
Angutan Kota (Angkot) Tumaritis
Griya Salak Endah 2 berada di wilayah Bogor Barat, untuk mencapai ke perumahan Griya Salak Endah 2 ini bisa di lalui oleh kendaraan umum ataupun pribadi. Adapun route yang kami tahu adalah sebagai berikut:
Untuk kendaraan pribadi baik mobil maupun motor. Dari arah Jakarta Timur langsung melalui jalur jalan raya Jakarta-Bogor. Dari perempatan Jalan Baru belok kanan melalui jalan baru, dari jalan baru masuk ke jalan Yasmin, dari jalan yasmin lurus ke arah bubulak (terminal bubulak), dari arah terminal bubulak ambil jalur ke Ciampea/Leuwiliang, sesudah lewat kampus IPB Dramaga ada 3 pertigaan, pertigaan Cihideung Proyek, pertigaan Babengket, pertigaan Jembatan Cinangneng. Dari pertigaan jembatan Cinangneng belok ke kiri (arah Gunung Salak). Dari pertigaan jembatan Cinangneng sekitar 2 KM ada belokan ke kanan (Gerbang Griya Salak Endah 2) bisa di tanyakan ke penduduk sekitar.
Untuk pengguna jasa angukutan umum Bis, anda bisa turun di terminal Bis Baranang Siang Bogor. dari situ anda naik kendaraan (angkutan Kota) jurusan Terminal Bis – Bubulak dengan trayek nomor 03, tapi anda harus tanyakan dulu Laladon apa bubulak. Kalau bubulak sebaiknya anda jangan naik karena tujuannya ke terminal laladon (Angkot 03 trayek resmi Terminal Bis – Bubulak, tapi trayek ini juga resmi ke Laladon, hanya tidak tercantum Terminal Bis – Laladon). Dari laladon anda naik mobil dengan tulisan TUMARITIS, turun di Gerbang Griya Salak Endah 2 (Tanyakan ke supirnya turun di Perumahan Griya Salak Endah 2)
Untuk pengguna jasa transportasi Kerata Api (KRL) dari stasiun kerata api anda jalan kaki sekitar 200 meter menuju PLN atau Sinar Matahari Dep Store. Dari situ anda naik yang ke arah Laladon (Trayek sama yaitu nomor 03). Dari laladon anda naik mobil dengan tulisan TUMARITIS, turun di Gerbang Griya Salak Endah 2 (Tanyakan ke supirnya turun di Perumahan Griya Salak Endah 2)
Informasi Tarif angkutan (sementara sebelum kenaikan):
- Terminal Bis Baranang Siang – Laladon Rp. 3.000,-
- Stasiun Kereta Api – Laladon Rp. 2.000,-
- Tumaritis sampai ke gerbang GSE2 Rp. 4.000,- s.d 5.000,- (Tarif resmi Rp. 4.000,- tapi kadang supir meminta lagi jadi Rp. 5.000,-)
Untuk sementara informasi ini yang kami berikan, jika belum lengkap silahkan tambahkan di komentar.
Seluruh warga perumahan Griya Salak Endah 2 berbondong-bondong datang ke tempat pemilihan suara yang bertempat di jalan Blok D2-D3. Meskipun rintik hujan tapi tidak mematahkan semangat warga GSE2 untuk mengadakan pemilihan RT tersebut.
Adapun calon dari tiap-tiap blok.Dari blok A Bapak Anwar, dari blok B Bapak Andri, dari blok C Bapak Anas, dari blok D Bapak Yadi. Selain warga yang hadir turut datang juga Kepala Desa Cinangka, Ketua DPD, ketua RW 05, keamanan Kompleks Griya Salak Endah 2 dan pihak developer Gemilang Property. Menurut panitia, untuk terlaksana acara ini dana dihimpun dari warga GSE2 serta sumbangan dari pihak developer.
Akhirnya Kompleks Griya Salak Endah 2 menetapkan ketua RT baru yaitu Bapak Anwar dari hasil pemilihan suara terbanyak dan terbentuklah RT.05 RW.05. Semoga program-program dan permasalahan di GSE2 ini bisa terwujud dan terselesaikan dengan baik.
Facebook Griya Salak Endah 2
Perumahan Griya Salak Endah II adalah perumahan Rakyat yang berada di wilayah desa Cinangka kecamatan Ciampea. Lebih dari dua bulan ini penghuni kompleks tersebut merasa kekurangan air bersih terutama Blok B dan Blok C. Menurut warga kompleks, blok C adalah paling parah dalam pendistribusian air bersih dari toren (penampungan air), “Kami susah mendapatkan air, kadang sehari hanya mengalir sekali itu juga waktu hanya malam dan hanya bisa memenuhi 1 bak saja” tutur penghuni Blok C. “Kami kadang meminta air ke tetangga blok D untuk mendapatkan air atau numpang mandi di tempat tetangga yang kebetulan masih saudara” tuturnya pula.
Padahal pihak developer sudah menyediakan toren untuk setiap blok. Toren blok A dan blok B sebenarnya sudah terpisah, yang jadi kendala kenapa blok B selalu tidak ada air. Pantauan kami langsung di perumahan GSE II blok B memang toren untuk ke Blok B sudah mencukupi hanya air yang menuju ke blok B2-B3 tidak sampai, walapun ada tapi tidak sampai ke bak penampungan di kamar mandi.
Masyarakat Komplek Perumahan Griya Salak Endah II terutama Blok B2-3 menginginkan perbaikan dari pihak Developer supaya masalah air bersih ini diperhatikan, karena kegiatan sehari-hari seperti mencuci, masak, mandi tidak terganggu lagi.
Gambar: http://www.gemilangproperty.com/gse2
Penulis: Warga Kompleks GSE II
Tags: Babakan Nyamplung, ciampea, Cinangka, Desa Cinangka, Griya Salak Asri, Griya Salak Endah, Griya Salak Endah 2, Griya Salak Endah II, GSA, GSE, GSE2, Pasir Oray, tenjolaya
Tak di sangka pengembang perumahan Gemilang Property membuat sebuah perumahan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, salah satunya Griya Salak Endah II. Berada di wilayah Kecamatan Ciampea Desa Cinangka, lokasi yang tepat dengan background Gunung Salak. Letaknya ada di bawah perumahan Primkopol (Griya Salak Asri). Untuk menuju ke sana tidaklah susah, dari Stasiun kereta Bogor hanya dua kali naik angkutan umum, Angkot bernomor 02 atau 03 yang ke terminal Laladon dan diteruskan dengan angkot TUMARITIS lalu turun di gerbang perumahan Griya Salak Endah II. Perjalanan 2 sampai 2.5 jam bisa ditempuh dari Jakarta dengan kendaraan roda dua.
Mendambakan rumah sederhana dengan harga murah mungkin Griya Salak Endah II alternatif pilihan sebagian rakyat dan penduduk Bogor, bahkan ada penduduk luar Bogor juga yang membeli rumah di sana. Ragam profesi pengisi rumah di sana, mulai dari tukang gorengan sampai kerja kantoran berbaur sangat akrab. Jalan sebagian sudah di hotmix membuat aman bagi pengendara sepeda motor, bahkan pedagang sayuran dan pedagang lainnya sudah banyak yang keliling komplek tersebut. Tak mengherankan penduduk sekitar pun kadang menjajakan hasil pertanian seperti ubi dan singkong dengan harga murah, bahkan air minum isi ulang pun tidak sulit mencari, dengan SMS ke pemilik air isi ulang bisa di antar ke perumahan hanya dengan 4.000 rupiah. Suara kentongan satpam mulai pukul 11 malam, pukul 1 dan 3 dini hari membuyarkan keheningan, Suasana aman nyaman dan asri memang dambaan masyarakat kompleks. Lebih dari 200 unit telah terjual Walaupun sudah terisi beberapa rumah tapi masyarakat yang sudah mengisi rata-rata betah di sana.
Tak ada gading yang tak retak, memang di sisi keindahan, asri dan aman ada pula kekurangannya. Penyebaran Air dari Tower pengisi air ke perumahan belum merata terutama ke Blok C, bahkan beberapa minggu ini air sering mati karena Tower kosong dengan air. “Saya dari kemarin tidak mandi karena air tidak mengalir, dan walaupun ada tapi ke Blok saya tidak selalu naik” kata seorang penduduk komplek yang mengisi Blok C. Tapi dengan kekurangan tersebut mudah-mudahan pihak pengembang bisa memperbaiki masalah tersebut, karena air adalah sumber kehidupan dan kebutuhan sehari-hari.
Tags: bogor, bogor barat, ciampea, Cinangka, Griya Salak Endah, kampus IPB, KPR, perumahan rakyat, Primkopol, rumah asri, rumah bogor, rumah JABOTABEK, rumah murah, rumah sederhana, tenjolaya
RUMPIN - Emosi warga Kampung Cikoleang, Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, terkait truk besar yang sering melintasi wilayah itu sehingga merusak jalan belum mereda. Mereka kemarin kembali menyandera empat truk beserta sopirnya.
Ratusan warga Cikoleang berkumpul sejak pukul 08:00 di perbatasan kampung mereka. Warga bermaksud memblokir truk-truk besar pengangkut pasir agar tidak masuk ke wilayah itu. Sebagian besar sopir yang melihat aksi itu memutarbalik kendaraannya.
Hingga pukul 16:00, massa masih memblokir Jalan Raya Cikoleang. Empat truk besar pengangkut pasir yang memaksa masuk akhirnya ditahan.
Salah satu sopir yang truknya disandera warga, Ali, menuturkan, saat itu dirinya bermaksud pulang ke rumahnya di Desa Batujajar, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, setelah membuang abu ke wilayah Serpong, Banten. “Saya tidak tahu mengapa warga menahan kendaraan saya,” keluhnya.
Aksi warga tersebut cukup mengganggu pengguna jalan lainnya. Muspika Rumpin kemudian mengajak perwakilan warga dan sopir berdialog mencari solusi. Dialog menghasilkan kesepakatan yakni truk besar dilarang melewati Jalan Raya Cikoleang, sedangkan truk kecil tetap diperbolehkan melintas.
Menurut keterangan seorang warga Cikoleang, Umuh, truk besar pengangkut pasir sejak September 2008 meresahkan warga. Jika musim hujan, lumpur selalu memasuki halaman rumah warga.
“Lumpur yang awalnya berada di jalan terdorong ke pinggir hingga ke rumah kami karena dilalui truk-truk besar itu. Sebelumnya di sini tidak ada truk besar,” tutur Umuh kepada Radar Bogor, kemarin.
Warga menduga ada pihak yang mengizinkan truk besar pengangkut pasir melewati Kampung Cikoleang. Padahal, jalan tersebut bukan untuk galian C. Setelah kesepakatan itu, personel Polsek Rumpin mengawasi truk-truk besar yang ingin masuk ke Cikoleang.
Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor pun sudah memasang rambu dilarang melintas di pertigaan Lapangan Asem.
“Polisi mempunyai wewenang untuk menindak sopir (truk besar, red) yang nekat melewatinya dan kami akan menilang mereka,” ujar Kapolsek Rumpin AKP Parmin.
Camat Rumpin Wahyu Hadi Setiono membenarkan pemasangan rambu larangan melintas oleh Dishub. Dia menilai itu perlu dilakukan agar warga tidak semakin resah. Padahal ada jalan alternatif yang bisa dilewati (truk besar).
“Jalan yang dulu menjadi jalur khusus truk galian C berada di Kampung Dangdang dan Leuwiranji, Kecamatan Rumpin. Tapi kini dengan alasan menghemat waktu, mereka memilih melewati Cikoleang,” papar Wahyu. Sehari sebelumnya, yakni Rabu (24/6) malam, warga Cikoleang menyandera satu truk besar pengangkut pasir.(rur)
( Radar Bogor)
TENJOLAYA - Industri berbasis pertanian di Tenjolaya perlu mendapat perhatian. Ini guna mendorong pertumbuhan pembangunan ekonomi. Untuk itu, Pemkab Bogor diharapkan dapat mengucurkan bantuan modal bagi petani. “Kesulitan yang kami hadapi dari dulu yakni masalah permodalan,” ujar Ketua Kelompok Tani (Poktan) Agung Tani, Desa Cibitung, Asfahandi kepada Radar Bogor.
Saat ini petani butuh perhatian nyata berupa subsidi pupuk, bibit unggul, obat-obatan hingga modal. “Kami belum merasakan bantuan dari pemerintah,” katanya.
Hal sama disampaikan seorang petani Desa Cibitung, Kecamatan Tenjolaya, Ujang (53). Menurut dia, untuk sekali tanam katuk dengan luas lahan 6.000 meter persegi diperlukan modal sekitar Rp1 juta. “Harga katuk relatif stabil yaitu Rp2.000 per kilogram,” katanya. (luc)
TENJOLAYA – Pemkab belum memperbaiki tanggul rusak di RT 04/ 01 Desa Cibitung Kecamatan Tenjolaya. Tanggul ini jebol tiga bulan lalu. “Kami mendesak pemkab segera memperbaikinya,” ucap salah satu pemilik tambak ikan Yudi Agus (29) kepada Radar Bogor.
Menurut dia, sejak tanggul irigasi jebol, tambak ikan berhenti beroperasi karena kekurangan air. “Jelas sebagai petani kami mengalami kerugian,” katanya.
Yudi mengatakan, setiap dua bulan sekali pihaknya dapat memanen ikan senilai Rp6 juta. Namun sejak irigasi tidak berfungsinya, dia dan rekan-rekannya tak lagi memelihara ikan. Irigasi ini dapat mengairi sekitar 365 hektare sawah dan tambak.
Sedangkan Ketua Kelompok Tani (Poktan) Agung Tani Asfahandi mengatakan, produktivitas hasil pertanian terutama padi terus menurun. Tak heran banyak petani yang beralih menanam palawija.
“Dari pada tidak sama sekali lebih baik menanam yang ada dan mudah saja,” katanya.
Camat Tenjolaya Abdullah Sjirodz mengatakan, pihaknya telah mengajukan usulan perbaikan kepada pemkab soal jebolnya tanggul irigasi Cinangka.
“Untuk sementara perbaikan dilakukan secara swadaya,” ucapnya.Soal kepastian waktu perbaikan, Abdullah belum dapat memberikan kepastian kapan pemkab melalui Dinas Bina Marga dan Pengairan akan memperbaikinya. “Kita tunggu saja. Yang pasti akan diperbaiki,” pungkasnya. (luc) sumber : radar-bogor.co.id
CIBUNGBULANG - Empat desa Di Cibungbulang rawan longsor. Keempat desa itu yakni Situudik, Ciaruteunilir, Girimulya dan Galuga. Begitu penegasan Camat Cibungbulang Ade Hasrat di sela-sela pembukaan pelatihan siaga bencana di Desa Cibatok 2 Kecamatan Cibungbulang, kemarin.
Menurut dia, keempat desa tersebut sudah masuk dalam pemetaan daerah rawan bencana. Soalnya, di daerah tersebut berada di kawasan yang tanahnya labil. “ Setelah kami cek memang benar empat desa rawan longsor,” kata Ade kepada Radar Bogor, kemarin.
Selain bencana longsor, beberapa desa masuk kategori waspada bencana puting beliung.
Sementara itu, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Cibungbulang mengadakan pelatihan siaga bencana. Ini untuk mengantisipasinya meski di desa tersebut sudah terbentuk kader dan posko siaga bencana.
Pelatihan ini rencananya selama dua hari untuk meningkatkan pengetahuan tentang bencana. Diharapkan, para kader siaga bencana bertindak cepat, jika terjadi bencana di wilayahnya.
“Ini juga untuk melakukan revitalisasi pada kader yang sudah terbentuk agar lebih menguasai apa pun yang harus dilakukan,” ucap mantan Camat Tajurhalang ini.
Sedangkan kendalanya, ia sulit mencari anggaran. Sebab pemkab tidak menganggarkan biaya untuk pelatihan siaga bencana.
Hal ini diakui Koordinator Tim Reaksi Cepat TRC) Pencegahan Bencana Kabupaten Bogor Budi Aksomo.
Selama ini, pelatihan hanya berlangsung di kecamatan, itu pun menggunakan anggaran dari swadaya masyarakat. Pihaknya berharap, kedepannya pemkab menganggarkan biaya untuk pelatihan siaga bencana.
“Kami inginnya pelatihan ini setiap bulan untuk memberikan pengayaan materi dan kesiapan kader siaga bencana di desa-desa,” bebernya.
Pada pelatihan kali ini, TRC memberikan materi yang harus diperhatikan dalam menghadapi bencana pada puluhan kader termasuk anggota babinsa Kecamatan Cibungbulang. Rencananya, hari ini pelatihan berakhir dengan simulasi bencana.(dkw)
RUMPIN – Warga Kampung Cikoleang RT 02/04 Desa Sukamulya Kecamatan Rumpin tak berdaya dengan polusi udara di jalan kabupaten.
Bahkan, aparat Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor tak mampu menertibkan kendaraan berat atau tronton pengangkut hasil galian C di Rumpin. Terlebih, oknum desa maupun Pemkab Bogor menerima ‘setoran’ dari pengusaha galian C tersebut.
“Kami minta petugas yang berwenang mengkaji ulang atau tidak memperbolehkan truk-truk itu melintas ke wilayah kami. Soalnya, jalan itu bukan ukuran atau bukan kelasnya,” ujar tokoh masyarakat Cikoleang H Ucun.
Menurut dia, hilir mudik kendaraan roda sepuluh itu mengakibatkan kebisingan. Saat musim kemarau pun jalan yang dilintasi truk menimbulkan debu tebal, sehingga mengganggu kesehatan. Pun demikian dengan musim penghujan, jalanan menjadi becek.
“Kenyamanan jalan sudah tidak ada lagi. Soalnya sering terjadi kecelakaan. Kondisi jalan juga mulai rusak karena dilintasi truk yang melebihi kapasitas 24 jam. Getaran truk pun mengakibatkan rumah warga rusak, seperti dinding rumah retak,” terangnya.
Sementara warga lainnya Wawan Al Wani mengatakan, tidak tersedianya saluran air atau drainase memperparah kerusakan jalan tersebut. Jadi, bila hujan turun jalanan becek. “Kami berharap, Dinas Perhubungan (Dishub) menutup sampai kelas jalan menuju ke kampung kami sesuai kelas kendaraan roda sepuluh,” kata Al Wani.
Menurut dia, kondisi ketidaknyaman itu sudah terjadi sejak sembilan bulan silam atau sejak jalur kendaraan pengangkut galian melewati kampungnya lagi. Padahal sebelumnya tidak pernah ada keluhan warga.
“Sebelumnya truk tronton tidak lewat sini. Hanya truk-truk kecil yang melewati jalan ini,” tambah warga lainnya Azwar Ricahard.
Di Kecamatan Rumpin, truk-truk pengangkut galian itu melintasi beberapa kampung seperti Kampung Peusar, Cicangkal, Sukamanah, Legoknyenang, Rancagaru dan Cikoleng. Bila ke arah Gunungsindur melewati Leuwiranji.
“Selama ini belum ada perhatian dari pemkab, khususnya aparat desa atau kecamatan. Mungkin pengaduan kami tidak pernah sampai ke pejabat pemkab,” katanya.
Berdasarkan pantauan wartawan koran ini, kondisi di Jalan Cikoleang sepanjang 7 km rusak parah. Jalan ini merupakan hasil betonisasi dua tahun lalu. Diduga kerusakan jalan itu sudah berlangsung sejak sembilan bulan diakibatkan hilir mudiknya tronton pengangkut galian yang melebihi kapasitas. (sal)
(Radar Bogor)
Kondisi Objektif Desa Cibitung Tengah
Secara geografis, letak Desa Cibitung Tengah berada di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat (Jabar). Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Cinangneng sebelah Selatan dengan Desa Tapos II, sebelah Barat dengan Desa Ciampea Udik dan sebelah Timur dengan Desa Situ Daun.
Sebagai perbatasan dengan desa lain, desa Cibitung Tengah diapit oleh beberapa arus sungai sekaligus perbatasan desa. Di sebelah Barat sungai Ciampea dengan desa Ciampea Udik, di sebelah Timur dibatasi sungai Cinangneng dengan Desa Situ Daun.
Desa Cibitung Tengah memiliki luas areal ± 1,047 ha. 176 ha. (36 %) untuk areal persawahan, 671 ha. (64 %) berupa daratan terdiri atas 523 ha. berupa perkebunan dan sisanya 148 ha. berupa perkampungan, tanah perkebunan, sarana sosial, jalan dan lain-lain.
Desa Cibitung Tengah mempunyai Rw. (Rukun Warga) sebanyak 5 RW dari jumlah RT (Rukun Tetangga) sebanyak 22 Rt dengan kapasitas penduduk 7.389 jiwa. Penduduk desa Cibitung Tengah sebahagian besar bermata pencaharian sebagai petani yaitu 1920 orang, Pegawai Negeri Sipil 240 orang, karyawan 252 orang, buruh 1440 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Mata Pencaharian
| No. |
Jenis Pekerjaan |
Jumlah |
Keterangan |
| 1 |
Petani |
1920 Orang |
- |
| 2 |
Buruh |
1440 Orang |
- |
| 3 |
PNS |
240 Orang |
- |
| 4 |
Karyawan |
252 Orang |
- |
| 5 |
Wiraswasta |
480 Orang |
- |
| Total |
|
7.389 Jiwa |
Penduduk Pendatang, Fertilitas dan Mortalitas belum terhitung |
Sumber: Kantor Desa Cibitung Tengah Hasil Sensus Pemerintahan Tahun 2001
Kepadatan penduduk yang dialami masyarakat desa Cibitung Tengah secara sosiologis dan antropologis memiliki dua keuntungan. Di satu sisi, secara potensial kemanusiawian akan menghasilkan beberapa cipta, karya dan karsa yang beraneka ragam tergantung pada sumber daya dari diri masing-masing individu. Keaneka-ragaman potensi serta hasil dari proses eksplorasi akan membawa dampak yang besar bagi perkembangan sistem kemasyarakatan secara pesat.
Di sisi lain, penduduk juga memiliki potensi besar terhadap terjadinya permasalahan, termasuk di dalam ketegangan sosial, kecemburuan sosial, politik, ekonomi dan pendidikan. Beberapa macam kecemburuan bisa muncul sebagai permasalahan, di antaranya adalah ras aman (secara luas). Walau pun bagi masyarakat setempat rasa itu tidak pernah menjadi kendala, tapi sering kali menjadi ancaman bagi msyarakat sekitar desa Cibitung Tengah, sebagaimana pernah dituturkan beberapa warga setempat.
Dilihat dari jumlah jenis mata pencaharian, ternyata masyarakat Desa Cibitung Tengah banyak bekerja sebagai petani, sementara tanah yang banyak mereka garap adalah areal ladang pesawahan. Aliran kali Cinangneng dan Ciampea telah banyak membantu masyarakat Desa Cibitung Tengah dalam bercocok tanam meskipun areal persawahan mampu ditanami padi maksimal 3 kali dalam satu tahun. Namun, kegiatan pertanian tidak menjadi tujuan pokok para petani dan hasilnya sering tidak memuaskan. Hal itu disebabkan beberapa faktor antara lain:
- Ketidak-mampuan petani mengusir hama wereng
- Ketidak-seimbangan harga obat-obatan dengan harga penjualan gabah atau beras
- Terganggunya pengairan, terutama disepanjang aliran sungai Ciampea yang sampai saat ini masih berlangsungnya kegiatan penggalian batu, split dan pasir sampai ke dasarnya, sehingga banyak lahan pertanian yang mengantung tidak terairi
- Minimnya sumber daya petani terutama di bidang pertanian.
Kondisi itu menyebabkan pekerjaan sebagai petani khususnya warga Cibitung Tengah tidak dijadikan sebagai tujuan pokok, sehingga para petani banyak menjual lahan pertaniannya kepada orang lain guna dijadikan sebagai modal usaha. Singkatnya, kondisi objektif masyarakat desa Cibitung Tengah ditinjau dari segi geografis maupun perekonomiannya sebagai salah satu desa di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor dapat dikatakan stabil.
Adafun fasilitas yang ada di Desa Cibitung Tengah antara lain:
Fasilitas Pendidikan
4 (empat) buah Taman Kanak-kanak (TK) dan Beberapa Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA)
4 (empat) buah Sekolah Dasar (SD)
6 (enam) buah Madrasah Ibtidaiyah (MI)
2 (dua) buah Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP)
1 (satu) buah Sekolah lanjutan atas (SLTA)
Pada sekitar paruh pertama tahun 2000-an, kalangan tokoh masyarakat yang memiliki basic pendidikan formal (sekolah) pernah menyelenggarakan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dengan sumber pengajar dari kalangan kiyai dan sarjana yang terdapat di wilayah sekitar desa. Hal itu, telah memberikan sumbangan yang positif dalam pendidikan masyarakat terutama sangat membantu kalangan menengan ke bawah untuk mengenyam pendidikan lanjutan.
Kehadiran lembaga pendidikan itu telah membawa kaum pelajar dari kalangan sekolah dan pesantren (santri) dapat mengikuti kegiatan pembelajaran itu. Selain memberikan fasilitas biaya yang murah, lokasi lembaga pendidikan tinggi itu dapat terjangkau masyarakat tanpa memakan biaya transfortasi yang lebih tinggi.
Sarana Pengajian
Sarana pengajian di desa Cibitung Tengah telah ada di masing-masing tempat yang mereka kelola. Bahakan di desa Cibitung Tengah, sarana pengajian sudah menjadi suatu lembaga. Sekitar enam buah Pondok Pesantren dan lembaga pengajian sebagan dipimpin oleh salah seorang pengasuh (ulama setempat). Murid pondok pesantren bukan saja dari daerah asal, melainkan juga dari luar daerah seperti Jabotabek, bahkan luar Jawa.
Fasilitas Olah Raga
Dalam bidang olah raga, masyarakat desa Cibitung Tengah telah membentuk suatu klub di masing-masing Rt/kampung, di antaranya:
- PORCIMA (Prsatuan Olah Raga Cibitung Maduhur), yang bertempat di Rt/Rw. 11/03 Kampung Cibitung Tengah sebelah Utara.
- BERLAP (Persatuan Olah Raga Ember dan Lap), yang terdiri dari para pencuci mobil.
- BSW (Babakan Sekar Wangi) yang beranggotakan dua klub, yaitu PS Sekar dan PS Wangi
Potensi Keagamaan
Potensi keagamaan masyarakat Cibitung Tengah dapat dikatakan cukup baik, meskipun sebagian masyarakat hanya pengakuannya saja. Kegiatan keagamaan masyarakt Cibitung Tengah ini sangat pesat jika dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan di bidang lain.
Kegiatan keagamaan ini dapat terlihat misalnya dalam pengajian dan tamrinul khutbah atau da’watul Islamiyah. Para pemuka agama, khususnya pemrakarsa serangkaian program pembinaan remaja Islam masing-masing rukun kampung mengadakan suatu organisai yang bernafaskan Islam, seperti organisasi (Himpunan Angkatan Muda Dakwah Islam (HAMDI ), IRMACI dan sebagainya.
Bahkan, pada tahun 2006, para pemuda Cibitung Tengah mengadakan suatu rangkaian kegiatan untuk menghidupkan kegiatan keagamaan melalui pengajian tingkat desa. Kegiatan-kegiatan dakwah yang terjadi di desa Cibitung Tengah telah semarak serta terpadu dengan pembangunan masyarakat, sehingga dengan kegiatan dakwah itu sinar Islam dapat terpancar. Setiap insan berbondong-bondong menyongsong hikmahnya.
Banyak sudah muallaf di desa ini meraskan nilai-nilai da’wah yang bermanfaat bagi segenap masyarakat, baik berupa suasana kekeluargaan yang Islami, kualitas kerja mau pun sikap ajak-an yang mengesankan. Di desa ini, para muallaf mendapatkan pembinaan khusus. Bahkan, jika di antara mereka hendak berkeinginan menanyakan permasalahan yang berkaitan dengan hukum, maka para pembimbing para pembimbing tidak segan-segan menjawab setiap pertanyaan yang mereka ajukan.
Oleh karena itu, dalam kegiatan keagamaan perlu mendapatkan perhatian khusus dari penghidmah da’wah agar proyeksi masa depan umat Islam dapat tercapai.
Potensi Ekonomi
Ekonomi merupakan unsur yang penting dalam kehidupan masyarakat. Kondisi ini, kiranya juga telah menyadarkan masyarakat masyarakat desa Cibitung Tengah untuk mencari nafkah demi keluarga, anak dan isterinya. Kebanyakan masyarakat desa Cibitung Tengah bermata-pencaharian sebagai petani.
Di antara mereka ada yang memiliki ladang, tapi ada pula yang hanya pekuli saja (buruh tani). Lain halnya dengan masyarakat desa Cibitung Tengah bagian Barat, mereka banyak yang berpencaharian sebagai sopir, karena kebanyakan di antara mereka memiliki kendaraan (angkutan pedesaan), tapi sebagian ada juga yang hidupnya menjadi petani.
Di Cibitung bagian Selatan, tepatnya yang terletak tidak jauh dari kaki Gunung Salak, mayoritas mata pencaharian mereka sebagai tukang tembok (bangunan). Alasannya, karena dahulu orang tua mereka sebagai tukang tembok, karena itu tidak heran jika anak cucu mereka menjadi tukang tembok. meskipun demikian, sebagian kecil di antara mereka bermata pencaharian sebagai petani. Berbeda dengan warga Cibitung Kaum, kebanyakan mereka lebih memilih sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Hal itu dikarenakan, sejak dulu, Cibitung Kaum memang pernah menjadi pusat pendidikan dan penyiaran agama Islam. Tapi, ada juga di antara mereka memilih menjadi sebagai sopir dan petani. Begitulah kehidupan manusia yang serba-serbi dan aneh-aneh. Layaknya dalam perekonomian, pasar merupakan tempat manusia menunaikan transaksi perdagangan (jual beli) dalam jumlah yang lebih besar, karena di dalam pasar berbagai macam barang dapat diperjual-belikan.
Sejak lama, masyarakat Cibitung Tengah telah memiliki dan membentuk lemabaga perdagangan ini melalui “pasar harian” yang sering masyarakat sebut sebagai Pasar Jum’at. Semula pasar Jum’at beroperasi tiap hari jum’at, tapi seiring tuntutan kebutuhan masyarakat yang setiap saat menghendaki perubahan khususnya dalam bidang ekonomi, Pasar Jum’at mengalami perubahan baik secara material bangunan fisiknya maupun pengunjungnya yang setiap saat bertambah dan berkembang.
Kini, Pasar Ju’mat telah beroperasi setip hari, sehingga warga sekitar khususnya dapat melakukan aktifitas perekonomian di pasar tersebut. Meski lokasi Pasar Jum’at berada di tengah-tengah perkampungan warga setempat, pasar tradisional itu cukup besar layaknya pasar-pasar tradisional di perkotaan.
Potensi Sosial dan Budaya
Dilihat dari keadaan sosialnya, kehidupan masyarakat desa Cibitung Tengah sangat rukun dan damai. Bahkan, apabila di antara rukun kampung misalnya sedang mengadakan pemembangunan masjid, masyarakat warga sekitar hidup dalam keadaan saling berkaitan, kerja sama dan saling tolong di kehidupan sosial. Tidak hanya itu, dalam pembangunan jalan warga sering melakukannya secara gotong royong.
Di bidang kebudayaan, masyarakat membentuk beberapa seni budaya. Dalam bidang kesenian, masing-masing warga mempunyai group kesenian seperti qasidah (yang paling membudaya di daerah tersebut). Di kalangan pengajian atau pesantren kesenian budaya ini dapat terlihat seperti:
Group Qasidah Al-Hikmah di Rt/Rw 11/03
Group Qasidah Ar-Rahmah di Rt. 08
Group Qasidah Al-Ghazali di Rt. 12
Group Qasidah Nurul Anwar, bertempat di Ponpes Nurul Anwar Rt. 12, dan group qasidah lainnya.
Dalam seni bela diri, masyarakat desa Cibitung Tengah mempunyai keyakinan masing-masing, di antaranya menganut bela diri Cimande, ilmu kesucian Al-Hikmah, dan kesenian bela diri lainnya. Tapi, mereka hidup secara rukun, damai dan saling penuh pengertian walau pun di antara mereka berlainan aliran dalam bidang seni bela diri.
~ by Najmu on November 20, 2007.
Next Page »