Standar Nilai Kelulusan Ujian Nasional 5,5

March 12 2012 oleh  
Kategori Bogor Barat Terkini, Pendidikan

ilustrasi Seorang siswa serius membaca soal Bahasa Indonesia ketika mengikuti Ujian Nasional

Standar nilai kelulusan peserta Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2011/2012 sama dengan tahun lalu yakni 5,5 untuk semua mata pelajaran yang diujikan.

Ketua Panitia Ujian Nasional Dinas Pendidikan Kabupaten Biak Numfor, Kamaruddin S.Pd,MM saat dihubungi di Biak, Minggu, mengakui, secara nasional aturan kelulusan peserta UN berlaku sama karena sesuai aturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Standarisasi Pendidikan Nasional tahun 2011.

“Semua mata pelajaran yang diujikan dalam UN tidak boleh ada nilainya yang di bawah empat,” kata Kamaruddin.

Menyinggung kesiapan sekolah melaksanakan UN, menurut Kamaruddin, hingga Minggu, 11 Maret semua sekolah di jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs serta SMA/SMK sudah siap menyelenggaran kalender pendidikan secara nasional sesuai jadwal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bahkan untuk jenjang pendidikan SMP dan SMA/SMK, menurut Kamaruddin, telah sebagian sekolah menyelenggarakan ujian praktek hingga pertengahan Maret 2012.

“Sesuai monitoring dan laporan kepala sekolah untuk pelaksanaan UN telah siap,”ungkap Kamaruddin yang juga Sekretaris Dinas Pendidikan Biak.

Berdasarkan data peserta UN tahun ajaran 2011/2012 di Kabupaten Biak Numfor terdiri SD 3028 ( SD negeri 1322 dan swasta 1706), SMP 2417 (siswa SMP negeri 1919 dan swasta 498).

Sedangkan jenjang pendidikan SMA 1252 (negeri 772 dan swasta 480 siswa), SMK 556 siswa terdiri siswa negeri 141 orang dan swasta 415 siswa.
sumber : antaranews.com

Warga Tenjolaya Minta Dibangunkan SMU

Belum adanya Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Kecamatan Tenjolaya, dikeluhkan oleh masyarakat setempat. Pasalnya anak-anak mereka terpaksa menyeberang ke kecamatan tetangga jika ingin meneruskan sekolah ke SMA Negeri karena di Tenjolaya baru ada SMK/SMA/MA swasta.

Camat Tenjolaya Haris Wijaya mengatakan, pihaknya sudah seringkali mengusulkan kepada Pemkab Bogor melalui Dinas Pendidikan untuk mengadakan bangunan SMA Negeri di Kecamatan yang berdiri sejak tahun 2004 tersebut.

“Saya sudah beberapa kali menyampaikan hal ini kepada Pemkab Bogor melalui Dinas Pendidikan, tapi sampai saat ini belum terealisasi,“ katanya disela-sela. acara Rebo Keliling (Boling) di Kecamatan Tenjolaya, Rabu (23/11).

Haris berharap, Bupati Bogor Rachmat Yasin yang memimpin langsung acara Boling kali ini dapat mengakomodir aspirasi masyarakat Tenjolaya ini. “Mudah-mudahan bapak Bupati bisa mengakomodir harapan masyarakat Tenjolaya,“ tandasnya.

Seperti yang diketahui, fasilitas pendidikan dasar di Kecamatan Tenjolaya saat ini ada 38 buah dengan rincian 19 SD Negeri, 2 SD Swasta, dan 14 MI swasta. Sedangkan fasilitas pendidikan menengah pertama ada 13 buah diantaranya, 1 SMP Negeri, 6 SMP swasta, 1 SMP satu atap, dan 5 MTs swasta. Sementara MA swasta, SMK swasta dan SMA swasta ada 7 buah. (Wulan)

sumber : bogoronline.com

Mahasiswa IPB Temukan Biotoilet untuk Daerah Bencana

Mahasiswa Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor melalui serangkaian penelitian berhasil menemukan biotoilet yang bisa dimanfaatkan untuk daerah bencana seperti tempat pengungsian.

Humas IPB Ir Henny Windarti, M.Si dalam penjelasan di Bogor, Selasa, mengatakan, mahasiswa tersebut adalah Fauziah Nur Annisa, Septian Suhandono dan Yani Mulyani.

Ia menjelaskan penelitian inovatif mahasiswa itu diberi judul “Biotoilet berbasis sekam padi dan alkohol hasil fermentasi limbah agar-agar (Gracillaria sp.) sebagai solusi kelangkaan air bersih di daerah pengungsian”.

“Inovasi tersebut juga berhasil meraih juara I Lomba Inovasi Teknologi Lingkungan ( FTSL) di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya pada April 2011,” katanya.

Menurut Fauziah Nur Annisa, biotoilet merupakan alternatif baru karena toilet ini tidak memerlukan air yang banyak seperti toilet pada umumnya.

Biotoilet menggunakan bahan baku lokal yang bernilai limbah seperti limbah hasil pengolahan agar-agar dan sekam padi.

“Biotoilet ini pun cocok dibuat pada keadaan darurat dan tempat krisis air seperti pada tempat-tempat pengungsian karena tidak mencemari lingkungan, dan mencegah timbulnya penyakit akibat sanitasi buruk yang biasanya dijumpai pada tempat-tempat pengungsian,” kata koordinator kegiatan “Indonesian Climate Student Forum” itu.

Ia menjelaskan, kebutuhan padi sebagai makanan pokok bangsa Indonesia meningkat dari tahun ke tahun sehingga mengakibatkan limbah sekam yang dihasilkan makin melimpah.

Jumlah sekam bervariasi tergantung pada kondisi penggilingan padi. Dari penggilingan padi dapat dihasilkan 65 persen beras, 20 persen sekam, dan sisanya hilang. Sedangkan dalam sekam sendiri mengandung senyawa organik berupa lignin dan chetin, selulosa, hemiselulossa (pentosan), senyawa nitrogen, lipida, vitamin B, asam organik, dan lainnya.

Dalam sekam padi terdapat 34,34-43,80 persen selulosa yang memiliki sifat di antaranya luas permukaan dan porositas tinggi (85 – 90 persen ruang udara) yang mampu menahan air sebesar 35 – 40 persen.

Dengan jumlah yang cukup banyak ini, selulosa dapat menjadi terobosan alternatif sebagai bahan untuk menyerap cairan dan bau yang dihasilkan dari kotoran pada konsep kerja biotoilet.

Selain itu basis dari biotoilet adalah alkohol hasil fermentasi limbah agar-agar. Limbah industri agar-agar (Gracillaria sp.) merupakan salah satu sumber bahan baku industri kertas yang potensial.

Selain itu, toilet kering ini tidak menebarkan bau layaknya “septic tank” biasa, serta tidak memerlukan saluran pembuangan khusus. Bioteilet cocok jika diaplikasikan pada daerah bencana yakni tempat-tempat pengungsian yang sifatnya darurat dan sementara.

Ia menambahkan, biotoilet dirancang khusus sehingga tidak menimbulkan pencemaran karena kotorannya ditampung ke dalam “dry box” yang terbuat dari baja dan lapisan “stainless steel” yang cukup tebal.

Dikemukakannya, “dry box” itu diisi juga dengan sekam padi yang berfungsi untuk menyerap cairan dan bau yang dihasilkan dari kotoran. Kotoran langsung ditangkap sekam padi di “dry box” (kotak reaktor) yang berada di bawah lubang toilet.

“Limbah secara alami terurai menjadi CO2 dan H2O dan tidak memerlukan bakteri khusus, juga tidak menimbulkan bau,” katanya.
sumber : antaranews.com

IPB Dapat Kucuran Dana Rp 120 Miliar dari APBN

Institut Pertanian Bogor (IPB) mendapat kucuran dana senilai Rp 120 miliar melalui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pembangunan gedung pendidikan paket pertama di wilayah Fakultas Kehutanan IPB. Sebelumnya, sejumlah mahasiswa Kehutanan sempat menolak pembangunan gedung pendidikan ini karena dinilai merusak lingkungan dengan menebang sejumlah pohon koleksi.

Rektor IPB, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto di sela-sela pemancangan tiang pertama gedung pendidikan di Fakultas Kehutanan IPB, Rabu (5/10) mengatakan pembangunan gedung pendidikan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan perkuliahan, terutama di Fakultas Kehutanan yang saat ini cukup padat.

“Selama ini pusat layanan kita tersebar sehingga petugas yang memberi pelayanan fasilitas perkuliahan agak kesulitan mencapai lokasi tepat waktu,” katanya.

Direncanakan, gedung pendidikan ini bisa berfungsi pada semester genap tahun ajaran 2011-2012 mendatang. Sementara, untuk paket kedua, yakni gedung perpustakaan tropika, pagu anggaran yang disediakan senilai Rp 10 miliar. Paket ketiga dari projek ini berupa penambahan nilai gedung dan bangunan pendidikan senilai pagu Rp 30 miliar. Sejumlah fasilitas seperti kandang primata serta laboratorium rayap juga akan dibangun pada projek pertama ini.

Terkait dengan aksi penolakan para mahasiswanya, Herry mengatakan hal itu hanya karena kesalahpahaman belaka. Diakui Herry, beberapa waktu lalu ada dosen yang mendapatkan benih meranti dari Jasinga (sisa projek Kementrian Kehutanan). Tanpa sepengetahuan fakultas dan rektorat, bibit pohon tersebut ditanam di lahan yang saat ini akan berdiri bangunan pendidikan.

“Juli lalu, kita sudah berkirim surat ke fakultas soal projek ini. Mereka segera menyikapinya dengan menyuruh orang untuk menebang pohon yang ada tanpa tahu jika ada bibit pohon meranti ada di sini,” tuturnya.

Dia juga menegaskan jika pohon yang ditebang bukanlah koleksi meranti seluruh Indonesia, hanya meranti dari Jasinga.

sumber : pikiran-rakyat.com

SDN Tapos 03 Nyaris Ambruk

TENJOLAYA – Saat sekolah lain berlomba meraih status bertaraf internasional, kondisi Gedung SDN Tapos 03 di Desa Tapos, Kecamatan Tenjolaya, justru semakin memprihatinkan. Tiga lokal bangunan hampir roboh dan tidak bisa dimanfaatkan lagi.

Tiga bangunan rusak tersebut yakni kelas satu, dua dan tiga. Akibatnya, 250 siswa harus membagi waktu melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM).

Orangtua siswa, Nani (35) mengatakan, bantuan perbaikan kelas dari Pemkab Bogor belum pernah ada. “Tahun ajaran 2008, ketiga kelas yang rusak masih digunakan KBM,” ucapnya kepada Radar Bogor, kemarin.

Sementara bangunan yang masih bisa digunakan KBM yaitu kelas empat, lima dan enam yang tepat di samping gedung rusak.

Mengenai waktu KBM, kelas satu, dua dan tiga dimulai pukul 07:00 – 10:00. Sedangkan, kelas empat, lima dan enam pukul 12:00-13:00.

Menurut dia, jika kondisi KBM dibiarkan dan tidak ada perhatian dari Pemkab Bogor, dikhawatirkan minat belajar dan prestasi siswa akan terganggu.

“Dari dulu janjinya akan diperbaiki, tapi tidak pernah terealisasi,” ketusnya kesal.

Guru SDN Tapos 03 Hartati mengaku, saat ruangan masih dipaksakan untuk KBM, guru harus mengawas ekstra karena tidak ada pintu. “Guru harus dekat pintu atau tembok bolong agar siswa tidak keluar ruangan,” ujarnya.

Camat Tenjolaya Abdullah Sjirodz mengatakan, SDN Tapos 03 segera mendapat bantuan. “Tahun ini mudah-mudahan sudah bisa diperbaiki dan berfungsi sebagaimana mestinya,” singkatnya. (luc) sumber: radar-bogor

Mengolah Sampah Organik Menjadi Kompos Bokashi

Mengintip Pengelolaan Sampah di SMA Kornita

Sampah tidak selalu menjadi barang yang tidak bermanfaat dan menjijikan karena bau busuknya. Sebaliknya, jika bisa mengolahnya dengan baik, sampah akan menjadi barang yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. SMA Kornita menjadi salah satu SMA yang mengembangkan sampah organik menjadi pupuk kompos dengan kualitas tinggi. Apa saja resep SMA Kornita meramu sampah organik?

BUKAN hal yang sulit untuk mengubah sampah organik menjadi kompos. Pasalnya, sekitar 70 persen sampah di lingkungan rumah merupakan sampah organik berupa sisa-sisa makanan, tanaman dan kotoran hewan yang mudah terurai.

SMA Kornita yang berada di dalam lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) mempunyai resep mengubah sampah organik menjadi Kompos Bokashi.

Mengenai cara mengolah sampah organik menjadi Kompos Bokashi, Wakasek Kesiswaan SMA Kornita Gatot Widodo menjelaskan, bahan yang bisa digunakan yaitu sampah organik yang telah dicacah dan disekam. Kedua bahan ini kemudian dicampur dengan dedak, gula pasir serta cairan EM4 ditambah air secukupnya. “EM4 merupakan larutan fermentasi untuk proses pembusukan unsur organik,” ucapnya.

Langkah-langkahnya yakni, melarutkan EM4 dan gula ke dalam air, sementara buat adonan sampah, sekam dan dedak sampai merata. Setelah itu, masukan perlahan larutan EM4 ke dalam adonan.

Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak keluar dari adonan. Bila kepalan dilepas, maka adonan akan mengembang. Bila hal tersebut belum terpenuhi dan adukan belum sempurna, kembali lakukan pengadukan ulang.

Selanjutnya, adonan ditumpuk di atas ubin kering, kemudian ditutup dengan karung selama 3-4 hari. Pertahankan suhu gundukan adonan antara 40-50 derajat celcius.

Jika suhu lebih dari 50 derajat celcius, bukalah karung penutup dan bolak-balik gundukan adonan. Kemudian, kembali tutup dengan karung goni dan diamkan selama empat hari.

Suhu tinggi dapat mengakibatkan adonan rusak karena proses pembusukan. Selain itu, pengecekan suhu dilakukan setiap lima jam.

Setelah empat hari, adonan terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.

Menurut dia, pupuk yang dihasilkan kini sudah dapat dirasakan dan digunakan, walaupun masih intern. “Digunakan untuk kebun milik sekolah,” ujarnya.

Dengan demikian, sampah yang dihasilkan tidak terbuang dengan percuma. “Setelah dengan Jerman, dalam waktu dekat, kami akan bekerja sama dengan Unilever Indonesia,” katanya.

Sebenarnya, ada cara lain untuk mengurangi volume sampah yaitu dengan cara pembakaran. Namun, cara tersebut dapat menghasilkan dioksin atau ratusan jenis senyawa kimia berbahaya seperti CDD (chlorinated dibenzo-p-dioxin), CDF (chlorinated dibenzo furan) atau PCB (poly chlorinated biphenyl).

Apabila senyawa yang berstruktur sangat stabil hanya dapat larut dalam lemak dan tidak dapat terurai ini bocor ke udara dan terhirup manusia maupun hewan melalui udara, dioksin akan mengendap dalam tubuh dan pada kadar tertentu dapat mengakibatkan kanker. “Diharapkan, semua dapat menyadari hidup bersih,” pungkasnya. (*)
(Lucky L. Hakim) radar-bogor.co.id

PESANTREN PERTANIAN DARUL FALLAH

Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah didirikan berdasarkan Akta Notaris J.L.L Wenas di Bogor pada tanggal 09 April 1960, dengan nomor 12. Yayasan Pesantren Pertanian Darul  Fallah terdaftar dalam buku regristrasi di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Bogor pada tanggal 16 Maret 1969 di bawah no. 25/1969 AN

Perkampungan Pesantren dibangun mulai bulan Juni 1960 di  atas lahan tanah wakaf dari R.H.O. Djunaedi seluas 26,6 Ha. Pengesahan terhadap pengwakafan areal lahan itu disyahkan oleh Kepala Pengawas  Agraria Keresidenan Bogor pada tanggal 20 Juni 1961, dengan piagam No. 114/1961. Areal itu terletak di dua blok yaitu blok Lemahduhur dan Blok Gunung Leutik, (sekarang disebut Bukit Darul Fallah) Desa Benteng.

Pada tanggal 02 Agustus 1966, oleh Pengurus Yayasan telah dilakukan perubahan Anggaran Dasar Yayasan di hadapan Notaris Ny. Nurhayati Yunus, SH. Di Bogor dengan Nomor 1 (satu). Anggaran Dasar Yayasan telah dimasukkan alam Tambahan Berita Negara dengan nomor 49 tahun 1997, pada Tambahan Berita Negara RI tanggal 24 April 1997 No. 32.

Pengurus Yayasan dan Pimpinan Pesantren beralamatkan di Kp. Lemahduhur, RT. 02/04 desa Benteng kecamatan Ciampea kabupaten Bogor. Surat-surat pos dapat dialamatkan pada “PP. Darul Fallah Kotak Pos 100 Bogor (16001)

Sebagai Ketua Yayasan yang pertama adalah K.H. Sholeh Iskandar (1960-1992), (1992-2003) adalah Dr. Ir. H. A. Aziz Darwis, MSc) dan dari tahun 2003-sekarang adalah  Dr. Ir. H. Meika S. Rusli, untuk menyesuaikan Anggaran Dasar YPP. Darul Fallah dengan UU No. 16 Tahun 2001, maka sebagai Ketua Pembina adalah Dr. Ir. H. Abdul Aziz Darwis, M.Sc Dan saat ini Pimpinan Pesantren adalah KH. Abdul Hanan Abbas, Lc

Pendidikan  formal pesantren dimulai pada tahun 1963. Pada tahun 1968, dimulai lagi pendidikan Pesantren Pertanian Darul Fallah tingkat Aliyah yang dipimpin oleh Ir. M. Saleh Widodo (Al. Meninggal 1991). Sejak saat itu (1968) ditetapkan pula Dr. Muhammad Natsir (Alm. Meninggal 1993) sebagai Ketua Badan Penasehat Pengurus YPP. Darul Fallah, selanjutnya K.H. Hasan Basri sebagai Ketua Badan Penasehat YPP. Darul Fallah pada tahun 1993-1999 (Alm. Meninggal pada tahun 1999) dan sejak 1999 digantikan sebagai Ketua Badan Penasehat adalah Prof. Dr. Ir. H. Zuhal Abdul Qodir, MSc.

§  VISI  PP. DARUL FALLAH

Mewujudkan Darul Fallah sebagai lembaga pendidikan, dakwah dan pengembangan masyarakat dengan memiliki keunggulan tersendiri dan menghasilkan SDM yang memiliki ruhul jihad, kreatif, inovatif dan mandiri.

§  MISI  PP. DARUL FALLAH

a.  Pendidikan

Menyelenggarakan dan mengembangkan sistem pendidikan yang unggul dengan kurikulum yang memadukan materi ajaran Islam dan IPTEK dalam jenjang pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan bangsa.

b. Dakwah

Menyelengarakan dakwah bilhal dengan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dan mendifusikan IPTEK dalam usaha-usaha produktif. Dakwah difokuskan dalam bentuk dakwah bilhal.

c. Pengembangan Masyarakat

Mengembangkan proyek-proyek percontohan qoryah thoyyibah di daerah pedesaan dengan pendekatan menjalin kerja sama dengan instansi atau lembaga terkait.

§  TUJUAN  PP. DARUL FALLAH

Terbentuknya pribadi beriman-berilmu-berakhlaq Islam yang mandiri dan berdakwah menegakkan agama (Iqomatuddin), yang membina peningkatan harkat kehidupan diri pribadi, keluarga dan masyarakat melalui dakwah dan berwiraswasta yang diridhoi ALLAH SWT.

  • KONDISI Lahan dan Perkampungan

Lahan pesantren  seluas 26,5 ha, terletak pada km 12 jalan raya Bogor-Leuwiliang, atau 2 km dari  kampus  IPB Darmaga. Lahan memanjang sekitar 1 km dari tepi jalan raya kampung Kebon Eurih masuk kedalam ke arah kampung Gunung Leutik. Kondisi lahan berbukit, 90 % miring dan 10 % datar. Hanya sebagian kecil kira-kira 5 % berupa lahan sawah dan sebagian besar berupa lahan kering.  Tanah lahan kering termasuk jenis  latosol, dengan pH antara 5-7. Curah hujan rata-rata per tahun > 3.000 mm, 09 – 12 bulan basah serta 0-1 bulan kering.  Mulanya keadaan lahan kurus dari unsur-unsur hara karena proses pencucian oleh air hujan (perkolasi). Kondisi itu telah berubah setelah sebagian besar lahan tertutup oleh budidaya tanaman tahunan serta kebun rumput. Lahan Pesantren sebagian besar dibatasi secara alami oleh sungai-sungai besar (Cinangneng, Ciampea) serta selokan-selokan.

  • Kegiatan Yang Telah Dilaksanakan

§   Pendidikan dan Dakwah

1.    TK/Raudhatul Athfal

2.    Madrasah Diniyah 4 tahun (untuk tingkat SD/MI)

3.    Madrasah Tsanawiyah (Terakreditasi ‘A” Unggul)

4.    Madrasah Aliyah Terpadu (Terakreditasi “A” Unggul)

5.    Pendidikan Kesetaraan (Paket A dan Paket B)

§  Pusat Pelatihan (Diklat)

§  Unit Usaha

1.       PT. Dafa Tekno Agro Mandiri (perbanyakan tanaman/kultur jaringan)

2.       Koperasi Pondok Pesantren (simpan pinjam, warung, wartel dan pupuk organik)

3.       Peternakan dan Perikanan (sapi perah dan kambing perah)

4.       Pabrik Pakan Ternak (Kapasitas Produksi 100 ton/hari)

5.       Usaha Rumah Tangga (nata de coco,  aloe vera/lidah buaya dll)

6.       Pertukangan dan Perbengkelan (Besi dan Kayu)

7.       Agrowisata Rohani

8.       Hutan Rakyat

9.       Lembaga Penunjang lainnya seperti P4S, BDS, LM3.

Profil Usaha Yang Telah Dijalankan

A.     Pendidikan

Pesantren Pertanian Darul Fallah menerapkan suatu system pendidikan terpadu dari berbagai sisi seperti keterpaduan :

1. Pendidikan agama dengan teknologi/keterampilan (terutama Agribisnis)

2.     Pendidikan formal  dengan non formal pesantren serta informal komunitas pesantren.

3.     Pendidikan intelektual (teori) dengan praktek penerapan usaha (kewirausahaan).

4.    Pendidikan pencapaian prestasi individual dengan semangat pelayanan pada  masyarakat dhuafa dan masakin.

Sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman, maka  dibuka pendidikan formal yakni TK Islam/Ra (tahun 1992), MTs (tahun 1993) dan MAT (tahun 1994). Kurikulum : Darul Fallah menggunakan Kurikulum yang merujuk pada Kurikulum Nasional Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional yang disempurnakan dengan muatan lokal terutama Jiwa Kemandirian, MIPA dan Agama.

B.   Unit Usaha

1. PT DaFa Teknoagro Mandiri

PT. DaFa Teknoagro Mandiri sebagai produsen bibit unggul terdepan, saat ini telah memproduksi berbagai bibit tanaman holtikultura, kehutanan dan perkebunan.

Bibit yang telah diproduksi antara lain kentang granola dan atlantic, pisang buah (Tanduk, Ambon, Emas, Mulubebe), pisang abaca, Chrysanthemum (20 jenis), Anggrek (Phalaenopsis, Dendrobium), Jati Kencana (fast growing) dan vanili.  Yang masih dalam penelitian antara lain gaharu, ramin, rami, ubi dan talas jepang serta mahkota dewa.

Dalam lima tahun mendatang diproyeksikan produk kentang menjadi benchmark produsen benih di Indonesia baik Plantlet, benih G0, G1 dan G2.  Dengan jaringan petani penangkar di seluruh Indonesia dan market share 5 % kebutuhan benih kentang nasional mampu memproduksi 5.000 ton benih G4 per tahun.

Dengan aset perusahaan yang dimiliki antara lain bangunan laboratorium (798 m2), green house (60 m2), nursery net house (2.000 m2) dan lahan benih (2 Ha) diharapkan menjadi

sarana bagi santri untuk dapat mempelajari dan mempraktekkan pengetahuan yang dimilikinya.

2. Kopontren Darul Fallah

Koperasi Pesantren Darul Fallah didirikan pada tahun 1969. Anggota koperasi adalah seluruh warga Pesantren yaitu pengurus yayasan, pengelola, ustadz, karyawan dan santri serta simpatisan Darul Fallah.

Fasilitas yang ada yang berfungsi juga sebagai sarana pembelajaran antara lain :

§  Unit Simpan Pinjam Syariah

§  Warung Serba Ada Koperasi

§  Pupuk Organik Bokashi

§  Konsultasi dan Pelatihan Perkoperasian

§  Lembaga pemberdayaan usaha kecil menengah di bawah Kementerian Koperasi

3. Unit Usaha Peternakan

Aset usaha peternakan antara lain kandang (sapi perah, sapi penggemukan, domba, kambing perah) seluas 3.000 m2, lapangan rumput seluas 3 Ha lebih, unit pengolahan hasil susu, pembuatan pupuk bokasi dan intalasi biogas serta kolam ikan. Program unit usaha peternakan antara lain pengembangan jumlah dan kualitas ternak, diversifikasi usaha, pengelolaan produksi spesifik dari hulu sampai hilir dan mendirikan pusat pelatihan bisnis peternakan. Pengelolahan hasil peternakan seperti susu pasturisasi (kambing dan sapi) dan yogurt dari susu sapi.

4. Usaha Rumah Tangga

Para staf dan karyawan PP. Darul Fallah diberikan kesempatan untuk mengelola usaha-usaha kecil yang bernilai ekonomis tinggi. Usaha-usaha tersebut di antaranya nata de coco (Amalia), nata de aloe vera/lidah buaya (alera, jamur tiram dan lain-lain.

5. Pertukangan dan Perbengkelan

Pesantren memiliki bengkel kayu dan bengkel besi sebagai sarana pembelajaran bagi para santri.

6. Hutan Rakyat

Hutan Rakyat ini ditujukan untuk menumbuhkan dan mendukung program lain seperti wisata rohani, outbond, percontohan dan pendidikan kehutanan, dengan menggunakan alokasi lahan seluas 5 Ha. Dibuka pertama kali dengan penanaman sengon pada tahun 1998 (kerja sama dengan IPB), dan sudah mulai dipanen pada tahun 2007 ini, bersamaan dengan peluncuran Program “Mari Menanam Sejuta Sengon” oleh Menteri Kehutanan RI.

Areal ini juga menjadi area praktikum santri yang dikombinasikan dengan penanaman jati untuk investasi jangka panjang.

7.   Agrowisata Rohani

Panorama areal pesantren yang indah, sejuk dan nyaman, dengan suasana agamis dan fasilitas masjid mendukung untuk wisata rohani. Obyek penunjang seperti persemaian, kolam ikan, anak kambing berkeliaran, hutan dan track yang terarah akan mendukung wisata pendidikan, pertanian, outbond yang islami.

8. Lembaga Penunjang Lainnya

  • Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S)
  • Lembaga Mandiri yang Menagakar di Masyarakat (LM3)
  • Pusat Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama antar pesantren se Jabotabek, Jawa Barat dan Banten.

Semua unit-unit usaha yang dimiliki Pesantren Pertanian Darul Fallah menjadi sarana media pendidikan dan praktikum santri pada bidang studi IPA, Ekonomi, manajemen lingkungan dan pengujian mutu produk.

  • Ketersediaan Sarana dan Fasilitas

Darul Fallah saat ini telah memiliki fasilitas dan sarana sebagai untuk mendukung berbagai kegiatan pelatihan  antara lain :

§  Pusat pelatihan ini memiliki fasilitas 15 kamar penginapan dengan kapasitas dengan daya tampung saat ini 60 orang .

§  Sarana Belajar (Kelas, Laboratorium & Perpustakaan)

§  Masjid sebagai pusat aktivitas

§  Asrama & ruang makan putra – putri (terpisah)

§  Lapangan Olahraga

§  Aula/Gedung Serba Guna

§  Camping Ground/Outbound

§  Sarana Perbengkelan & Keterampilan

  • Ketersediaan Sarana Penunjang

Darul Fallah saat ini telah memliki sarana penunjang untuk mendukung berbagai kegiatan pelatihan  antara lain :

§  Pabrik makanan ternak (kapasitas 100 ton)

§  Mesin Pasteurisasi susu

§  Pendingin/freezer dengan kapasitas besar

§  Instalasi biogas dari kotoran ternak

§  Instalasi hidram (pompa air system hidrolis)

§  Vacuum Frying

§  Alat pengiris singkong, pemarut kelapa, penggiling cabe

§  Alat pemotong rumput, pengrajang rumput, dan penggiling pellet makanan ternak.

§  Kandang (sapi perah, sapi penggemukan, domba, kambing perah) seluas 3.000 m2,

§  Lapangan rumput seluas 3 Ha lebih,

§  Unit pengolahan hasil susu,

§  Pabrik pembuatan pupuk bokasi.

§  Laboratorium Kultur Jaringan

Jenis Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat

§  Santunan Terhadap Anak Yatim

Di sekitar pemukiman pesantren terdapat anak-anak yatim dari keluarga miskin.  Karena kemiskinan itu, mereka sebagian besar tidak menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar.Maka dibentuk Unit Kerja untuk mengumpulkan dana serta menyantuni keperluan pendidikan anak-anak yatim itu. Hal itu dilakukan dengan bekerjasama dengan Biro Anak Yatim BKSPP dan DDII. Sekarang praktis tidak ada anak yatim di 4 kampung dari 2 desa yang tidak menamatkan SD. Sebagian mereka melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Darul Fallah. Saat ini ada lebih dari 120 anak yatim yang secara berkala mendapatkan santunan alat-alat belajar, dan masih sangat kecil yang mendapat beasiswa belajar secara penuh.

§  Pesantren Kilat

Setiap tahun pesantren menyelenggarakan Pesantren Kilat selama 12 hari untuk setiap angkatan. Semula Pesantren Kilat diselenggarakan di bulan Ramadhan, tetapi setelah sekolah umum tidak libur di bulan Ramadhan, Pesantren Kilat diselenggarakan pada hari libur panjang bulan Juni-Juli. Setiap angkatan diikuti sekitar antara 120-200 santri dari pendidikan tingkat SD kelas V dan VI, tingkat SLP dan SLA.

§  Pelayanan Pengajaran pada Majelis Ta’lim

Para pengasuh pesantren secara bergantian memberikan pengajian di dusun Kebun Eurih, dusun Lebak Gunung, dan dusun Gunung Leutik.  Pengajian itu berlangsung untuk seminggu sekali setelah shalat Isya.  Di samping itu di pesantren setiap malam Sabtu diadakan pengajian warga pesantren (pria dan bukan santri), dan pada Sabtu sore pengajian kaum ibu di mesjid pesantren bersama masyarakat sekitar.  Pesantren juga menjadi penyelenggara pengajian gabungan dari Pondok Pesantren Bogor (Majelis Ulil Albab) yang berlangsung setiap hari Ahad kedua bulan Masehi yang bersangkutan.

§  Pembinaan Masyarakat Desa Hutan

Pada bulan September 1999, Pesantren Pertanian Darul Fallah dengan PERUM PERHUTANI Wilayah I Jawa Barat menandatangani kesepakatan bersama untuk membina sekitar 500 petani yang mengolah lahan PERUM PERHUTANI di Kecamatan Cariu Kabupaten Bogor.  Peran pesantren adalah membina mental, mengusahakan pinjaman modal kerja serta memberikan bimbingan teknik budidaya tanaman sela.

§  Memberikan Konsultasi Agribisnis

Di pesantren dibentuk Klinik Konsultasi Agribisnis (KKA) dengan menempatkan tenaga ahli dari pesantren, IPB dan Dinas-Dinas.  KKA berada dalam naungan Yayasan Konsultasi Agribisnis yang dibentuk oleh pribadi-pribadi tingkat pusat Departemen Pertanian.

§  Menyediakan Fasilitas Lapangan Olahraga

Sejumlah 5 SD di sekitar pesantren menggunakan lapangan olahraga pesantren untuk mengajar olahraga bagi muridnya.  Hal itu dikarenakan kurangnya lapangan sepak bola di Kecamatan Ciampea (hanya ada 1 untuk 18 desa). Sekolah Bola CIWA yang diselenggarakan oleh PS CIWA juga menggunakan lapangan pesantren untuk latihan. Telah disepakati bahwa pesantren akan ikut membina mental anak-anak bola yang berjumlah hampir 200 anak (SD dan SLP).

§  FOSMATREN (Froum Silaturahmi Pondok Pesantren)

Lembaga silaturahmi yang dibentuk untuk mewadahi alur komunikasi antar pondok pesantren dalam berbagai kegiatan pengembangan masyarakat. Sampai saat ini kegiatan yang telah dilaksanakan diantaranya :P engadaan dempon peternakan di cijeruk Bogor, Dempon kacang tanah di Cileungsi Bogor, Dempon Tanaman Hutan di Ciampea Bogor, Dempon Ikan Lele Sangkuriang.

§  Kelembagaan Intern Pendukung

Untuk penyelenggaraan berbagai pelatihan itu pesantren mengembangkan berbagai kelembagaan seperti Yayasan Desa Bahagia (YDB), Badan Koordinasi Pengembangan Koperasi Pondok Pesantren  (BKP Kopontren), Unit Pelayanan dan Pengembangan Teknologi Pertanian Agribisnis (UPPTPA), Unit Klinik Konsultasi Agribisnis (KKA), Pusat Pendidikan Pelatihan Pertanian Swadaya (P4S), Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat (LM3), dll.

Untuk Informasi Lebih Lanjut :

YAYASAN PESANTREN PERTANIAN DARUL FALLAH

JL. RAYA BOGOR-CIAMPEA KM 12 BOGOR 16620

TELP/FAX : 0251- 8622303/ 8622278

EMAIL : info@darulfallah.org , WEBSITE : www.darulfallah.org

Puluhan Sekolah Tidak Punya Kepsek

sdrCIBUNGBULANG – Puluhan SD, SMP, SMA/SMK di Kabupaten belum mempunyai kepala sekolah (Kepsek). “Untuk sementara jabatan Kepsek diisi Plt atau dari sekolah terdekat,” kata Kadisdik Kabupaten Bogor M Lukman kepada Radar Bogor, kemarin.

Saat ini, sambung Lukman, ada 72 SD, 10 SMP dan 10 SMA/ SMK tidak mempunyai Kepsek. Ia mengatakan, calon kepsek masih dalam proses seleksi yang nantinya akan ditempatkan pada setiap sekolah yang tidak mempunyai pimpinan.

Para calon kepsek, kata Lukman, tidak serta merta  lolos tanpa mengikuti test, tapi harus  melalui beberapa tahapan. Diantaranya seleksi administrasi, kesehatan, tertulis, skolastik test (kepemimpinan serta psikotes), ekspos karya tulis ilmiah, pengumuman hasil dan terakhir pelatihan oleh Badan Diklat Kabupaten Bogor.

Ia berharap tahun ajaran baru Juli mendatang sudah dilakukan penempatan kepsek, sehingga semua sekolah mempunyai pimpinan. “Proses seleksi Kepsek di Kabupaten Bogor memang yang terpanjang,” ucapnya.

Menurut Lukman, proses seleksi panjang tersebut dilakukan agar menghasilkan  Kepsek yang berkualitas. “Surat sakti atau titipan tidak berlaku,” tegasnya. (luc)

Sub Kontraktor Bongkar SDN Tapos 04

TENJOLAYA - Sub kontraktor pembangunan SDN Tapos 04 Tenjolaya merusak sekolah tersebut. Penyebabnya pelaksana proyek tak membayar sisa pembayaran pemasangan jendela, kusen,  pintu. Selain itu sub kontraktor kesal karena janji pelaksana proyek melunasi sisa pembayaran sebesar Rp18,5juta tak juga terealisasi. Padahal kesepakatan awalnya sub kontraktor mendapatkan  Rp23,5 juta. Sedangkan pelaksana proyek baru membayar Rp5 juta sebagai uang muka.

“Kami mengerjakan pemasangan jendela dan pintu sejak Desember 2008. Tapi hingga saat ini, sisa pembayaran belum dibayar,” ujar Erwan, penanggung jawab sub kontraktor kepada Radar Bogor, kemarin.

Sebelumnya, Erwan sudah melayangkan surat kepada pelaksana proyek, tapi  terkesan rekanan pemkan ini lempar tanggungjawab. “ Kami beberapa kali mengirimkan surat pada pelaksana proyek, tapi tak ada tanggapan,” kata kesal.

Pihaknya mengancam membongkar semua jendela, kusen dan pintu yang sudah selesai terpasang. Kendati begitu masih memberi kesempatan pada pelakana proyek selama satu minggu untuk menyelesaikan seluruh kewajibannya.

Sementara itu, tindakan pembongkaran sembilan buah jendela SDN Tapos 04, membuat Kades Tapos I  Oo Kosasih kesal. Dia menganggap, pembongkaran paksa pihak ketiga merupakan tindakan pengerusakan.

Makanya pihaknya segera melaporkan kejadian ini ke Polsek Ciampea.

“Ini sudah termasuk pengrusakan. Masak aset negara dirusak, saya segera lapor polisi,” ancamnya.

Sedangkan Camat Tenjolaya Abdullah Sjirodz,  menilai sub kontraktor terlalu memikirkan diri sendiri. Seharusnya, melaporkan tindakan pelaksana proyek  ke kantor kecamatan maupun ke kantor desa.

Bahkan, proses pembangunan SDN Tapos 04 ini tak ada laporan ke kecamatan. Begitu pun laporan siteplan maupun bastek pembangunan. Padahal, anggaran untuk pembangunan tiga lokal ini berasal dari APBD hasil usulam masyarakat melalu Musrenbang 2007.

“Seharusnya rekanan pemkab ini melapor ke kantor kecamatan,” kesalnya.

Ia juga menilai, pembangunan tersebut tak sesuai dana APBD yakni senilai Rp250 juta. Ini terlihat kondisi bangunan yang tidak selesai 100 persen, yakni lantai tak ada kramiknya, dinding tak dicat dan bahan-bahan bangunan tak berkualitas.

Untuk itu, pihaknya melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor dan meminta keterangan kepada kepala UPT Pendidikan TK/SD Tenjolaya dan kepsek SDN Tapos I.

“Kita melaporkan kejadian ini untuk mencari tahu siapa yang salah dalam pembangunan ini,” tandasnya.(dkw)

Disdik Bentuk Tim Pencari Fakta – Aim: Sangat tidak Mungkin Soal UN Bocor

April 24 2009 oleh  
Kategori Bogor Barat Terkini, Pendidikan, Sosial Budaya

SHOLEH ISKANDAR – Beredarnya kunci jawaban palsu via handphone (HP), membuat Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) geram. Tak ingin dianggap lambat, Kepala Disdikpora Aim Halim Hermana segera membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk mengkaji dan mengusut oknum penyebar jawaban Ujian Nasional (UN) palsu tersebut.

Menurut Aim, peredaran jawaban UN palsu itu sangat menyakitkan karena bisa merusak kredibilitas penyelenggaraan pendidikan di Kota Bogor. Selama ini Disdikpora sudah mewanti-wanti kepada penyelenggara pendidikan, terutama tingkat SMA, untuk seminimal mungkin mencegah hal-hal negatif dalam penyelenggaraan UN tahun ini.

“Ada oknum yang ingin merusak situasi pendidikan di Kota Bogor dengan menyebar kunci jawaban palsu. Terutama sekolah-sekolah yang sudah menyiapkan sebaik mungkin penyelenggaraan UN,” jelas Aim ketika ditemui Radar Bogor usai sarasehan Milad ke-48 Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.

Adanya kebocoran yang dilakukan oknum sekolah, dengan tegas Aim membantahnya. “Sangat tidak mungkin soal UN itu bocor. Saya jamin itu,” tegasnya. Keyakinan itu cukup beralasan. Menurut Aim, selama ini pengamanan lembar soal maupun pendistribusian hingga ke sekolah menggunakan pengamanan berlapis. Artinya, banyak elemen yang mengawasi soal-soal tersebut.

“Sekarang gimana mau bocor, toh soalnya saja diawasi banyak elemen mulai dari Tim Pemantau Independen (TPI), polisi dan Satgas Pelajar. Jadi tidak mungkin ada kebocoran,” imbuhnya. Kalaupun nanti terbukti ada guru atau sekolah yang berulah, sambung Aim, hukum akan berbicara karena sanksi tegas sudah menanti.

Sementara itu, kecurangan pelaksanaan UN yang diduga melibatkan oknum guru dan sekolah mendapat reaksi keras Walikota Bogor Diani Budiarto.  Orang nomor satu di Kota Bogor itu menyatakan jika ada oknum guru terbukti berbuat curang, termasuk main mata dengan siswa, guru tersebut dapat dipidana. “Kalau terbukti, dia (oknum, red) akan dikenakan sanksi tegas, bahkan bisa dipidana,” tegas Diani.

Akan tetapi, lanjut Diani, kebocoran soal ataupun keterlibatan guru dalam membantu siswa masih sebatas asumsi dan belum dapat dibuktikan. “Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa oknum guru membagikan kunci jawaban kepada siswa melalui SMS,” tambahnya.

Walikota Bogor pertama pilihan rakyat itu mengakui sebagian siswa mempercayai kunci jawaban palsu karena takut tidak lulus UN. “Siswa panik karena takut tidak memenuhi standar  kelulusan. Disdikpora sudah menyampaikan kepada sekolah dan guru agar siswa percaya diri. Kenyataannya, masih banyak juga yang percaya dengan kunci jawaban palsu itu,” bebernya.

Menyikapi dugaan kebocoran soal dan keterlibatan oknum guru membagikan kunci jawaban kepada siswa, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) mengadakan rapat mendadak untuk mengevaluasi pelaksanaan UN tahun ini.

Rapat yang dilaksanakan di SMAN 1 itu diikuti kepala SMA se-Kota Bogor. “Kita akan mengevaluasi pelaksanaan UN,” ujar Ketua MKKS Agus Suherman.

Ketua Sub Rayon SMA Kota Bogor itu menyatakan pelaksanaan UN tahun ini berjalan lancar. Meski begitu, Agus mengakui bahwa UN masih diwarnai beredarnya jawaban palsu di lingkungan pelajar.

“Itu sangat disayangkan. Jauh-jauh hari siswa sudah diimbau percaya diri dan tidak mempercayai kunci jawaban yang beredar. Kunci jawaban palsu via SMS itu berasal dari luar sekolah yang memanfaatkan momen UN untuk mencari keuntungan,” beber Agus.

Untungnya, lanjut Agus, tidak semua siswa tergiur dengan jawaban palsu tersebut. “Alhamdulillah, di SMAN 1 tidak ada siswa yang percaya dengan kunci jawaban yang beredar via SMS itu. Soalnya jauh sebelum pelaksanaan UN, kita sudah menyampaikan kepada siswa agar tetap percaya diri,” tegas Agus.

Secara pribadi, kepala SMAN 1 itu mengatakan, memang ada indikasi kekhawatiran siswa untuk melakukan segala cara agar bisa lulus UN. Namun sebagai bagian dari pemerintah, dirinya harus tunduk dan patuh terhadap peraturan. “Standar kelulusan UN ditetapkan pemerintah. Karena itu, kita wajib mengikutinya,” ujarnya.

Sementara itu, beberapa analisis keluar setelah diberitakan kebocoran soal dan beredarnya jawaban UN di kalangan pelajar. Koordinator TPI Kota Bogor Bibin Rubini menganalisa maraknya jawaban UN yang beredar ditengarai dari beberapa pihak. Contohnya, dari bimbingan belajar (bimbel, red) yang ingin semua siswanya lulus dengan nilai baik. Kemudian penyebaran jawaban UN via HP yang dilakukan beberapa oknum guru ke sekolah lain sebagai cara menjatuhkan reputasi sekolah tersebut.

Terakhir, dari persaingan usaha pemenang tender pengadaan soal UN. Pemenang tender sangat jorok dalam membuat soal, sehingga bisa berkeliaran secara bebas.

“Tapi semua itu hanya analisis ringan. Saya yakin jawaban yang beredar di kalangan pelajar adalah jawaban yang menyesatkan dari pihak-pihak di luar,” jelas Bibin, kemarin.

Bibin menjelaskan, yang disebut kebocoran adalah saat sebelum pelaksanaan ujian lembar soal sudah beredar. Dalam masalah yang terjadi di Kota Bogor, tidak ada fakta yang menyebutkan beredarnya soal tersebut sebelum pelaksanaan ujian. “Sampai detik ini, kami tidak menerima laporan tentang itu,” tegasnya.

Meski tidak mempercayai adanya kebocoran soal, terang Bibin, TPI tetap akan menyelidiki dan memperketat pengawasan distribusi soal dan pelaksanaan UN.

“Percayalah kami akan melakukan tugas dengan baik dan benar. Ada yang dipertaruhkan di sini (nama lembaga, red) kalau kami melakukan hal-hal di luar aturan,” imbaunya. (rid/dei/roy)

sumber : radar-bogor.co.id

Next Page »

  • Advertisement

    Wirausaha