Tim Ulil Albab DDHK Belajar Membuat Nata de Coco
November 23 2011 oleh admin
Kategori Bogor Barat Terkini, Kesejahteraan Sosial, Sosial Budaya
Di bawah rindangnya pohon palm dekat Lapangan Sepak Bola Victoria Park, Hong Kong, Tim Ulil Albab Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) mengadakan pelatihan wirausaha membuat minuman Nata de Coco bersama Tatik Kancawati (istri Direktur DDHK Ust. Herman Budianto), Ahad (20/11).
Menurut Tatik Kancawati, kata “Nata” berasal dari bahasa Spanyol yang artinya “terapung”. Ada lima macam produk Nata, yaitu Nata de Pina (dari buah nanas), Nata de Cassava (dari sari pati singkong), Nata de Melo, Nata de Tomatto, dan Nata de Coco (dari kelapa).
Nata de Coco adalah hasil fermentasi air kelapa dengan bantuan mikroba Acetobacter Xylinum yang berbentuk padat, berwarna putih, transparan, berasa manis, dan bertekstur kenyal.
Dipaparkannya, Nata de Coco memiliki beberapa kelebihan atau daya tarik tersendiri yang menjadikannya sebagai sebuah industri yang menjanjikan, di antaranya dikenal sebagai produk kaya serat dan produknya alami, kaya gizi karena mengandung protein, lemak, gula, vitamin, asam amino, dan hormon pertumbuhan, serta mempunyai rasa yang enak dan mengundang selera, apalagi bila dicampur dengan es teler, es krim, atau fruit cocktail.
Selain itu, Nata de Coco mudah diperoleh dan tidak bersifat musiman karena terbuat dari air kelapa dan banyak menyebar di seluruh pelosok tanah air. Proses pengolahan dan peralatan industrinya sederhana dan tidak memakan waktu yang lama.
“Nata de Coco merupakan industri ramah lingkungan dan perkembangannya belum pesat,” katanya.
Ia juga menjelaskan tentang manfaat dan potensi Nata de Coco, yaitu sebagai sumber makanan rendah energi untuk keperluan diet dan memperlancar proses pencernaan dalam tubuh. (Tati Tia Surati/ddhongkong.org).*
sumber : ddhongkong.org
Warga Diminta Tak Berlebihan Berbelanja
August 21 2009 oleh admin
Kategori Bogor Barat Terkini, Ekonomi, Kesejahteraan Sosial, Perdagangan, Sosial Budaya
Menjelang Ramadhan, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Bogor, perlahan-lahan mulai merangkak naik. Melonjaknya harga tersebut selain dampak dari musim kemarau yang melanda wilayah-wilayah penghasil, juga meningkatkanya permintaan, karena memasuki Ramadhan, tingkat konsumsi masyarakat naik dua kali lipat dibandingkan bulan-bulan biasa. “Harga biasanya akan kembali normal setelah memasuki puasa,” kata Kepala Dinas UKM Koperasi Perdagangan dan Industri Udin Syamsudin, kemarin.
Untuk menjaga harga agar tetap stabil, Udin meminta, warga tidak memborong bahan kebutuhan pokok, karena menurut dia tindakan seperti itu, justru akan menjadikan harga semakin naik. “Yang normal-normal saja, tak perlu berlebihan puasa itu intinya pengendalian diri,”ujarnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Udin mengatakan, harga kebutuhan pokok, misalnya gula pasir, telor dan terigu serta berbagai jenis daging akan kembali naik sekitar 10 hari menjelang hari raya. ” Namanya harga itu biasanya dipengaruhi oleh supply dan demand. Permintaan melonjak, sementara persedian atau suplai kurang, kenaikan harga tidak terelakan, begitu pula sebaliknya, ketika permintaan turun, suplai bertambah harga juga akan turun,” jelasnya.
Meski demikian, Udin menjamin persedian sembilan kebutuhan pokok untuk warga Kabupaten Bogor, menyambut Idul Fitri hingga Natal dan Tahun Baru cukup. “Tak usah khawatir, pasokan bahan sembako tidak akan kurang,” katanya. Amirullah (43), pedagang cabai di Pasar Cibinong mengatakan, harga kebutuhan pokok yang diperkirakan terus melonjak adalah harga cabai. Namun untuk saat ini harga cabai masih bertahan di kisaran Rp 12.000/kilogram.
“Harga cabai memang stangnan dan tidak menentu dipasar untuk saat ini, yang jelas pasti akan terus naik kalau pun turun belum begitu rendah,” katanya. Hal senada juga diungkapkan oleh Acum (30) pedagang sayuran di pasar keliling, menurutnya, harga sejumlah bahan pokok akan melonjak menjelang bulan Ramadhan yang diperkirakan jatuh pada 21 Agustus 2009.
“Sudah menjadi kebiasaan semua harga bahan pokok akan meningkat menjelang puasa Ramadhan, apalagi sebelum puasa ada hari Munggahan (hari pemotongan hewan menjelang puasa Ramadhan) semua masyarakat Kabupaten Bogor bisa dipastikan memadati pasar untuk memenuhi kebutuhan mereka,” kata Acum.(sumber bogorkab.com)
Warga Cikoleang Takut
May 16 2009 oleh admin
Kategori Bogor Barat Terkini, Kesejahteraan Sosial, Sosial Budaya
Rumpin – Sehari setelah Warga Kampung Cikoleng RT 03 RW 04 Desa Sukamulya, Rumpin menutup galian pasir PT Hadi Gunawan (HG) dengan cara memblokir jalan, mulai muncul masalah. Beberapa warga mengaku diintimidasi.
“Warga banyak yang lapor kepada saya, mereka diintimidasi orang yang tidak senang dengan adanya penutupan galian pasir tersebut,” kata Ketua RT 03 RW 04 Uding (44) kepada Jurnal Bogor kemarin.
Menanggapi itu, ia menghimbau warganya untuk bersikap hati-hati dan waspada. Namun, Uding tetap menyakinkan warganya bahwa aparat keamanan berpakaian preman tetap memantau keadaan kampung ini. “Kami juga akan meningkatkan ronda malam, karena kami khawatir akan ada hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, kami sedang diadu domba dengan kampung lain yang setuju dengan adanya galian pasir ini,” kata Uding.
Menurut Uding, setelah warga menutup jalan menuju galian pasir, sudah tidak ada truk yang mengangkut pasir. Namun, di lokasi galian pasir ini masih terdapat beberapa alat berat dan mesin menyedot pasit. Bahkan sejumlah pegawai galian pasir masih menjaga lokasi tersebut. “Kami tetap mengawasi gerak gerik galian pasir ini. Sebab, bila galian pasir ini beroprasi lagi, kami bersama warga akan langsung menyetopnya,” ujarnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, alasan warga menutup galian pasir tersebut, karena galian pasir yang sudah berdiri sejak 7 tahun yang lalu ini, berada di tengah-tengah pemukiman warga. Akibat adanya galian pasir yang sudah cukup lama ini, terdapat sebuah kubangan air seluas satu hektar dengan kedalaman mencapai 6 meter. Sehingga penduduk RT 03 yang berjumlah 224 KK ini, khawatir dengan adanya galian pasir tersebut.
“Sebab, dengan adanya galian pasir tersebut sudah banyak menelan korban jiwa akibat tenggelam di kubangan galian pasir ini,” ujarnya.
Nanang Hidayat www.jurnalbogor.com
Melihat Proses Bedah Rumah Hasil Swadaya Masyarakat di Desa Situudik (1)
April 30 2009 oleh admin
Kategori Bogor Barat Terkini, Kesejahteraan Sosial, Sosial Budaya
Bila mendengar kata bedah rumah, masyarakat pasti beranggapan bagian dari program salah satu televisi swasta. Tapi, bagi Kepala Desa Situudik Kecamatan Cibungbulang Enduh Nuhudawi, hal itu menjadi bagian dari program kerjanya. Bagaimana mekanismenya?
ENDUH Nuhudawi pada 25 April 2008 resmi menjadi Kades Situudik periode 2008-2012. Tumpukan pekerjaan rumah (PR) pun sudah menanti. Di antaranya meningkatkan kesejahteraan masyarakat untuk kedepannya.
Apalagi masih banyak warga Desa Situudik yang memerlukan bantuan. Tapi, ada satu program yang sudah ia rencanakan, sebelum terpilih menjadi kades yakni bedah rumah milik warga miskin dan orang jompo.
Awalnya Enduh sempat ragu. Apakah program ini bisa berjalan atau tidak. Apalagi anggaran desa tak mencukupi untuk memperbaiki beberapa rumah milik warga. Terlebih, Pemkab Bogor tidak mengalokasikan anggaran untuk program tersebut.
Karena sudah niat, Enduh pun rela mengeluarkan dana pribadi untuk menjalankan program bedah rumah. Hasilnya, program yang ia kerjakan mendapat respons positif dari masyarakat sekitar. Tak ingin berhenti begitu saja, Enduh sepakat mengajak masyarakat berpartisipasi dalam program tersebut.
Hasilnya mayoritas masyarakat menengah atas mendukung untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk bedah rumah yang tak layak huni.
Semenjak itulah, program ini ia namakan sebagai program swadaya masyarakat. Tak tanggung-tanggung, Enduh menargetkan 94 rumah milik warga bakal ia bedah. Hingga saat ini baru 15 rumah yang berhasil ia bedah.
Namun, untuk menentukan rumah seperti apa yang layak bedah, ia memberikan kategori yakni warga jompo miskin, rumah milik warga yang mengalami rusak parah dan tidak layak huni.
“Sampai sekarang, kami berhasil membedah 15 rumah. Tapi yang membuat saya bangga, program ini berjalan berkat partisipasi masyarakat,” ujarnya.(dkw)
Kos-kosan dan Tower Disegel
April 24 2009 oleh admin
Kategori Bogor Barat Terkini, Kesejahteraan Sosial, Sosial Budaya
BOGOR - Bangunan liar di Kota Bogor seperti tidak akan berhenti berdiri. Kemarin, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kembali menyegel sejumlah bangunan ilegal di kota ini.
Bangunan yang disegel itu di antaranya beberapa tower milik salah satu provider telepon selular dan rumah kos-kosan. Tower tersebut berlokasi di Kampung Bubulak Kelurahan Kencana Kecamatan Tanahsareal, Kampung Rambai Kelurahan Ciluar Kecamatan Bogor Utara dan Kampung Sawah Kelurahan Tanahbaru Kecamatan Bogor Utara serta rumah kos-kosan di Jalan Sholeh Iskandar RT 04/03 Kecamatan Tanahsareal.
Bangunan-bangunan itu terbukti melanggar karena tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Artinya, bangunan itu juga tidak memiliki kelengkapan administrasi alias ilegal.
Kepala Satpol PP Hanafi didampingi Kasi Penegakan Perda Farid Wahdi menuturkan bahwa sejumlah bangunan itu terbukti tidak memiliki izin, sehingga terpaksa disegel sampai administrasinya lengkap.
“Bangunan itu kami segel karena ilegal,” kata Farid kepada Radar Bogor, kemarin.
Menurut Farid, penyegelan itu merupakan konsekuensi hukum karena pembangunan tersebut didirikan tidak sesuai Peraturan Daerah (Perda) Kota Bogor. Sebagai penegak perda, kegiatan yang melanggar perda harus ditertibkan.
Farid menambahkan, Satpol akan melakukan razia anjal dan gepeng serta penyakit masyarakat (pekat). “Dalam waktu dekat akan kami tertibkan,” pungkasnya.(dra)
Galeri
April 21 2009 oleh admin
Kategori Agama, Bogor Barat Terkini, Cindera Mata, Desa, Ekonomi, Industri, Kabupaten, Kecamatan, Kehutanan, Kesehatan, Kesejahteraan Sosial, Khas Daerah, Koperasi dan UKM, Makanan Khas, Olah Raga, Pariwisata, Pemerintah, Pendidikan, Perdagangan, Perikanan, Perkebunan, Pertambangan, Pertanian, Peternakan, Politik, Seni dan Budaya, Serba Serbi, Sosial Budaya, Sumber Daya Alam, Transportasi



Folders










