Akhirnya black box Sukhoi Superjet 100 ditemukan

Pada hari ketujuh setelah Sukhoi Superjet 100 Rusia dinyatakan mengalami kecelakaan penerbangan di punggungan Gunung Salak, tim SAR dari unsur Komando Pasukan Khusus TNI-AD menemukan black box pada jurang terjal. Kondisi black box masih cukup utuh dan akan dibaca serta dianalisis KNKT guna menentukan sebab musabab kecelakaan pada Rabu siang lalu itu (9/5). (FOTO ANTARA/Ismar Patrizki)

Akhirnya black box Sukhoi Superjet 100 ditemukan pada Selasa pagi di punggungan Gunung Salak, Jawa Barat. Pengumuman resmi penemuan black box oleh satu tim Kopassus TNI-AD itu dilakukan malam hari karena proses pengangkutannya memerlukan waktu hingga lebih tujuh jam naik-turun gunung.

“Medannya terjal sekali. Selasa pagi kami turun ke titik dengan teknik rappeling dari helikopter TNI-AU. Kami bergerak turun sejauh 500 meter ke bawah, masih turun lagi 300 meter ke tempat kami menemukan ekor pesawat terbang yang ada alat komunikasinya, tempo hari,” kata Kepala Dinas Penerangan Kopassus TNI-AD, Letnan Kolonel Infantri Taufik Shabri, dari Pasir Bogor, Jawa Barat, Selasa malam.
Tim yang menemukan, katanya, ternyata harus naik lagi 100 meter di tebing yang kemiringannya bisa sekitar 85 derajad itu. “Di atas itulah kami menemukan benda yang diduga black box itu. Kami sebelumnya mendapat gambaran, seperti apa kira-kira black box itu dari pihak yang berwenang,” kata Shabri.
Setelah meyakini bahwa itu black box, katanya, tim langsung membungkus secara seksama benda itu dan membawa secara simultan dari lokasi persis penemuan. Medan yang sangat terjal memberi tantangan tersendiri bagi tim untuk membawa ke Salak 1, helipad tempat benda-benda temuan dan kantung jenasah ditempatkan sebelum dibawa ke Jakarta.
“Perlu waktu lebih dari tujuh jam tanpa henti untuk mereka bisa membawa black box itu. Naik-turun gunung berjalan kaki dan memakai teknik memanjat tebing agar misi bisa berjalan baik,” kata Shabri. Itulah sebabnya maka pengumuman resmi penemuan black box itu baru dilaksanakan pada Selasa malam.
Sebagai gambaran, waktu tujuh jam lebih itu setara dengan waktu yang diperlukan pendaki untuk mencapai puncak Gunung Rinjani di Provinsi NTB dari pos awal pendakian.
Kolonel Infantri AM Putranto sebagai ketua Tim SAR Gabungan di sana mengumumkan hal itu kepada pers yang telah menunggu di Salak 1. Kotak hitam itu tidak lagi berwarna asal –oranye– melainkan sudah gosong walau kondisinya masih lengkap.
Untuk selanjutnya black box itu akan diterbangkan ke Jakarta untuk kepentingan penyelidikan sebab-musabab kecelakaan Sukhoi Superjet 100 pada Rabu siang lalu (9/5), yang menyebabkan 45 peserta penerbangan itu berakhir tragis.
Black box terdiri dari dua instrumen utama: cockpit voice recorder yang merekam pembicaraan di dalam kokpit dan antar awak pesawat terbang, dan flight data recorder yang merekam performansi ratusan instrumen secara bersamaan di dalam pesawat terbang.
Paduan hasil pembacaan kedua instrumen itu menyumbang secara signifikan dalam rekonstruksi dan penentuan penyebab kecelakaan. Di Indonesia, KNKT adalah satu-satunya pihak yang berwenang membaca dan mengolah hasil pembacaan black box itu. (*)
sumber : antaranews.com

Kabupaten Bogor Siapkan Skenario Tarif Angkutan

March 26 2012 oleh  
Kategori Bogor Barat Terkini, Transportasi

angkutan kota bogor

Pemerintah Kab. Bogor melalui Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) telah menyusun beberapa scenario kenaikan tarif angkutan umum di wilayah Kab. Bogor manakala pemerintah pusat jadi menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per 1 April mendatang. Skenario kenaikan tarif angkutan tersebut telah dibahas bersama-sama dengan Organda, sebagai organisasi angkutan darat.

Demikian dikemukakan Kepala DLLAJ Kab. Bogor, R. Soebiantoro yang didamping Kasi Angkutan DLLAJ Joko Handrianto, Minggu (25/3) di Cibinong, Kab. Bogor. Menurutnya sejak muncul pembahasan tentang rencana kenaikan harga BBM, pihak DLLAJ ditugaskan Bupati Bogor untuk melakukan langkah antisipasi, terutama menyangkutan angkutan umum.

Dijelaskan Soebiantoro, kenaikan harga BBM sebagai tahun-tahun sebelumnya langsung berdampak kepada angkutan umum yang notabene berhubungan dengan masyarakat luas. “Maka, ketika pemerintah pusat memunculkan ada kemungkinan BBM naik harganya, maka Pak Bupati Rachmat Yasin meminta DLLAJ bersama stakeholdersnya untuk melakukan langkah antisipasi, sehingga jika jadi naik harga BBM sudah ada langkah yang harus dilakukan,” katanya.

Untuk itu, telah dilakukan pertemuan DLLAJ dengan sejumlah pihak seperti Organda, aparat kepolisian, dina-dinas terkait dan unsur lainnya untuk membahas berbagai kemungkinan yan terjadi, serta apa saja langkah yang harus dipersiapkan. Mengenai kenaikan harga BBM, kata Soebiantoro, hasil pertemuan dengan berbagai pihak tersebut, akhirnya DLLAJ menyusun sejumlah scenario khusus mengenai tarif angkutan umum, manakal harga BBM jadi dinaikan mulai 1 April mendatang. “Kita sudah buat sejumlah scenario khusus mengenai tarif angkutan umum untuk antisipasi manakala harga BBM naik,” ujarnya.

Skenario yang disusun adalah mulai dari kenaikan harga BBM sebesar Rp 500,00 maka dibuat kira-kira berapa tarif angkutan akan dinaikan. Begitu juga scenario kenaikan harga BBM sebesar Rp 1.000,00 naik Rp 1.500,00 sampai harga BBM naik mencapai Rp 2.000,00 per liter.

Dari hasil skenario langkah antisipasi tersebut yang juga berdasarkan hasil usulan dari pihak organda dan kajian lainnya, maka kenaikan tarif angkutan umum di wilayah Kab. Bogor mulai dari 11 persen sampai 44 persen dari tarif yang berlaku saat ini. Skenario kenaikan tarif tersebut sangat tergantung berapa besar keputusan pemerintah menaikan harga BBM. “Jika nanti pemeritah pusat menaikan harga BBM sebesar Rp 1.500,00 perliter, maka kenaikan tarif angkutan sudah disusun kira-kira akan naik tarif sekian persen dari tarif yang berlaku saat ini,” kata Soebiantoro.

Pihak DLLAJ sendiri belum mau menyampaikan secara terbuka tentang berapa besar kenaikan tarif angkutan umum, karena belum ada keputusan resmi dari pemerintah pusat tentang kenaikan harga BBM. Kemudian, pengumuman kenaikan tarif angkutan umum juga menunggu keputusan resmi dari Kementerian Perhubungan.
sumber : pikiran-rakyat.com

Tarif Angkot Naik 35 Persen

Tarif Angkot akan naik (Bogor)

Warga Bogor harus sudah siap-siap merogoh koceknya dalam-dalam untuk biaya transportasi angkutan umum. Pasalnya, walaupun  kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) belum ditetapkan, namun Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) sudah ancang-ancang menaikkan tarif angkutan umum. Jika harga BBM naik Rp1.500 per liter, maka tarif angkutan umum akan naik 30-35 persen.

Ketua Umum Organda, Eka Sari Lorena Soerbakti mengungkapkan, pengeluaran untuk membeli BBM memakan porsi 30-40 persen dari biaya operasional angkutan umum. Dengan rencana kenaikan harga BBM sebesar Rp1.500 per liter, diperkirakan pengeluaran untuk BBM akan bertambah 15-17 persen. ”Ada tambahan biaya sekitar 15-17 persen,” ujarnya saat dihubungi kemarin.

Padahal, lanjutnya, biaya operasi kendaraan (BOK) angkutan umum saat ini saja sudah 18,37 persen di atas tarif yang berlaku sekarang. Dengan begitu, seharusnya usulan kenaikan tarif  bagi angkutan kota dan angkutan umum jarak pendek dan menengah, minimum 18,37 persen. ”Itu belum memperhitungkan kenaikan harga BBM dan kendala infrastruktur lho,” tandasnya.

Buruknya infrastruktur jalan sekarang ini dianggap cukup membuat biaya perawatan dan pemeliharaan kendaraan menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya. Apalagi harga suku cadang juga tengah mengalami kenaikan. ”Itu akibat dari tidak adanya insentif fiskal dari sisi perpajakan yang diberikan pemerintah kepada sektor transportasi darat. Ini cukup menyu­litkan bagi yang ingin merevita­lisasi kendaraannya,” kata dia.

Mempertimbangkan beberapa faktor itu saja, dia memperkirakan kenaikan tarif angkutan umum seharusnya berkisar antara 30-35 persen dari tarif saat ini. Hitungannya, dari biaya operasi yang lebih tinggi 18,37 persen, dan dari estimasi kenaikan harga BBM diperkirakan 15-17 persen. ”Artinya 18,37 persen plus 15-17 persen. Jadi ada kenaikan 33-35 persen, dibulatkan saja 30-35 persen,” tukasnya.

Pihaknya mengaku cukup menyesalkan rencana kenaikan BBM tersebut, sebab sebelumnya Organda selalu ikut aktif dalam rapat-rapat mengenai subsidi BBM. Menurut dia, kebijakan itu akan semakin membuat masyarakat beralih ke sepeda motor dan memundurkan transportasi publik. ”Saat ini angkutan umum hanya menggunakan tiga persen dari total kuota premium yang disubsidi,” sebutnya.

Seharusnya, kata dia, angkutan umum tetap mendapatkan BBM subsidi. Untuk memastikan subsidi jatuh di tangan angkutan umum, pemerintah bisa menunjuk stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang melayani khusus angkutan umum. ”Kalau kenaikan harga BBM itu untuk angkutan umum juga, sama saja membunuh transportasi umum,” tuturnya.

Ketua Organda Kota Bogor M. Ischak Abdul Rojak, mengatakan, sampai  saat ini belum diketahui apakah akan ada penyesuaian tarif angkot, jika terjadi kenaikan BBM pada bulan april nanti.

Ischak menambahkan, pihak Organda Kota Bogor maupun para sopir angkot juga tidak dapat menentukan jumlah tarif,  karena  menunggu  Surat Keputusan (SK) Walikota yang mengatur tentang kenaikan tarif angkot di Kota Bogor.

Ia pun menjelaskan,  sampai saat ini tarif jarak jauh angkot di Kota Bogor masih sekitar Rp 2000,-, namun jika memang akan naik, hanya naik Rp 500,- dari tarif yang ada saat ini.  “ Kami tidak bisa menaikan terlalu tinggi, karena kasihan masyarakat juga kalau tarifnya naik terlalu tinggi, tapi kami masih tunggu SK Walikota jika memang benar akan ada kenaikan,” imbuhnya.

Sedangkan Wakil Kepala Organda Kabupaten Bogor, Wawan Gumelar mengatakan,  kenaikan harga BBM pastinya akan berpengaruh terhadap tarif angkutan umum. “Kami masih belum ada rancangan  kenaikan tarif angkutan umum, tapi sudah ada gambaran.”ujarnya kepada Radar Bogor, saat dihubungi melalui telepon, kemarin.

Sementara itu, Menteri Perhubungan (Menhub), EE Mangindaan mengatakan, saat ini sudah mulai dibahas besaran kenaikan tarif angkutan. ”Tapi belum kami putuskan,” kata Mangindaan usai menghadiri pengucapan sumpah ketua MA di Istana Negara.

Mangindaan mengatakan, untuk angkutan laut dan kereta api sudah disiapkan dengan PSO (public service obligation). Menurut dia, problem terletak pada angkutan kota, pedesaan dan angkutan kota dalam provinsi. ”Kami sedang minta masukan dari bawah bagaimana cara mengatasinya, bagaimana kompensasinya,” tutur mantan menteri pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi itu.

Dia mengakui sudah bertemu dengan Organda dan akan melakukan pertemuan lagi untuk pembicaraan lebih lanjut. Mengenai persentase kenaikan, ia juga masih belum memberikan bocoran. ”Karena tergantung karakter daerah masing-masing kan,” katanya.

Rencana kenaikan harga BBM juga berpengaruh pada sejumlah asumsi makro ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi. Dalam draf rancangan UU APBN-P yang diserahkan ke DPR, pemerintah menurunkan target pertumbuhan dari 6,7 persen (sesuai APBN) menjadi 6,5 persen.

”Nanti akan di-exercise. Kita lihat nanti seperti apa. Memang tren dunia pertumbuhannya menurun,” kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Hatta Rajasa setelah rapat terbatas.

Sementara untuk inflasi, Hatta menyebutkan akan mengalami kenaikan. “Hanya managable berkisar enam sampai tujuh, sekitar itu bergeraknya. Tapi yang penting harga pangan jangan bergejolak,” katanya. (wir/fal)
sumber berita: radar-bogor.co.id,
gambar: pos-kota.co.id

Jembatan di Rumpin Berbahaya

Jembatan Gantung Desa Leuwibatu (mediaindonesia.com)

Kondisi sejumlah jembatan bambu maupun beton di Kecamatan Rumpin, cukup memprihatinkan serta dapat membahayakan warga yang melintasinya.

Bahkan, dibukanya akses armada tambang jenis tronton ke arah Jembatan Leuwiranji-Gunungsindur menimbulkan ke-khawatiran sejumlah warga dan pengguna jalan.

Pasalnya, meskipun kondisi Jem-batan Leuwiranji sudah berstatus stadium 3 (sangat kritis, red), ratusan truk tronton bermuatan lebih dari 40 ton tetap memaksa melintas di atas jembatan secara bersamaan.

Imbauan petugas DLLAJ, yang disampaikan agar kendaraan melintas satu per satu dan pembatasan tonase maksimal 8 ton diabaikan para sopir.

Tokoh masyarakat Leuwiranji, Badrudin mengusulkan, untuk mengurai volume kendaraan ke arah Leuwiranji, sebaiknya portal Cikoleang ke arah Cisauk dibuka untuk akses tronton. ”Kalau itu dibuka, nanti kendaraan yang melintas sebagian bisa diarahkan ke Cisauk, supaya yang melintas ke Leuwiranji bisa diurai,”  katanya.

Namun, usulan tersebut dipastikan akan mendapat penolakan warga Cikoleang karena pada saat pengalihan arus armada tambang sementara, saat penutupan jalan Leuwiranji pekan lalu, warga Cikoleang menolak solusi tersebut. Sejumlah tronton, akhirnya terpaksa diarahkan ke arah Banjarpinang melalui Jalan Malapar, Desa Sukamulya.

Tak hanya itu, lebih dari 4.000 warga Kampung Kantalarang 1, Kantalarang 2 dan Kantalarang 3, Desa Leuwibatu terancam ter-isolir karena kondisi jembatan gantung yang biasa digunakan cukup memprihatinkan.

Jembatan gantung yang berada di atas Sungai Cikaniki itu meng-hubungkan Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, dengan panjang mencapai sekitar 70 meter, ketinggian permukaan air lebih dari 7 meter dan kedalaman air mencapai 10 meter, terutama saat turun hujan.

”Sejak tahun 1992, tak pernah ada bantuan dari pemerintah. Kalaupun ada perbaikan, swadaya masyarakat tapi tak menyeluruh,”  ucap salah satu warga, Asep (35).

Menurut dia, ada satu jalan lain menuju Desa Karehkel maupun sebaliknya namun kondisinya lebih membahayakan karena hanya jalan setapak, rusak, dan jaraknya lebih dari tiga kilometer ke jalan desa.

Tak hanya itu, kondisinya masih hutan karet dan rawan kejahatan karena sepi. ”Bisa ke jalan perkebunan kayu Bosbow, Gunung Pangangkan, tapi jauh dan berbahaya,” tuturnya.

Menanggapi masalah ini, Kepala UPT Jalan dan Jembatan wilayah Leuwiliang, Asman Dilla mengatakan, telah memeriksa kondisi semua jembatan dan melaporkannya kepada Dinas Binamarga dan Pengairan (DBMP) Kabupaten Bogor.

Menurut dia, pengawasan terus dilakukan demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan. ”Semua telah kita data dan laporkan,”  ucapnya.(ful/luc)
sumber : radar-bogor.co.id

Jalur Baru Trans Pakuan Masih Temui Kendala

Transpakuan (Kabarpublik.com)

Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT) Kota Bogor berencana membuka jalur baru moda transportasi umum Trans Pakuan. Hanya saja, pembukaan jalur baru ini masih menemui sejumlah kendala, salah satunya pengalihan angkutan kota (angkot) yang melintas di jalur ini dengan bus Trans Pakuan.

Direktur Operasional PDJT Tri Handoyo, Kamis (1/3/12) mengatakan jalur baru yang akan dibuka melalui jalur tengah, yakni dimulai dari terminal Bubulak, Jalan Ir. H. Juanda dan berakhir di halte Cidangiang, Baranangsiang. “Targetnya tahun ini terealisasi. Namun, ada banyak hal yang perlu kita bahas dengan pengusaha angkot misalnya,” kata Handoyo.

Sebagai permulaan, pihaknya bersama Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) dan Organda Kota Bogor masih melakukan sosialisasi kepada sejumlah pihak terkait. “Kita akan bicarakan dengan para pengusaha angkot untuk diajak bermitra. Sebab, jalur yang dilalui oleh bus saat ini merupakaan jalur angkot,” ujarnya menambahkan. Bentuk kemitraan yang akan ditawarkan, misalnya berupa konversi angkot ke bus. Tiga unit angkot akan dialihkan menjadi satu unit bus.

“Realisasinya nanti, apakah mereka akan menjadi pemegang saham atau ada alternatif lain, kita akan bicarakan lagi. Yang jelas kita tidak ingin merugikan para pengusaha dan sopir angkot,” tambah Handoyo. Saat ini, jumlah bus Trans Pakuan bantuan dari Kementerian Perhubungan berjumlah 30 unit. Pihaknya berencana menambah 30 bus baru untuk jalur baru tersebut.

Saat ini, moda Trans Pakuan sendiri tidak begitu menjadi primadona di Kota Bogor seperti awal kemunculannya. Awalnya, banyak penumpang dan warga yang beralih ke Trans Pakuan. Namun, akhir-akhir ini masyarakat kembali pada moda transportasi pribadi atau angkot dengan alasan kenyamanan.
sumber : pikiran-rakyat.com

Kronologi Runtuhnya Jembatan Cihideung

Tim SAR Bogor masih mencari korban jembatan Cihideung, Kecamatan Ciampea Bogor Jawa Barat, yang ambruk, Minggu (19/2/2012). Kala peristiwa terjadi, jembatan hanyut bersama 9 orang yang ada di atasnya.

Para korban yang hanyut itu tengah dalam perjalanan pulang dari acara Maulid Nabi Muhammad SAW di wilayah Kampus Dramaga IPB, Minggu sekitar 10.00 WIB. Saat melintas di atas jembatan bambu itu, warga jatuh ke dalam Sungai Cihideung yang tengah mengalir deras akibat hujan.

Berikut kronologinya;

  • Pukul 09.00, rombongan ibu-ibu dan anak-anak sebanyak 22 orang, warga Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, pulang dari acara Maulid di Cibanteng. Mereka melanjutkan perjalanan ke Kampus IPB Dramaga (Dermaga) untuk meneruskan menghadiri acara Mauludan, yang ternyata tidak ada. Warga pun pulang.
  • Pukul 10.00, warga menyeberangi jembatan dala dua kelompok. Pada saat kelompok kedua menyeberang, jembatan yang lapuk itu goyang lalu ambruk.
  • Korban terjatuh ke Sungai Cihideung yang mengalir deras. Arus air deras karena kawasan Bogor dan sekitarnya diguyur hujan sejak Sabtu sore. Beberapa korban yang selamat segera mencari pertolongan.
  • Pukul 11.00, warga mulai mencari korban di Sungai Cihideung, dan sebagian lainnya membentuk Posko informasi
  • Pukul 13.00, korban pertama bernama Umamah (45), warga RT 01/RW 03, ditemukan di sungai di dekat Gunung Leutik dalam kondisi meninggal.
  • Pukul 14.00, data korban dapat divalidasi, yakni 14 orang selamat, 7 orang hilang, dan 1 orang ditemukan meninggal.
  • Saat ini tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap korban yang diperkirakan hanyut di sungai tersebut. Adapun korban selamat sudah pulang ke rumah masing-masing. Korban selamat pada umumnya mengalami luka ringan, seperti lecet dan shock akibat peristiwa tersebut.
  • Berikut nama-nama korban hanyut yang didata oleh petugas SAR:1. Eka binti Eman (9), warga RT 06/RW 02 Kampung Pabuaran
    2. Rafi bin Eman (5), adik Eka
    3. Ajay bin Engkos (9), warga RT 04/RW 02
    4. Jahra bin Juli (6), warga RT 06/RW 02
    5. Umamah (35), warga Kampung Cibanteng RT 01/RW01 Kampung Cibanteng Proyek
    6. Maesaroh bin Haris, anak Umamah
    7. Tia binti Jamal (10), warga RT 04/RW 02
    8. Dini binti Junaidi (10), warga RT 06/ RW 02

sumber : kompas.com

Jembatan Bambu Runtuh, 1 Tewas, 9 Hanyut

Sepuluh warga Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (19/2/2012), hanyut terseret arus Sungai Cihideung setelah jembatan bambu yang mereka lintasi ambrol. Seorang sudah ditemukan tewas dan sembilan lainnya masih dicari.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bogor Yous Sudrajat, menuturkan, kejadian itu disebabkan jembatan bambu yang melintasi Sungai Cihideung tidak kuat menahan beban, sehingga ambrol. “Ada 17 warga yang jatuh, tetapi yang hanyut 10 orang. Satu sudah tewas, sembilan masih kami cari,” katanya.

Menurut dia, warga saat itu dalam perjalanan pulang selepas merayakan Maulid. “Kami juga minta bantuan Basarnas dan Brimob karena medannya sulit,” tuturnya.

sumber:  kompas.com

Jalan Campur Tanah Licin, Motor Berjatuhan

Sebanyak 48 sepeda motor tergelincir di jembatan Abdullah bin Nuh, Kecamatan Bogor Barat pukul 18:30 tadi malam. Saat itu wilayah Bogor diguyur hujan deras, sehingga jalan menjadi licin. Beruntung tak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut.

Peristiwa tersebut diduga karena kondisi jalan yang dilumuri tanah dari proyek pelebaran jalan dan pembangunan jembatan yang sama sekali tidak pernah dibersihkan. Akibatnya saat hujan turun, jalan menjadi licin dan membuat ban slip.

Nana Supriyatna (46), warga Kelurahan Bubulak Kecamatan Bogor Barat, mengatakan, sebenarnya sejak dua hari lalu warga sudah meminta kepada tiga perusahaan, yakni, PT Baita Sari, PT Bumi Duta Persada, PT 3M dan KSO segera membersihkan gundukan tanah yang berada di tengah jalan. Tetapi sama sekali tidak diindahkan.

“Kami sudah meminta kepada para pekerja, tapi mereka diam saja. Alasannya belum ada perintah dari atasan. Untungnya tak ada korban jiwa pada peristiwa tersebut,” jelasnya kepada Radar Bogor.

Dalam kesempatan berbeda, salah satu korban luka ringan, Rahmat Mulyana (48) asal Leuwiliang menegaskan, seharusnya kontraktor lebih memperhatikan keselamatan pengendara. Misalnya dengan membersihkan jalanan dari gundukan tanah.

“Padahal sudah pelan-pelan, tetapi saya tetap saja jatuh. Mestinya mereka melihat situasi dong, ini kan membahayakan keselamatan orang banyak. Siapa yang mau tanggung jawab kalau ada yang tewas,” tutur Rahmat sambil merintih kesakitan.

Menanggapi hal tersebut, Wakapolsekta Bogor Barat, AKP Gatot Susanta menegaskan, masyarakat yang mengalami kecelakaan dan kerugian akibat peristiwa tersebut bisa segera melaporkan ke Polsekta Bogor Barat. Sebab, menurut peraturan, pengusaha jasa konstruksi wajib membersihkan roda kendaraan dari tanah yang menempel serta menjaga jalanan agar tetap bersih.

Pengusaha juga bertanggung jawab apabila ada pengendara yang menjadi korban.

“Bagi warga yang merasa dirugikan, silakan lapor ke sini (Polsek Bogor Barat, red). Sebab undang-undangnya sudah ada. Kalau ada laporan kami akan segera memproses kasus tersebut, agar pihak kontraktor bertanggung jawab,” pungkasnya.(fdy)

foto dan berita : radar-bogor.co.id

Pembangunan Jembatan Cisadane Dikebut

BOGOR-Pembangunan jembatan Cisadane Jalan Abdullah bin Muhammad Nuh diperkirakan mengalami keterlambatan dari jadwal semula, yakni selesai pada Desember mendatang.

Padahal, pengerjaan konstruksi bangunan yang menelan anggaran Rp20 miliar itu, telah dimulai pada Maret lalu dan baru memasuki kondisi sekitar 50 persen. Namun, menjelang dua bulan memasuki tenggat waktu, pengerjaan masih sebatas pada pengecoran konstruksi jembatan saja.

Berdasarkan pantauan Radar Bogor kemarin, jembatan sepanjang satu kilometer dan lebar mencapai lebih dari 100 meter itu sedang dalam proses perampungan oleh pekerja bangunan. Sedikitnya, sebanyak  tiga eskavator tampak melakukan pemerataan tanah yang bertujuan memudahkan pembangunan fondasi jembatan.

Hal ini dikhawatirkan oleh sejumlah warga yang biasa melintasi Jalan Abdullah bin Muhammad Nuh. “Pengerjaan jembatan sering menimbulkan kemacetan, terutama jika akhir pekan jalur pasti ditutup satu arah karena truk selalu membuang muatan di jalan,” keluh Ema Ratnasari (23), warga Kelurahan Semplak, Kecamatan Bogor Barat kepada Radar Bogor, kemarin.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Proyek, Deni menjelaskan, kendala yang dihadapi dalam pengerjaan jalan ada pada kontur tanah yang labil sehingga menghambat proses pengerjaan jembatan. Meski begitu, di beberapa titik sudah terlihat jalan utama walaupun belum selesai sepenuhnya.

“Kendala lain yang dihadapi ada pada kondisi cuaca. Meski sekarang jarang turun hujan, namun tetap saja tidak kondisi tanah labil membuat kami mengambil tanah dari luar agar permukaannya menjadi padat dan keras,” katanya.

Deni tetap optimis jika proyek dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) itu selesai tepat waktu. Agar pekerjaan bisa berjalan dengan lancar, pembangunan dikebut siang malam selama 24 jam.

“Kalau siang kan terganggu dengan arus kendaraan yang selalu melintas sehingga pekerjaan agak tersendat. Namun sebaliknya, jika malam tiba jalan ditutup agar tidak mengganggu proses pengerjaan,” tukasnya.

Terpisah, Pemerhati Konstruksi dan Pembangunan, Thoriq Nasution mengatakan, banyak proyek milik beberapa SKPD yang berjalan lambat disebabkan beberapa faktor.

Antara lain, faktor cuaca dan juga harga bahan baku yang tidak sesuai anggaran. Selain itu, lelang tender yang tidak berjalan sesuai jadwal karena terkadang selalu diwarnai kepentingan tertentu.

“Hal itulah yang kemudian menyebabkan pembangunan terhambat. Sehingga, pemerintah harus merevisi ulang anggaran yang dipakai untuk tahun depan,” pungkasnya. (rur)

sumber : radar-bogor.co.id

Akses Jalan di Desa Situdaun Terputus

Akses utama warga Desa Situdaun, Kec. Tenjolaya, Kabupaten Bogor ke pusat pemerintahan (kecamatan) dan perekonomian terputus karena kondisi jembatan Cinangneng yang tidak memadai. Warga mendesak agar Pemerintah Kabupaten Bogor segera membangun jembatan permanen di atas Sungai Cinangneng yang menghubungkan desa mereka dengan Desa Cibitung Tengah sebagai akses utama ke pusat pemerintahan dan perekonomian.

Apalagi, kondisi jembatan yang tidak layak ini sudah berlangsung lebih dari dua puluh tahun, Saat ini, jembatan yang menghubungkan kedua desa sebagai akses utama ini hanya berupa jembatan rapuh yang terbuat dari bambu. Jembatan sepanjang 25 meter dan lebar 2,5 meter itu hanya terbuat dari susunan bambu yang diikat seutas tali dengan ketinggian lima meter di atas permukaan air sungai. Selain tidak bisa dilalui oleh kendaraan bermotor, jembatan yang sudah rapuh ini juga mengancam keselamatan warga yang melintas. Sebab, beberapa bambu sudah rapuh sehingga tidak jarang ada warga yang terperosok.

Salah seorang warga Situdaun, Rusmat (50), Kamis (3/3) mengatakan sampai saat ini kegiatan perdagangan, pendidikan, serta perekonomian warga di wilayah Cidaun tersendat bahkan tidak bisa berkembang. Sebab, seluruh pusat pemerintahan ada di seberang Sungai Cinangneng. “SMP, SMA, pasar, sampai kantor kecamatan semuanya ada di seberang. Sementara, dengan kondisi jembatan yang hanya terbuat dari bambu, tidak bisa diakses dengan kendaran bermotor,” kata Rusmat.

Dicontohkan Rusmat, untuk ke pasar saja, warga terpaksa memilih ke Pasar Ciampea atau Pasar Bogor dengan pertimbangan ketersediaan angkutan umum serta lebih mudah dijangkau. Sementara, pasar Cipaku yang merupakan pusat pasar di Tenjolaya sulit untuk dijangkau. “Paling pakai ojek, ongkosnya juga sudah berapa. Jadi, akhirnya memilih ke kecamatan lain tetapi mudah ditempuh,” tuturnya.

Kepala Desa Situdaun, Moch. Asep yang ditemui “PRLM” mengatakan sudah berulang kali pihaknya mengajukan pembangunan jembatan ke Pemkab Bogor. Hanya saja, karena banyak jembatan yang harus dibangun di wilayah Kabupaten Bogor, maka rencana itu tidak terealisasi. Sementara, dana PNPM Mandiri tidak bisa memenuhi permohonan warga karena nilai pembangunan jembatan diperkirakan mencapai lebih dari Rp 500 juta. “Kami juga sudah mengajukan permohonan ke tingkat provinsi. Katanya tahun ini mau ada realisasi pembangunan jembatan. Namun, enggak tahu, sampai sekarang belum ada survei atau tanda-tanda bakal dibangun,” kata Asep.

Akibat akses ke pusat perekonomian terputus, para petani yang ada di wilayah Desa Situdaun juga tidak bisa berkembang. Bahkan, sejumlah hasil kerajinan maupun hasil pertanian harus dijual dengan harga yang jauh lebih mahal karena ongkos angkutnya yang mencapai dua kali lipat. Selain itu, kondisi ini juga menyebabkan harga kebutuhan pokok di Desa Situdaun juga lebih mahal dibandingkan desa lainnya yang bisa mengakses pusat perekonomian. “Kan, kebanyakan belanjanya jadi jauh, kalau enggak ke wilayah Pasar Bogor, ya, ke Pasar Ciampea yang jauh. Akibatnya, harga jual barang kebutuhan pokok di sini juga mahal sehingga daya beli warga menurun,” ungkap Asep.

Kondisi yang telah berlangsung lebih dari dua puluh tahun ini juga menyebabkan ratusan pelajar dari Desa Situdaun kesulitan melanjutkan sekolah. Sebab, satu-satunya sekolah lanjutan yang ada hanya di sekitar pusat pemerintahan Tenjolaya. “Ongkos ke sananya saja sudah mahal karena harus muter. Beda jika jembatan bisa dibangun sehingga aksesnya lebih mudah,” katanya. Selain itu, hasil pertanian juga bisa dijual dengan harga yang kompetitif.

Padahal, pihak desa sudah membebaskan beberapa meter lahan yang rencananya bisa dijadikan akses jalan dari jembatan ke arah jalan besar. “Sejumlah tanah sudah dihibahkan warga untuk dibangun jalan, tapi karena jembatan belum terealisasi warga terus mempertanyakan,” lanjutnya
sumber : Pikiran-rakyat.com

Next Page »

  • Advertisement

    Wirausaha