa langsung berekreasi di Kebun Raya Bogor usai melihat Istana Bogor. ”Habis melihat Istana Bogor, bisa langsung jalan-jalan di Kebun Raya Bogor,” ujar Ade Syarif.
Hingga saat ini, sudah hampir 23.000 orang yang mendaftar. Karena jumlahnya yang banyak, pihaknya sudah menutup pendaftaran bagi warga yang ingin melihat Istana Bogor. ”Kita batasi karena pelaksanaannya hanya tujuh hari, yakni tanggal 18, 19, 20, 25, 26, 27, dan 28 Mei 2009,” katanya.
Pantauan Warta Kota, sejak pukul 08.00 halaman gedung DPRD Kota Bogor sudah dipadati peserta Istana Open. Sebagian besar peserta adalah murid SD dan SMP yang datang dari berbagai wilayah Bogor. SD Tugu Selatan bahkan sampai mengerahkan 700 muridnya untuk mengikuti kegiatan Istana Open ini. (Soewidia Henaldi)
(warta kota)
Galeri
April 21 2009 oleh admin
Kategori Agama, Bogor Barat Terkini, Cindera Mata, Desa, Ekonomi, Industri, Kabupaten, Kecamatan, Kehutanan, Kesehatan, Kesejahteraan Sosial, Khas Daerah, Koperasi dan UKM, Makanan Khas, Olah Raga, Pariwisata, Pemerintah, Pendidikan, Perdagangan, Perikanan, Perkebunan, Pertambangan, Pertanian, Peternakan, Politik, Seni dan Budaya, Serba Serbi, Sosial Budaya, Sumber Daya Alam, Transportasi
Prasasti Ciaruteun
April 21 2009 oleh admin
Kategori Pariwisata, Seni dan Budaya

Prasasti Ciaruteun dengan sepasang tapak kaki dan tulisan dalam bahasa Sangsekerta yang tercetak diatasnya
Batu besar dengan berat delapan ton itu nampak kokoh sekali bernaung dibawah cungkup. Sepasang “pandatala” (tapak kaki) nampak tercetak jelas pada bagian atasnya dihiasi dengan sederet prasati berhuruf Palawa dan berbahasa Sangsekerta. Konon tapak kaki tersebut adalah bekas tapak kaki Maharaja Purnawarman yang memimpin dan menguasai kerajaan Tarumanegara.
Dari informasi yang diberikan oleh juru kunci lokasi tersebut, bahwa pada awalnya letak batu tersebut adalah di pinggiran sungai yang terletak kurang lebih 100 meter di bawah lokasi dimana batu prasasti tersebut berada saat ini. Dan pada tahun 1981 batu itu diangkat dan diletakkan di bawah cungkup seperti apa yang terlihat sekarang. Karena lokasi awal batu tersebut di tepi Sungai Ciaruteun, maka batu tersebut dikenal dengan nama Prasasti Ciaruten.
Prasasti Ciaruteun ditulis dalam bentuk puisi 4 baris, berbunyi “vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam”. Yang dapat diartikan sebagai “Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara”.
Tak jauh dari lokasi ini terdapat pula tiga situs lainnya yakni Prasasti Kebun Kopi (S006.52774 E106.69037), Situs Congklak (S006.52661 E106.69022) dan Prasasti Batutulis (S006.52328 E106.69109).
Prasasti Kebun Kopi dinamakan demikian karena prasasti ini diitemukan di kebun kopi milik Jonathan Rig, dibuat sekitar 400 Masehi (H Kern 1917). Prasasti ini dikenal pula dengan Prasasti Tapak Gajah karena terdapat cetakan sepasang kaki gajah beserta juga sebuah prasasti yang berbunyi “jayavis halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam” (Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa). Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguasa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan I Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah.
Berbeda dengan kedua prasasti diatas, pada situs Batu Congklak penulis sama sekali tidak menemukan artikel-artikel terkait yang menjelaskannya. Pada situs Batu Congklak ini juga tidak terdapat sebuah prasasti apapun. Pemberian nama Batu Congklak untuk situs ini disebabkan batu-batu yang ada disana meiliki cekungan mirip dengan permainan congklak yang telah lazim dikenal masayrakat. Di situs ini pula tidak terdapat cungkup yang menaunginya, sehingga praktis akan terkena sinar matahari dan hujan secara langsung.
Sekitar 300 meter dari situs Batu Congklak ke arah Utara, menyusuri kebun singkong dan jalan setapak di tepi sungai, terdapat prasasti Batu Tulis. Ukuran prasasti ini paling besar dibandingkan dengan ketiga prasasti lainnya, dan bagian bawahnya masih terendam aliran sungai. Ukurannya yang cukup besar dan tentunya mempunyai bobot yang lebih berat ini pulalah yang mungkin menjadi alasan mengapa prasati ini tidak dipindahkan ke lokasi yang lebih memadai. Sederet tulisan dalam bahasa Sangsekerta juga terlihat cukup jelas pada batu ini, namun sayang sekali tidak ada literatur yang menjelaskan maknanya
Secara keseluruhan Prasasati Ciaruteun, merupakan objek wisata mengandung nilai sejarah yang cukup menarik untuk dikunjungi. Hanya saja untuk mencapainya, pengunjung harus berjalan kaki kurang lebih 1,5 kilometer dari jalan raya atau dapat pula menggunakan fasilitas ojek yang tersedia. Tidak adanya areal parkir yang memadai bagi kendaraan roda empat juga menjadi kendala, karena praktis kendaraan yang parkir akan menyita badan jalan dan cukup membahayakan dikarenakn lokasi parkir tersebut dekat dengan tikungan jalan. sumber : navigasi.net



Folders













