Penambang Pasir Tewas Tertimbun Longsor

16 June 2012   0 views

Satu orang tewas dan satu orang lainnya terluka ringan akibat tertimpa tanah longsor di lokasi galian pasir di Cibungbulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (16/6).
Korban tewas adalah Holid warga desa Situ Udik, Cibungbulang. Lelaki 44 tahun itu sehari-hari bekerja sebagai buruh lepas galian pasir. Tiga orang lain, rekan holid, yang juga sedang menggali pasir lolos dari maut saat tebing setinggi 20 meter itu longsor. Sebuah truk pengangkut pasir juga ikut tertimbun.
Petugas dan warga sekitar membutuhkan waktu selama dua jam guna mengeluarkan tubuh Holid dari timbunan tanah. Petugas Reskrim Polsek Cibungbulang Brigadir Satu Ferry Ardilesmana menegaskan pihaknya sudah memasang garis polisi melarang warga bekerja atau mendekati lokasi longsor. Hal ini dilakukan mengantisipasinya terjadinya longsor susulan. Kasus ini ditangani Polsek Cibungbulang.

sumber:berita.liputan6.com

Delapan Gurandil Tewas Tertimbun Longsor

26 May 2012   0 views

ilustrasi gurandil

Delapan orang penambang emas ilegal (gurandil) di Gunung Gede Blok Pilar, perbatasan antara Desa Suka Mulih, Kecamatan Sukajaya dengan Desa Pangradin, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor tewas tertimbun tebing yang longsor, Kamis (24/5/12) malam. Selain korban tewas, ada belasan lainnya yang mengalami luka karena tertimbun material longsoran yang kebanyakan batu besar.

Kabid Penanggulangan Bencana Kabupaten Bogor Budi Aksomo, Jumat (25/5/12) mengatakan kejadian ini murni merupakan kecelakaan kerja. “Kami terus melakukan upaya evakuasi terhadap para korban yang tertimbun di dalam longsoran,” kata Budi.

Menurut dia, ada sedikitnya 20 orang gurandil yang berada di lokasi. Sebagian berada di saung di sekitar lokasi penambangan serta sebagian lagi berada di dalam lubang penambangan emas.

Saat kejadian, kondisi cuaca di lokasi sedang hujan deras. Diduga karena hujan yang cukup deras, kondisi tebing di atas saung tempat para gurandil beristirahat semakin labil dan tidak mampu bertahan sehingga longsor menimpa saung. Beberapa korban terbawa longsoran tanah dan batu hingga ke lubang penambangan. Sebagian lagi berhasil menyelamatkan diri.

Korban tewas yakni Sanip, Sabar, Juber, Umang (warga Lebak Banten), Alex (warga Sukajaya), Cahyadin (warga Jasinga), serta Rowi dan Ujang (warga Cikaret). Sebelumnya jumlah korban sempat simpang siur, karena tidak jelas berapa orang yang berada di saung serta berapa orang yang berada di lubang penambangan.

Apalagi, proses evakuasi sempat terhambat oleh medan yang cukup sulit dijangkau. “Lokasi korban tertimbun cukup sulit dijangkau, sehingga proses evakuasi agak lama,” lanjut Budi.

Sementara itu, Sekretaris Tagana Kabupaten Bogor, Dede Soleh mengatakan untuk mencapai lokasi tertimbunnya para korban, tim evakuasi harus berjalan sekitar tiga jam dari jalan raya. Sebab, tidak ada akses kendaraan di sekitar lokasi longsor.

Sebagian besar korban yang tewas, lanjut Dede adalah para gurandil yang tengah berada di saung untuk beristirahat. Mereka terseret hingga belasan meter ke bawah dan tertimbun material longsoran. Tinggi tebing yang longsor sendiri mencapai sekitar 10 meter.

Semua korban tewas langsung diserahkan ke keluarga masing-masing. Sementara, korban luka masih dirawat di RS Leuwiliang dan puskesmas terdekat. Menurut Dede, wilayah ini merupakan wilayah rawan longsor, terlebih dengan maraknya aktivitas penambangan emas ilegal.

Kejadian tewasnya gurandil tertimbun longsor saat menambang juga bukan kali ini saja. Meski demikian, kegiatan penambangan liar terus marak terjadi. Begitupun warga sekitar tidak takut akan risiko tertimbun karena terdesak kebutuhan. Menurut Budi Aksomo, beberapa wilayah yang rawan selain Sukajaya, misalnya Nanggung dan Jasinga.

“Sebagian masyarakat mengaku tidak punya pekerjaan dan pilihan lain selain menjadi penambang liar,” kata Budi. Kegiatan penambangan yang kurang memerhatikan keselamatan kerja membuat kasus gurandil tertimbun longsoran tebing selalu ada setiap bulannya.

sumber : pikran-rakyat.com, gambar: sindonews.com

Mengolah Sampah Organik Menjadi Kompos Bokashi

17 July 2009   0 views

Mengintip Pengelolaan Sampah di SMA Kornita

Sampah tidak selalu menjadi barang yang tidak bermanfaat dan menjijikan karena bau busuknya. Sebaliknya, jika bisa mengolahnya dengan baik, sampah akan menjadi barang yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. SMA Kornita menjadi salah satu SMA yang mengembangkan sampah organik menjadi pupuk kompos dengan kualitas tinggi. Apa saja resep SMA Kornita meramu sampah organik?

BUKAN hal yang sulit untuk mengubah sampah organik menjadi kompos. Pasalnya, sekitar 70 persen sampah di lingkungan rumah merupakan sampah organik berupa sisa-sisa makanan, tanaman dan kotoran hewan yang mudah terurai.

SMA Kornita yang berada di dalam lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) mempunyai resep mengubah sampah organik menjadi Kompos Bokashi.

Mengenai cara mengolah sampah organik menjadi Kompos Bokashi, Wakasek Kesiswaan SMA Kornita Gatot Widodo menjelaskan, bahan yang bisa digunakan yaitu sampah organik yang telah dicacah dan disekam. Kedua bahan ini kemudian dicampur dengan dedak, gula pasir serta cairan EM4 ditambah air secukupnya. “EM4 merupakan larutan fermentasi untuk proses pembusukan unsur organik,” ucapnya.

Langkah-langkahnya yakni, melarutkan EM4 dan gula ke dalam air, sementara buat adonan sampah, sekam dan dedak sampai merata. Setelah itu, masukan perlahan larutan EM4 ke dalam adonan.

Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak keluar dari adonan. Bila kepalan dilepas, maka adonan akan mengembang. Bila hal tersebut belum terpenuhi dan adukan belum sempurna, kembali lakukan pengadukan ulang.

Selanjutnya, adonan ditumpuk di atas ubin kering, kemudian ditutup dengan karung selama 3-4 hari. Pertahankan suhu gundukan adonan antara 40-50 derajat celcius.

Jika suhu lebih dari 50 derajat celcius, bukalah karung penutup dan bolak-balik gundukan adonan. Kemudian, kembali tutup dengan karung goni dan diamkan selama empat hari.

Suhu tinggi dapat mengakibatkan adonan rusak karena proses pembusukan. Selain itu, pengecekan suhu dilakukan setiap lima jam.

Setelah empat hari, adonan terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.

Menurut dia, pupuk yang dihasilkan kini sudah dapat dirasakan dan digunakan, walaupun masih intern. “Digunakan untuk kebun milik sekolah,” ujarnya.

Dengan demikian, sampah yang dihasilkan tidak terbuang dengan percuma. “Setelah dengan Jerman, dalam waktu dekat, kami akan bekerja sama dengan Unilever Indonesia,” katanya.

Sebenarnya, ada cara lain untuk mengurangi volume sampah yaitu dengan cara pembakaran. Namun, cara tersebut dapat menghasilkan dioksin atau ratusan jenis senyawa kimia berbahaya seperti CDD (chlorinated dibenzo-p-dioxin), CDF (chlorinated dibenzo furan) atau PCB (poly chlorinated biphenyl).

Apabila senyawa yang berstruktur sangat stabil hanya dapat larut dalam lemak dan tidak dapat terurai ini bocor ke udara dan terhirup manusia maupun hewan melalui udara, dioksin akan mengendap dalam tubuh dan pada kadar tertentu dapat mengakibatkan kanker. “Diharapkan, semua dapat menyadari hidup bersih,” pungkasnya. (*)
(Lucky L. Hakim) radar-bogor.co.id

PESANTREN PERTANIAN DARUL FALLAH

3 July 2009   8 views

Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah didirikan berdasarkan Akta Notaris J.L.L Wenas di Bogor pada tanggal 09 April 1960, dengan nomor 12. Yayasan Pesantren Pertanian Darul  Fallah terdaftar dalam buku regristrasi di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Bogor pada tanggal 16 Maret 1969 di bawah no. 25/1969 AN

Perkampungan Pesantren dibangun mulai bulan Juni 1960 di  atas lahan tanah wakaf dari R.H.O. Djunaedi seluas 26,6 Ha. Pengesahan terhadap pengwakafan areal lahan itu disyahkan oleh Kepala Pengawas  Agraria Keresidenan Bogor pada tanggal 20 Juni 1961, dengan piagam No. 114/1961. Areal itu terletak di dua blok yaitu blok Lemahduhur dan Blok Gunung Leutik, (sekarang disebut Bukit Darul Fallah) Desa Benteng.

Pada tanggal 02 Agustus 1966, oleh Pengurus Yayasan telah dilakukan perubahan Anggaran Dasar Yayasan di hadapan Notaris Ny. Nurhayati Yunus, SH. Di Bogor dengan Nomor 1 (satu). Anggaran Dasar Yayasan telah dimasukkan alam Tambahan Berita Negara dengan nomor 49 tahun 1997, pada Tambahan Berita Negara RI tanggal 24 April 1997 No. 32.

Pengurus Yayasan dan Pimpinan Pesantren beralamatkan di Kp. Lemahduhur, RT. 02/04 desa Benteng kecamatan Ciampea kabupaten Bogor. Surat-surat pos dapat dialamatkan pada “PP. Darul Fallah Kotak Pos 100 Bogor (16001)

Sebagai Ketua Yayasan yang pertama adalah K.H. Sholeh Iskandar (1960-1992), (1992-2003) adalah Dr. Ir. H. A. Aziz Darwis, MSc) dan dari tahun 2003-sekarang adalah  Dr. Ir. H. Meika S. Rusli, untuk menyesuaikan Anggaran Dasar YPP. Darul Fallah dengan UU No. 16 Tahun 2001, maka sebagai Ketua Pembina adalah Dr. Ir. H. Abdul Aziz Darwis, M.Sc Dan saat ini Pimpinan Pesantren adalah KH. Abdul Hanan Abbas, Lc

Pendidikan  formal pesantren dimulai pada tahun 1963. Pada tahun 1968, dimulai lagi pendidikan Pesantren Pertanian Darul Fallah tingkat Aliyah yang dipimpin oleh Ir. M. Saleh Widodo (Al. Meninggal 1991). Sejak saat itu (1968) ditetapkan pula Dr. Muhammad Natsir (Alm. Meninggal 1993) sebagai Ketua Badan Penasehat Pengurus YPP. Darul Fallah, selanjutnya K.H. Hasan Basri sebagai Ketua Badan Penasehat YPP. Darul Fallah pada tahun 1993-1999 (Alm. Meninggal pada tahun 1999) dan sejak 1999 digantikan sebagai Ketua Badan Penasehat adalah Prof. Dr. Ir. H. Zuhal Abdul Qodir, MSc.

§  VISI  PP. DARUL FALLAH

Mewujudkan Darul Fallah sebagai lembaga pendidikan, dakwah dan pengembangan masyarakat dengan memiliki keunggulan tersendiri dan menghasilkan SDM yang memiliki ruhul jihad, kreatif, inovatif dan mandiri.

§  MISI  PP. DARUL FALLAH

a.  Pendidikan

Menyelenggarakan dan mengembangkan sistem pendidikan yang unggul dengan kurikulum yang memadukan materi ajaran Islam dan IPTEK dalam jenjang pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan bangsa.

b. Dakwah

Menyelengarakan dakwah bilhal dengan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dan mendifusikan IPTEK dalam usaha-usaha produktif. Dakwah difokuskan dalam bentuk dakwah bilhal.

c. Pengembangan Masyarakat

Mengembangkan proyek-proyek percontohan qoryah thoyyibah di daerah pedesaan dengan pendekatan menjalin kerja sama dengan instansi atau lembaga terkait.

§  TUJUAN  PP. DARUL FALLAH

Terbentuknya pribadi beriman-berilmu-berakhlaq Islam yang mandiri dan berdakwah menegakkan agama (Iqomatuddin), yang membina peningkatan harkat kehidupan diri pribadi, keluarga dan masyarakat melalui dakwah dan berwiraswasta yang diridhoi ALLAH SWT.

  • KONDISI Lahan dan Perkampungan

Lahan pesantren  seluas 26,5 ha, terletak pada km 12 jalan raya Bogor-Leuwiliang, atau 2 km dari  kampus  IPB Darmaga. Lahan memanjang sekitar 1 km dari tepi jalan raya kampung Kebon Eurih masuk kedalam ke arah kampung Gunung Leutik. Kondisi lahan berbukit, 90 % miring dan 10 % datar. Hanya sebagian kecil kira-kira 5 % berupa lahan sawah dan sebagian besar berupa lahan kering.  Tanah lahan kering termasuk jenis  latosol, dengan pH antara 5-7. Curah hujan rata-rata per tahun > 3.000 mm, 09 – 12 bulan basah serta 0-1 bulan kering.  Mulanya keadaan lahan kurus dari unsur-unsur hara karena proses pencucian oleh air hujan (perkolasi). Kondisi itu telah berubah setelah sebagian besar lahan tertutup oleh budidaya tanaman tahunan serta kebun rumput. Lahan Pesantren sebagian besar dibatasi secara alami oleh sungai-sungai besar (Cinangneng, Ciampea) serta selokan-selokan.

  • Kegiatan Yang Telah Dilaksanakan

§   Pendidikan dan Dakwah

1.    TK/Raudhatul Athfal

2.    Madrasah Diniyah 4 tahun (untuk tingkat SD/MI)

3.    Madrasah Tsanawiyah (Terakreditasi ‘A” Unggul)

4.    Madrasah Aliyah Terpadu (Terakreditasi “A” Unggul)

5.    Pendidikan Kesetaraan (Paket A dan Paket B)

§  Pusat Pelatihan (Diklat)

§  Unit Usaha

1.       PT. Dafa Tekno Agro Mandiri (perbanyakan tanaman/kultur jaringan)

2.       Koperasi Pondok Pesantren (simpan pinjam, warung, wartel dan pupuk organik)

3.       Peternakan dan Perikanan (sapi perah dan kambing perah)

4.       Pabrik Pakan Ternak (Kapasitas Produksi 100 ton/hari)

5.       Usaha Rumah Tangga (nata de coco,  aloe vera/lidah buaya dll)

6.       Pertukangan dan Perbengkelan (Besi dan Kayu)

7.       Agrowisata Rohani

8.       Hutan Rakyat

9.       Lembaga Penunjang lainnya seperti P4S, BDS, LM3.

Profil Usaha Yang Telah Dijalankan

A.     Pendidikan

Pesantren Pertanian Darul Fallah menerapkan suatu system pendidikan terpadu dari berbagai sisi seperti keterpaduan :

1. Pendidikan agama dengan teknologi/keterampilan (terutama Agribisnis)

2.     Pendidikan formal  dengan non formal pesantren serta informal komunitas pesantren.

3.     Pendidikan intelektual (teori) dengan praktek penerapan usaha (kewirausahaan).

4.    Pendidikan pencapaian prestasi individual dengan semangat pelayanan pada  masyarakat dhuafa dan masakin.

Sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman, maka  dibuka pendidikan formal yakni TK Islam/Ra (tahun 1992), MTs (tahun 1993) dan MAT (tahun 1994). Kurikulum : Darul Fallah menggunakan Kurikulum yang merujuk pada Kurikulum Nasional Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional yang disempurnakan dengan muatan lokal terutama Jiwa Kemandirian, MIPA dan Agama.

B.   Unit Usaha

1. PT DaFa Teknoagro Mandiri

PT. DaFa Teknoagro Mandiri sebagai produsen bibit unggul terdepan, saat ini telah memproduksi berbagai bibit tanaman holtikultura, kehutanan dan perkebunan.

Bibit yang telah diproduksi antara lain kentang granola dan atlantic, pisang buah (Tanduk, Ambon, Emas, Mulubebe), pisang abaca, Chrysanthemum (20 jenis), Anggrek (Phalaenopsis, Dendrobium), Jati Kencana (fast growing) dan vanili.  Yang masih dalam penelitian antara lain gaharu, ramin, rami, ubi dan talas jepang serta mahkota dewa.

Dalam lima tahun mendatang diproyeksikan produk kentang menjadi benchmark produsen benih di Indonesia baik Plantlet, benih G0, G1 dan G2.  Dengan jaringan petani penangkar di seluruh Indonesia dan market share 5 % kebutuhan benih kentang nasional mampu memproduksi 5.000 ton benih G4 per tahun.

Dengan aset perusahaan yang dimiliki antara lain bangunan laboratorium (798 m2), green house (60 m2), nursery net house (2.000 m2) dan lahan benih (2 Ha) diharapkan menjadi

sarana bagi santri untuk dapat mempelajari dan mempraktekkan pengetahuan yang dimilikinya.

2. Kopontren Darul Fallah

Koperasi Pesantren Darul Fallah didirikan pada tahun 1969. Anggota koperasi adalah seluruh warga Pesantren yaitu pengurus yayasan, pengelola, ustadz, karyawan dan santri serta simpatisan Darul Fallah.

Fasilitas yang ada yang berfungsi juga sebagai sarana pembelajaran antara lain :

§  Unit Simpan Pinjam Syariah

§  Warung Serba Ada Koperasi

§  Pupuk Organik Bokashi

§  Konsultasi dan Pelatihan Perkoperasian

§  Lembaga pemberdayaan usaha kecil menengah di bawah Kementerian Koperasi

3. Unit Usaha Peternakan

Aset usaha peternakan antara lain kandang (sapi perah, sapi penggemukan, domba, kambing perah) seluas 3.000 m2, lapangan rumput seluas 3 Ha lebih, unit pengolahan hasil susu, pembuatan pupuk bokasi dan intalasi biogas serta kolam ikan. Program unit usaha peternakan antara lain pengembangan jumlah dan kualitas ternak, diversifikasi usaha, pengelolaan produksi spesifik dari hulu sampai hilir dan mendirikan pusat pelatihan bisnis peternakan. Pengelolahan hasil peternakan seperti susu pasturisasi (kambing dan sapi) dan yogurt dari susu sapi.

4. Usaha Rumah Tangga

Para staf dan karyawan PP. Darul Fallah diberikan kesempatan untuk mengelola usaha-usaha kecil yang bernilai ekonomis tinggi. Usaha-usaha tersebut di antaranya nata de coco (Amalia), nata de aloe vera/lidah buaya (alera, jamur tiram dan lain-lain.

5. Pertukangan dan Perbengkelan

Pesantren memiliki bengkel kayu dan bengkel besi sebagai sarana pembelajaran bagi para santri.

6. Hutan Rakyat

Hutan Rakyat ini ditujukan untuk menumbuhkan dan mendukung program lain seperti wisata rohani, outbond, percontohan dan pendidikan kehutanan, dengan menggunakan alokasi lahan seluas 5 Ha. Dibuka pertama kali dengan penanaman sengon pada tahun 1998 (kerja sama dengan IPB), dan sudah mulai dipanen pada tahun 2007 ini, bersamaan dengan peluncuran Program “Mari Menanam Sejuta Sengon” oleh Menteri Kehutanan RI.

Areal ini juga menjadi area praktikum santri yang dikombinasikan dengan penanaman jati untuk investasi jangka panjang.

7.   Agrowisata Rohani

Panorama areal pesantren yang indah, sejuk dan nyaman, dengan suasana agamis dan fasilitas masjid mendukung untuk wisata rohani. Obyek penunjang seperti persemaian, kolam ikan, anak kambing berkeliaran, hutan dan track yang terarah akan mendukung wisata pendidikan, pertanian, outbond yang islami.

8. Lembaga Penunjang Lainnya

  • Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S)
  • Lembaga Mandiri yang Menagakar di Masyarakat (LM3)
  • Pusat Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama antar pesantren se Jabotabek, Jawa Barat dan Banten.

Semua unit-unit usaha yang dimiliki Pesantren Pertanian Darul Fallah menjadi sarana media pendidikan dan praktikum santri pada bidang studi IPA, Ekonomi, manajemen lingkungan dan pengujian mutu produk.

  • Ketersediaan Sarana dan Fasilitas

Darul Fallah saat ini telah memiliki fasilitas dan sarana sebagai untuk mendukung berbagai kegiatan pelatihan  antara lain :

§  Pusat pelatihan ini memiliki fasilitas 15 kamar penginapan dengan kapasitas dengan daya tampung saat ini 60 orang .

§  Sarana Belajar (Kelas, Laboratorium & Perpustakaan)

§  Masjid sebagai pusat aktivitas

§  Asrama & ruang makan putra – putri (terpisah)

§  Lapangan Olahraga

§  Aula/Gedung Serba Guna

§  Camping Ground/Outbound

§  Sarana Perbengkelan & Keterampilan

  • Ketersediaan Sarana Penunjang

Darul Fallah saat ini telah memliki sarana penunjang untuk mendukung berbagai kegiatan pelatihan  antara lain :

§  Pabrik makanan ternak (kapasitas 100 ton)

§  Mesin Pasteurisasi susu

§  Pendingin/freezer dengan kapasitas besar

§  Instalasi biogas dari kotoran ternak

§  Instalasi hidram (pompa air system hidrolis)

§  Vacuum Frying

§  Alat pengiris singkong, pemarut kelapa, penggiling cabe

§  Alat pemotong rumput, pengrajang rumput, dan penggiling pellet makanan ternak.

§  Kandang (sapi perah, sapi penggemukan, domba, kambing perah) seluas 3.000 m2,

§  Lapangan rumput seluas 3 Ha lebih,

§  Unit pengolahan hasil susu,

§  Pabrik pembuatan pupuk bokasi.

§  Laboratorium Kultur Jaringan

Jenis Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat

§  Santunan Terhadap Anak Yatim

Di sekitar pemukiman pesantren terdapat anak-anak yatim dari keluarga miskin.  Karena kemiskinan itu, mereka sebagian besar tidak menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar.Maka dibentuk Unit Kerja untuk mengumpulkan dana serta menyantuni keperluan pendidikan anak-anak yatim itu. Hal itu dilakukan dengan bekerjasama dengan Biro Anak Yatim BKSPP dan DDII. Sekarang praktis tidak ada anak yatim di 4 kampung dari 2 desa yang tidak menamatkan SD. Sebagian mereka melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Darul Fallah. Saat ini ada lebih dari 120 anak yatim yang secara berkala mendapatkan santunan alat-alat belajar, dan masih sangat kecil yang mendapat beasiswa belajar secara penuh.

§  Pesantren Kilat

Setiap tahun pesantren menyelenggarakan Pesantren Kilat selama 12 hari untuk setiap angkatan. Semula Pesantren Kilat diselenggarakan di bulan Ramadhan, tetapi setelah sekolah umum tidak libur di bulan Ramadhan, Pesantren Kilat diselenggarakan pada hari libur panjang bulan Juni-Juli. Setiap angkatan diikuti sekitar antara 120-200 santri dari pendidikan tingkat SD kelas V dan VI, tingkat SLP dan SLA.

§  Pelayanan Pengajaran pada Majelis Ta’lim

Para pengasuh pesantren secara bergantian memberikan pengajian di dusun Kebun Eurih, dusun Lebak Gunung, dan dusun Gunung Leutik.  Pengajian itu berlangsung untuk seminggu sekali setelah shalat Isya.  Di samping itu di pesantren setiap malam Sabtu diadakan pengajian warga pesantren (pria dan bukan santri), dan pada Sabtu sore pengajian kaum ibu di mesjid pesantren bersama masyarakat sekitar.  Pesantren juga menjadi penyelenggara pengajian gabungan dari Pondok Pesantren Bogor (Majelis Ulil Albab) yang berlangsung setiap hari Ahad kedua bulan Masehi yang bersangkutan.

§  Pembinaan Masyarakat Desa Hutan

Pada bulan September 1999, Pesantren Pertanian Darul Fallah dengan PERUM PERHUTANI Wilayah I Jawa Barat menandatangani kesepakatan bersama untuk membina sekitar 500 petani yang mengolah lahan PERUM PERHUTANI di Kecamatan Cariu Kabupaten Bogor.  Peran pesantren adalah membina mental, mengusahakan pinjaman modal kerja serta memberikan bimbingan teknik budidaya tanaman sela.

§  Memberikan Konsultasi Agribisnis

Di pesantren dibentuk Klinik Konsultasi Agribisnis (KKA) dengan menempatkan tenaga ahli dari pesantren, IPB dan Dinas-Dinas.  KKA berada dalam naungan Yayasan Konsultasi Agribisnis yang dibentuk oleh pribadi-pribadi tingkat pusat Departemen Pertanian.

§  Menyediakan Fasilitas Lapangan Olahraga

Sejumlah 5 SD di sekitar pesantren menggunakan lapangan olahraga pesantren untuk mengajar olahraga bagi muridnya.  Hal itu dikarenakan kurangnya lapangan sepak bola di Kecamatan Ciampea (hanya ada 1 untuk 18 desa). Sekolah Bola CIWA yang diselenggarakan oleh PS CIWA juga menggunakan lapangan pesantren untuk latihan. Telah disepakati bahwa pesantren akan ikut membina mental anak-anak bola yang berjumlah hampir 200 anak (SD dan SLP).

§  FOSMATREN (Froum Silaturahmi Pondok Pesantren)

Lembaga silaturahmi yang dibentuk untuk mewadahi alur komunikasi antar pondok pesantren dalam berbagai kegiatan pengembangan masyarakat. Sampai saat ini kegiatan yang telah dilaksanakan diantaranya :Pengadaan dempon peternakan di cijeruk Bogor, Dempon kacang tanah di Cileungsi Bogor, Dempon Tanaman Hutan di Ciampea Bogor, Dempon Ikan Lele Sangkuriang.

§  Kelembagaan Intern Pendukung

Untuk penyelenggaraan berbagai pelatihan itu pesantren mengembangkan berbagai kelembagaan seperti Yayasan Desa Bahagia (YDB), Badan Koordinasi Pengembangan Koperasi Pondok Pesantren  (BKP Kopontren), Unit Pelayanan dan Pengembangan Teknologi Pertanian Agribisnis (UPPTPA), Unit Klinik Konsultasi Agribisnis (KKA), Pusat Pendidikan Pelatihan Pertanian Swadaya (P4S), Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat (LM3), dll.

Untuk Informasi Lebih Lanjut :

YAYASAN PESANTREN PERTANIAN DARUL FALLAH

JL. RAYA BOGOR-CIAMPEA KM 12 BOGOR 16620

TELP/FAX : 0251- 8622303/ 8622278

EMAIL : [email protected] , WEBSITE : www.darulfallah.org

Mengunjungi Kelompok Tani MKM di Leuwiliang – Jaga Kolam 24 Jam, Wakili Jawa Barat di Tingkat Nasional

21 June 2009   0 views

gurameGurame merupakan jenis ikan yang paling populer dikonsumsi. Selain memiliki daging tebal, ikan ini memiliki cita rasa yang nikmat jika diolah menjadi gurame goreng, gurame saus tiram, atau gurame rica-rica. Selain cita rasa yang nikmat, budidaya gurame relatif mudah dan menghasilkan keuntungan besar. Seperti apa kelompok tani Mitra Karya mandiri (MKM) melakukan budidaya ikan gurame?

TINGKAT konsumsi ikan gurame semakin meningkat. Tidak heran, kelompok tani MKM   di Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang membudidayakan ikan yang terkenal dengan daging tebal dan gurih itu. Bahkan, kelompok tani MKM mampu mewakili Jawa Barat dalam lomba pembenihan ikan tingkat nasional 2009.

Tidak hanya itu, berbagai prestasi  diraih kelompok tani MKM. Di antaranya, juara I Lomba Kelompok Pembenihan Gurame Tingkat Kabupaten Bogor 2005, Juara I Lomba Kelompok Pembudidayaan Ikan Tingkat Jabar 2006 hingga kelompok berprestasi dari Bupati Bogor pada Hari Jadi ke-525 Bogor.

Berdiri tahun 2000, kelompok tani MKM kini mempunyai 149 kolam yang dikelola 30 anggota di atas lahan seluas 32.700 meter persegi. “Kami menjaga kolam  24 jam,” kata salah satu anggota MKM Rahmat (28) kepada Radar Bogor.

Pembenihan gurame dirancang menggunakan teknologi tepat guna, baik wadah yang digunakan atau teknik budidaya serta penanganannya.

Menurut Rahmat, meski produktivitasnya lebih tinggi pada musim kemarau, gurame berproduksi sepanjang tahun. Namun, yang perlu diperhatikan adalah  padat tebar induk, tata letak sarang, panen telur, dan kualitas air.

Tempat bahan sarang diletakkan di permukaan air berupa anyaman kasar dari bambu atau bahan lainnya sehingga induk ikan mudah mengambil sabut kelapa untuk membuat sarang. Pembuatan sarang  berlangsung selama satu hingga dua minggu tergantung kondisi induk dan habitatnya.

Pemeriksaan sarang yang sudah berisi telur dilakukan dengan meraba dan menggoyangkan perlahan sarang atau menusuk sarang dengan lidi atau kawat. Sarang yang sudah berisi telur ditandai dengan keluarnya minyak atau telur dari sarang ke permukaan air.

Selanjutnya, sarang yang sudah berisi telur diangkat. Telur dipisahkan dari sarang dengan hati hati, karena mengandung minyak, telur akan mengambang di permukaan air.

Telur yang baik berwarna kuning bening sedangkan telur berwarna kuning keruh dipisahkan dan dibuang karena rusak. “Minyak yang timbul dapat dikurangi dengan cara diserap memakai kain,” jelas Rahmat.

Pemeliharaan benih dilakukan di dalam kolam dengan persiapan meliputi, pengolahan tanah dasar kolam, pengeringan, pengapuran, pemupukan, pengisian air, dan pengkondisian air kolam. Pengolahan tanah dasar kolam  berupa pembajakan, peneplokan dan perbaikan pematang kolam. “Pengeringan dilakukan  dua hingga lima hari,” ujar pria yang lebih dari delapan tahun membudidayakan gurame ini. (*)
(Lucky L. Hakim) radar-bogor.co.id

NANAS BOGOR

19 May 2009   0 views

Deskripsi
Sesuai dengan namanya, nanas bogor berasal dari bogor dan banyak ditanam di sekitar Gunung Salak. Nanas ini serimg juga disebut nanas nambo, karena jenis ini sangat terkenal di Desa Nambo, daerah sekitar Bogor. Buahnya kecil dengan berat 0,5-1 kg. Bila matang, kulit buahnya berwarna kuning dengan mata berlekuk dalam. Daging buahnya berwarna kekuningan, berserat halus, dengan rasa yang manis. Kandungan airnya sedikit sehingga teksturnya agak keras.

Manfaat
Buahnya sangat cocok untuk buah meja.

Syarat Tumbuh
Nanas sangat mudah ditanam dan dapat tumbuh di dataran rendah maupun tinggi. Akan tetapi, pertumbuhan yang optimum dapat terjadi pada ketinggian antara 100-700 m di atas permukaan laut dengan bulan basah banyak. Bila ditanam di daerah kering, tanahnya harus memiliki sistem pengairan yang baik. Kedalaman air tanahnya tidak lebih dari 150 cm. Sedangkan suhu udara rata-rata sekitar 30° C. Tanah harus ringan hingga sedang dengan tekstur setengah berat atau liat, porous, clan berhumus banyak. Derajat keasaman yang sesuai untuk tanaman ini berkisar antara 4,5-5,5. Kesuburan tanah tidak menjadi kendala pertumbuhannya, asalkan kebutuhan zat haranya terpenuhi.

Pedoman Budidaya
Perbanyakan tanaman: Sampai sekarang tanaman nanas diperbanyak dengan anakan yang keluar dari pangkal batang. Namun, adakalanya diperbanyak pula dengan sucker atau slips dan mahkotanya. Batang dan mahkota bunga dapat dipotong dan dibelah untuk dijadikan bibit. Antara anakan (raton), tunas batang (sucker), dan mahkota (crown) terdapat perbedaan sifat fisiologis dalam umur berbunga dan produksinya. Makin ke bagian atas tanaman, umurnya makin panjang dan produksinya rendah. Namun, umur tanaman berbunga tidak menjadi persoalan karena pembungaan tanaman nanas dapat diatur dengan memberikan zat tumbuh, di antara karbid dan ethrel 40 PGR. Anakan atau mahkota bunga yang baru dipotong (dipisahkan) dapat ditanam langsung, tanpa disemaikan dahulu. Namun, sebaiknya dibiarkan dulu selama beberapa hari sebelum ditanam. Hal ini dimaksudkan agar lukanya tertutup kalus lebih dulu sehingga cepat berakar. Budi daya tanaman: Nanas ditanam dengan sistem dua-dua baris. Tiap baris pada jarak 60 cm x 60 cm dan jarak antarbaris 150 cm. Namun, nanas dapat pula ditanam pada jarak antara 30-40 cm. Semakin rapat jarak tanamnya, buah yang dihasilkan semakin kecil. Untuk kebutuhan industri pengalengan (canning) biasanya diperlukan buah berukuran kecil (jarak tanam 30 cm x 40 cm) silindris. Pupuk kandang yang diperlukan 5-10 kg per lubang tanam. Pupuk buatan yang digunakan yaitu 300 kg urea, 600 kg TSP, dan 300 kg KCl per hektar per tahun.

Pemeliharaan

Pupuk buatan diberikan dua kali, yaitu pada umur empat minggu dan delapan minggu setelah tanam. Namun, pemberian pupuk urea yang berlebihan dapat mendorong terjadinya mahkota ganda (multiple crown) dalam satu buah sehingga menyebabkan buah menjadi kecil dan terbentuk buah ganda (satu tangkai ada banyak buah yang berdempetan). Pemeliharaan selanjutnya adalah pembersihan rumput atau gulma, terutama alang-alang (Imperata cylindrica L.). Adanya gulma pada pertanaman nanas dapat menurunkan hasil buah antara 20-42%. Pembuatan saluran-saluran drainase yang baik sangat dianjurkan untuk mencegah serangan penyakit busuk akar dan busuk hati (titik tumbuh). Dalam mengatur panen, pembungaan tanaman nanas dapat diatur. Bila tanaman disemprot dengan ethrel 40 PGR dosis 70-200 ppm (1 ppm = 1 mg /liter air) pada titik tumbuhnya, satu bulan kemudian tanaman akan berbunga. Sebagai gantinya dapat digunakan karbid 200-300 mg yang dimasukkan ke titik tumbuh.

Hama dan Penyakit
Hama yang menyerang tanaman nanas yang penting adalah kutu merah, kutu sisik (Diaspis bromeliae Kerner), kutu tepung atau kutu putih (Dysmicoccus breuipes), binatang kala seribu (Scutigerella immaculata Newp), dan nematoda Pratylenchus yang menyebabkan terjadinya bintil-bintil pada akar. Tanaman yang terserang kutu daunnya akan keriput dan pucat. Sementara penyakit yang berbahaya adalah cendawan Phytophthora cinnamomi Rand yang menyebabkan busuk hati (titik tumbuh) dan busuk buah bakteri Erwinia chrysanthemi. Pada pertanaman nanas yang drainasenya tidak baik atau tergenang air, penyakit busuk akar cendawan Phytophthora parasitica mengancam. Selain itu, ada penyakit virus yang menyebabkan daun nanas mengecil dan bergaris kuning yang disebut Emilia sonchifolia (L.) DC. Virus ini disebarluaskan oleh gurem Thrips tabaci Lind. Oleh karena itu, dalam usaha tani komersial yang berskala besar, hama dan penyakit perlu dicegah sebelum menyerang tanaman. Hama-hama di atas dapat diatasi dengan semprotan insektisida Bayrusil atau Kelthane 0,2%. Sementara penyakit cendawan dapat diatasi dengan semprotan fungisida sistemik.

Panen dan Pasca Panen
Buah nanas harus dipanen setelah tua benar atau matang pohon. Tanda buah dapat dipanen adalah matanya datar dan tampak jarang. Bila dipukul (diketuk) akan mengeluarkan suara menggema. Buah nanas yang mulai matang akan mengeluarkan aroma khas. Bulan-bulan panen besar adalah Desember, Januari, dan Juli.

Wisata Agro. Perkebunan Teh Cianten

16 May 2009   0 views

Banyak yang bilang, kawasan Puncak Bogor sudah tidak alami lagi dan sudah tak seindah dulu. Mungkin ini pengaruh dari modernisasi yang merambah kawasan sejuk tersebut. Banyaknya pembangunan yang tidak sesuai peruntukan, kemacetan di mana-mana, banyak warung pinggir jalan yang mengganggu pemandangan, setidaknya membuat orang sedikit mengelus dada. Kawasan puncak jadi tak seindah dulu. Namun meskipun demikian, kawasan puncak tetap menjadi primadona, khususnya warga Ibu Kota, untuk berlibur.

Cianten Agro Wisata

Jika bosan dengan suasana kawasan Puncak yang identik dengan perkebunan teh dan ingin merasakan suasana yang hampir sama dan lokasinya masih di kabupaten bogor, ada satu lagi perkebunan teh yang terletak di barat daya Kabupaten Bogor, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukabumi, yang tak kalah indah dengan kawasan Puncak, yaitu perkebunan teh Cianten.

Perkebunan teh yang dikelola oleh PTPN VIII ini terletak di Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang, Kab Bogor, sekitar 60 km dari kota Bogor ke arah barat yang bisa memakan waktu tempuh 3-4 jam dari pusat kota. Jika ingin mencoba berwisata agro ke daerah ini disarankan membawa kendaraan pribadi (motor atau mobil) untuk memudahkan transportasi dan menanggulangi sulitnya kendaraan umum menuju lokasi. Dari bogor, kita bisa mengarahkan kendaraan ke arah Leuwiliang/Jasinga. Sebelum tiba di Pasar Leuwiliang, di pertigaan Karacak, belok kiri dan mengikuti jalan ke arah PLTA Karacak. Dari pertigaan ini hingga Desa Puraseda kita tetap masih menikmati kenyamanan berkendara karena jalan mulus berhotmix akan menemani selama perjalanan. Namun selepas itu, jalanan akan mulai tidak mulus. Jalan aspal yang tadinya mulus, karena musim hujan mulai rusak namun masih layak dilalui kendaraan.

Sepanjang jalur ini jangan harap kita akan menemukan toko dan restoran seperti halnya di kawasan Puncak. Namun, mengenai pemandangan sepanjang jalan, treknya tak kalah menarik daripada Puncak karena kanan-kiri jalan disuguhi pemandangan perbukitan dan sesekali memasuki hutan lebat yang masih perawan. Tapi santai saja, di jalur ini kita tidak akan menemukan kemacetan seperti halnya di Puncak. Bagaimana mau macet, perkampungan saja masih jarang.

Sebelum memutuskan berwisata ke tempat ini, pastikan kendaraan dalam kondisi prima karena akan sulit menemui bengkel ketika memasuki jalur Cianten. Pastikan juga ban kendaraan Anda bagus dan layak pakai, karena tidak akan ditemui tukang tambal ban sepanjang jalan. Jangan lupa pula, pastikan tangki bensin terisi full, dikhawatirkan habis di tengah jalan. Sebab, di jalur ini kita tidak akan menemui pompa bensin, yang ada hanya tukang bensin eceran, itu pun masih terbilang jarang karena jalanan didominasi hutan dan perbukitan. Namun itulah seninya perjalanan ke daerah ini, terutama bagi orang yang suka perpetualang.

Cianten Agro Wisata

Segala rintangan selama perjalanan akan terbayar lunas setelah masuk kawasan perkebunan teh Cianten. Pemandangan indah, hamparan kebun teh yang menghijau, masih alaminya suasana, seolah menghapus “duka” selama perjalanan. Seperti halnya perkebunan lain yang dikelola oleh PTPN, di kawasan dengan luas sekitar 675 hentare ini juga terdapat gudang penyimpanan teh, kantor pengelola, mesjid, gedung pengolah teh, dan fasilitas standar perkebunan teh lainnya. Namun, fasiltas umum seperti WC umum, villa, mess, dan sebagainya masih tidak terlihat di kawasan ini.

Apa bagusnya Cianten daripada puncak? Bisa dibilang, kawasan Cianten ini merupakan kombinasi antara perkebunan teh dan hutan lindung. Sepanjang mata memandang, hamparan luas perkebunan teh dikelilingi hutan lindung Taman Nasional Halimun-Salak. Di sini juga kita akan menemukan semacam wisata budaya. Penduduk di sekitar perkebunan masih belum begitu terpengaruh budaya kota, sehingga kehidupan sehari-harinya sebagian masih berjalan secara tradisional. Kearifan penduduk lokal dan keseriusan pengelola mengurus perkebunan ini menjadikan tempat ini memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.

Dari kawasan perkebunan teh Cianten ini, kita tinggal memutuskan apakah akan langsung pulang atau melanjutkan perjalanan mengikuti trek yang ada. Jika melanjutkan perjalanan, kita akan sampai di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Sukabumi, atau bahkan bisa langsung tembus ke arah Pelabuhan Ratu dengan memakan waktu sekitar 1-2 jam perjalanan lagi. Sumber meongcongkok.wordpress.com

Menyusuri Jejak Gurandil di Tambang Emas Pongkor

25 April 2009   1 views

Awal Maret lalu, nama Pongkor kembali mengejutkan publik karena tragedi yang merenggut sejumlah nyawa manusia. Mereka yang mati cukup mengenaskan itu disebut-sebut sebagai penambang tanpa izin (peti), yang populer dengan julukan gurandil. Musibah tak cuma melanda peti, tapi juga beberapa karyawan penambangan yang resmi. Walhasil, 13 gurandil dan 1 karyawan tewas dalam terowongan penambangan emas Pongkor.

Di Gunung Pongkor memang berdiri sebuah penambangan emas resmi bernama Unit Bisnis Penambangan Emas (UBPE) Pongkor, milik BUMN PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Oleh masyarakat sekitar, UBPE Pongkor lebih sering disebut Tambang Emas Pongkor (TEP). TEP ini bersebelahan dengan Taman Nasional Gunung Halimun yang hijau dan rimbun, tepatnya di Sorongan, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, 54 kilimeter dari kota Bogor. Namun, ketika memasuki wilayah Bantarkaret, jangan harap Anda bisa menemukan angkutan umum atau angkutan desa. Yang ada hanyalah tukang-tukang ojek.

TEP memiliki 3 urat kuarsa yang mengandung emas dan perak, yaitu urat Ciguha, urat Kubang Kicau, dan urat Ciurug. Untuk mendapatkan emas dari urat-urat ini, Antam membangun terowongan utama berdiameter 3,3 meter setinggi 3 meter. Jika terus diikuti, terowongan ini akan tembus ke Gunung Pongkor yang jauhnya sekitar 4 kilometer. Pintu dari portal beton adalah satu-satunya tempat keluar masuk karyawan TEP.

Dalam terowongan ini, terdapat 4 lubang besar sebagai ventilasi. “Dengan ventilasi semacam ini, orang bisa tahan tinggal selama dua hari dalam terowongan tanpa harus kehabisan udara bersih, kata karyawan TEP Rismono, saat mendampingi wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Pertambangan Energi dan Sumber Daya Mineral (FW-PESDM) Kamis (15/4) pekan lalu mengunjungi Pongkor.

Di tengah-tengah terowongan utama terdapat semacam lobi sebagai tempat lift. Lift inilah yang menghubungkan dan mengantarkan para pekerja tambang menuju ke 4 level produksi TEP di atasnya. Lift yang ditarik dengan katrol ini berkapasitas maksimum 20 orang dan tanpa tombol seperti lift modern. Lift ini unik, karena cara membuka dan menutupnya dilakukan secara manual.

Sejarah

Tambang emas Pongkor (TEP) merupakan salah satu dari 6 unit bisnis milik Antam, yang dieksploitasi sejak 1974. Sejak restrukturisasi tahun 2000, yang mengalihkan fungsi tambang emas ini dari cost center menjadi profit center, TEP kini menjadi Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor (UBPE) Pongkor.

Keberadaan TEP dimulai dengan dilakukannya eksplorasi logam dasar (Pb dan Zn) di bagian utara Gunung Pongkor oleh geolog Antam mulai 1974 hingga 1981. Eksplorasi ini menemukan endapan urat kuarsa (quart vein) berkadar 4-gpt emas dan 126-gpt perak. Karena waktu itu Antam tengah fokus pada eksplorasi Cikotok, antara 1983- 1988 eksplorasi dihentikan sejenak. Barulah tahun 1988 hingga 1991 eksplorasi Pongkor dilanjutkan secara sistematis. Akhirnya, studi kelayakan pun dibuat dan Antam mengantongi Kuasa Pertambangan Ekploitasi seluas 4.058 hektare tahun 1991. Tahun 1992, dengan bantuan ABRI Masuk Desa (AMD), jalan masuk sepanjang 12,5 km berhasil diwujudkan.

Pabrik pertama dengan kapasitas 2,5 ton emas/tahun berhasil dibangun pada tahun 1993, secara bersamaan Tailing Dam pun bisa direalisasikan. Pengembangan tambang terus dilakukan dan tahun 1997 dibukalah pabrik tambang baru di Ciurug berkapasitas produksi 5 ton emas/tahun. Pabrik ini resmi beroperasi tahun 2000. Dengan dua pabrik tambang inilah, terhitung 1 Agustus 2000, Antam memiliki wilayah penambangan di Pongkor seluas 6.047 hektare.

Mendulang emas tidaklah gampang, dibutuhkan keahlian dan kesabaran. Dari batu digerus menjadi lumpur kemudian diolah menjadi emas mentah. “Dari lumpur emas seberat 4,5 ton, akan didapatkan 45 gram emas berkadar 10 karat, kata Rismono. Sebab itulah, Kuasa Direksi Operasi Antam Eko Warman menyebut bahwa target produksi emas per bulan hanya 350 kilogram.

TEP memiliki 1.526 karyawan yang bekerja dibagi menjadi 3 shift. Dalam satu hari, mereka hanya bisa ditambang 1.200 ton lumpur emas.

TEP adalah tambang bawah tanah alias, sehingga penambangan emasnya harus melalui serangkaian proses pemboran, peledakan, pengerukan, pengangkutan, dan penimbunan kembali. “Ini sangat berbeda dengan yang dilakukan para gurandil, yang hanya mencari urat emasnya saja. Kami ingin menghindari kerusakan lingkungan, kata Rismono sambil menunjukkan urat tikus atau gua kecil yang dibuat para gurandil.

Di Pongkor, bijih emas mentah diolah menjadi logam campuran emas 6 – 17% dan perak 82 – 92%, serta kotoran maksimum 4%. Campuran ini akan dimurnikan di Unit Bisnis Pemurnian Logam Mulia di Jakarta.

Meski prosesnya panjang, tak membuat TEP mangkir dari standardisasi baku penambangan. Terbukti pada tahun 2000 TEP berhasil menyabet ISO 9002 yang berkaitan dengan manajemen mutu. Dengan dibangunnya Tunnel di level 600 – 700 dpl urat Ciurug pada tahun 2001, TEP meraih ISO 14000 dan ISO 14001 yang berkaitan dengan sistem manajemen lingkungan. “Jadi, TEP tak mungkin dapat ISO kalau manajemen lingkungannya tidak bagus, tutur Rismono.

Menurut Direktur Utama Antam, Deddy Aditya Soemanegara, TEP yang dibangun dengan investasi Rp 100 miliar memberikan kontribusi sekitar 25-30% bagi pendapatan perseroan. Kontribusi dari emas tidaklah sebesar kontribusi nikel yang mencapai 65%. Setiap tahun kontribusi emas relatif stabil. Namun, kata Deddy, kontribusi ini sempat menurun jadi 11% kala peti merajalela tahun 1998. Peti telah merusak dan membakar aset perusahaan. Tapi tahun berikutnya, kontribusi emas naik kembali bahkan sempat melonjak hingga 41%. Untuk tahun 2004, Deddy berharap kontribusi emas Pongkor masih tetap pada kisaran 25 – 30%.

TEP memiliki cadangan geologi sekitar 6 juta ton bijih emas dengan kadar emas rata-rata 17,14 gram per ton dan kadar perak 154,28 gram per ton. Cadangan emas ini bisa dipertahankan hingga 12 atau 14 tahun lagi.

Peti

Pada awal-awal penambangan, sekitar 1994, tak ada satupun Peti yang beroperasi di Pongkor, beda dengan tambang Kalimantan yang selalu penuh Peti. Fenomena Peti marak tahun 1998 akibat faktor daya tarik harga emas yang mencapai angka Rp 100.000 per gram, di samping karena krisis ekonomi dan pengangguran yang melonjak. Diperkirakan ada sekitar 3.000 hingga 8.000 gurandil yang beroperasi di Pongkor. Sekitar 70% dari jumlah ini adalah pendatang dari Cikotok, Salopa, Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor, Rangkasbitung, Bengkulu, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur, sementara hanya 30% saja yang berasal dari Desa Bantar Karet dan Desa Cisarua.

Sebanyak 13 gurandil tewas dalam musibah Pongkor Maret lalu mati karena terjebak asap dalam terowongan di level IV. Para gurandil menuding bahwa TEP-lah yang menimbulkan asap tersebut untuk mengusir mereka. Tapi TEP membantah dan balik menuding gurandil yang dianggap membakar daun dan kayu untuk menakut-nakuti petugas keamanan agar bisa menguasai lubang yang mereka buat. Hingga kini, masalah asap ini masih diteliti oleh Pusat Laboratorium Forensik Mabes Kepolisian RI.

Menurut Rismono yang lebih banyak berada di lapangan, para gurandil dalam melakukan aksinya biasanya menginap selama 1 minggu dan hanya menggunakan penerangan lilin. Khusus untuk level IV (lokasi tragedi), memang banyak digunakan kayu-kayu sebagai fasilitas. Dugaan Rismono, lilin milik para gurandil itulah yang menyebabkan kayu-kayu menjadi terbakar, yang akhirnya menimbulkan gas CO. “Penyebab pasti dari asap ini, pihak Forensik lah yang lebih berkompeten menjawabnya, katanya. Ketika menginap, para gurandil tersebut membawa bekal logistik, mulai dari beras, mie, garam, ikan asin, dan juga peralatan memasak.

Yang jelas, kata Deddy Aditya, jumlah gurandil saat ini telah jauh berkurang, tinggal 100-an orang. “Semua ini berkat kombinasi antara program community development, pembinaan masyarakat, dan peningkatan patroli, antara pihak TEP dan Muspika setempat, kata Deddy. Bahkan, untuk masalah yang satu ini, Polsek Nanggung semakin menggiatkan patroli. Polsek Nanggung melakukan patroli seminggu sekali di lingkungan seputar penambangan milik Antam, jelas Kapolsek Nanggung AKP Ipik Kusmana.

Saat rombongan wartawan masuk terowongan emas, segala peraturan penambangan harus dipatuhi. Mulai dari tanda tangan kartu asuransi, memakai sepatu bot, berbaju warmpack, hingga berhelm yang bertengger senter di atasnya. Tidak lupa, masker pun harus dikenakan. “Bukan untuk apa-apa, hanya untuk menghindari bau yang tak sedap, tutur Rismono. Satu lagi, tidak diperbolehkan membawa benda-benda yang bisa menimbulkan api, semacam korek, karena efeknya bisa fatal.

Untuk menuju lobi terowongan utama dengan menggunakan lori, dibutuhkan waktu sekitar 15 menit. Jika berjalan kaki mungkin butuh waktu berjam-jam. Terowongan utama ini memiliki 4 pintu ventilasi yang dihubungkan langsung dengan udara luar dan langsung dihubungkan dengan pipa dan blower yang harus dipompa terlebih dahulu untuk mendapatkan udara bersih. Sampai di lobi, mau tak mau kereta lori berhenti, perjalanan pun harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jalanan di sepanjang terowongan ini tidak rata, penuh air, dan licin.
Di terowongan emas ini, Rismono menunjukkan batu-batu kuarsa yang diduga mengandung emas, lumpur emas yang ada di bak lori, dan sampah emas guna menutup kembali area yang telah di bor. “Jadi, proses mendulang emas itu seperti sebuah siklus, terus berputar, sampah emas dikembalikan lagi ke tempatnya, kata Rismono. Seperti itulah standar penambangan bawah tanah.

Drainase Situ Lebakwangi Rusak Parah

22 April 2009   0 views

WAJAR bila direktur Bidang Sumber Daya Lahan Kawasan dan Mitigasi Bencana Badan Pengkajian ,dan Penerapan Teknologi (BPPT) menilai tiga situ di Kabupaten Bogor berpotensi bencana. Sebab, kondisi situ tersebut memprihatinkan. Salah satunya di Situ Lebakwangi di Desa Pamagersari RT 02/01 Kecamatan Parung. Kondisi situ di pinggir Jalan Raya Parung Bogor tak terawat. Drainase pembuangan air dari situ itu pun tertimbun. Bahkan, di sepanjang drainase sudah berdiri bangunan permanen. “Kepada pihak terkait, kami meminta pembenahan situ. Soalnya bila air meluap bisa saja kasus Situ Gintung terjadi,” ujar tokoh masyarakat Parung Acep Sopian, kemarin.

Situ Lebakwangi hampir sama dengan Situ Gintung, yakni situ yang berada di atas pemukiman penduduk. Bahkan, di bawah situ terdapat perumahan Griya Brandweer yang terletak di Desa Waru Kecamatan Parung.”Meskipun situ ini hanya menampung air dari mata air, bila hujan terus mengguyur bisa saja me­luap,” tambahnya. Situ yang terletak di pinggir Jalan Raya Parung-Bogor itu bentuknya memanjang. Di sisi jalan raya banyak berdiri bangunan. Di antaranya rumah makan, SPBU, dan ruko.

Di sisi bagian utara ada bendungan dengan panjang sekitar 100 meter. Sedangkan di ujung jalan ada rumah warga yang menempel dengan situ. Di sisi lainnya hanya semak belukar. Ketebalan bendungan itu se­kitar tiga meter, sehingga di atas bendungan bisa dilalui kendaraan roda empat. Di sebelah utara,tepatnya di bawah dam atau bendungan, terdapat sawah dan kolam pemancingan dengan ketinggian lima sampai enam meter. Jarak dari bendungan Situ Lebak­wangi ke pemukiman warga yakni Perumahan Griya Brandweer di Desa Waru Kecamatan Parung sekitar 500 meter. Air Situ Lebak­wangi itu tenang. Warga juga memanfaatkannya sebagai pembudidaya ikan yakni dengan memasang jaring terapung.

Situ Lebakwangi itu hanya menampung air dari beberapa sumber mata air. Tak menampung air dari sungai seperti di beberapa lain­nya. Volume airnya pun stabil. Namun bila hujan deras, bukan tak .mungkin air situ meluap. Sementara sungai pembuangan situ itu tak terawat. Beberapa bagian sungai tertimbun tanah. Bahkan, di pemukiman penduduk sudah berdiri bangunan. (sal)

Gurandil Demo PT Antam Pongkor

22 April 2009   0 views

Ingin Diizinkan Ngagurandil, Protes Oknum Polisi yang Minta Tebusan Gurandil Jutaan Rupiah

NANGGUNG – Kawasan pertambangan emas di Gunungpongkor Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor kembali memanas. Warga dari dua desa, Desa Bantarkaret dan Desa Cisarua, mendatangi PT Antam Pongkor untuk meminta agar penambang emas ilegal (gurandil) diizinkan ngagurandil -menambang emas- di area yang dikelola perusahaan milik pemerintah tersebut.

Aksi massa yang di dalamnya terdapat para gurandil itu berlangsung ricuh. Massa yang didominasi pemuda emosi kemudian melempari petugas kepolisian yang berjaga di depan pintu gerbang PT Antam Pongkor dengan batu.

Pelemparan dilakukan setelah niat massa masuk ke kawasan perusahaan dihadang petugas yang disiagakan. Saat itu, di dalam perusahaan, dilakukan dialog antara warga dengan pihak manajemen PT Antam dan kepolisian.

Akibat insiden ini beberapa petugas mengalami luka di lengan dan kepala setelah terkena lemparan. Salah satu mobil patroli milik Polsek Nanggung juga sempat dihadang massa dan menjadi sasaran pelemparan.

Informasi yang dihimpun Radar Bogor, aksi ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, Senin (20/4), warga yang mayoritas pemuda dan kaum perempuan mendatangi PT Antam dan mendesak agar mereka diizinkan menambang. Aksi ini berlangsung hingga malam hari. Namun, permintaan warga tidak dikabulkan PT Antam.

Sejak kawasan Gunungpongkor dikelola PT Antam, gurandil terus beroperasi secara kucing-kucingan dengan pihak perusahaan. Mereka (gurandil, red) tak hanya orang Nanggung dan sekitarnya, warga yang datang dari luar Bogor pun banyak.

Mereka melakukan penambangan dengan membuat lubang di lereng dan atas pegunungan kawasan Pongkor. Sedangkan di bawahnya kegiatan PT Antam mengeksplorasi emas berlangsung. Sehingga tak aneh bila lubang-lubang gurandil itu sampai menembus level-level penambangan yang dikelola PT Antam. Bila naas, gurandil yang tembus ke level itu tertangkap petugas.

Meski gurandil dilarang dengan SK Bupati Bogor medio 2001, kegiatan penambang emas tradisional itu terus berlangsung hingga saat ini. Untuk mengamankan aset emas di Pongkor, PT Antam bekerjasama dengan Polda Jabar, termasuk untuk pengamanan wilayah bekerjasama dengan Polsek Nanggung. Nah, belakangan tidak sedikit gurandil yang tertangkap diamankan Polsek Nanggung. Warga ternyata tidak puas dengan kinerja polisi yang dinilainya sering meminta tebusan di atas kemampuan ekonomi untuk mengeluarkan gurandil yang tertangkap tangan karena menambang emas di areal milik PT Antam.

Ingin Diizinkan Ngagurandil, Protes Oknum Polisi yang Minta Tebusan Gurandil Jutaan Rupiah
Aksi warga berlanjut sejak kemarin pagi. Sekitar pukul 07:00, warga yang kebanyakan berasal dari Desa Cisarua memblokir jalan menuju PT Antam dengan menggunakan batu dan kayu. Akses ke PT Antam pun tertutup. Tapi perlahan pemblokiran berhasil dibuka petugas kepolisian dengan mengangkat dan membersihkan batu yang menghalangi jalan utama.

Tidak terima dengan tindakan petugas, warga kemudian mendatangi Kantor PT Antam. Upaya itu lagi-lagi tidak berhasil. Mereka dihadang petugas kepolisian yang sudah membuat blokade. Entah siapa yang memulai, sekitar pukul 11:00, warga mulai melempar batu ke arah petugas dan terjadi aksi saling dorong.

Aksi massa terhenti saat hujan mengguyur lokasi tersebut. Tapi massa tetap berkumpul di pintu gerbang menunggu rekan mereka yang sedang berdialog.

Dua jam berlalu, sekitar pukul 13:00, muncul dua kendaraan milik PT Antam yang menghampiri warga. Penumpang kendaraan tersebut adalah perwakilan warga yang selanjutnya bergabung dengan massa. “Dialog belum menghasilkan kesepakatan dan kami belum puas dengan jawaban manajemen PT Antam,” ujar warga Kampung Cimaja Desa Cisarua Acih (54) kepada massa pendukungnya.

Selain meminta agar gurandil diizinkan menambang emas di areal itu, massa juga mempertanyakan tindakan aparat kepolisian dari Polsek Nanggung yang meminta uang Rp2 juta untuk pembebasan gurandil yang tertangkap.

Sementara itu, tokoh masyarakat dari Desa Bantarkaret Ustad Suwandi yang ikut berdialog mengatakan, pihaknya mengerti gurandil merupakan masalah yang pelik dan melanggar hukum. Namun, dia meminta keringanan kepada PT Antam untuk mengizinkan warga menambang di kawasan yang dikuasai PT Antam.

Menanggapi tuntutan warga, Senior Vice President (SVP) PT Antam Pongkor Wawan Herawan tetap menolak gurandil menambang di areal yang dikuasai PT Antam. Alasannya, dia menegaskan perizinan untuk menambang bukan wewenang PT Antam Pongkor. Wawan menyarankan warga meminta izin ke Pemkab Bogor, dalam hal ini Dinas Pertambangan dan pengelola Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang merupakan penanggung jawab kawasan Gunungpongkor.

“Masalah izin bukan wewenang kami karena PT Antam Pongkor hanya mengelola. Kami juga sudah menjelaskan ke pemkab dan dewan bahwa PT Antam tidak berwenang memberikan izin menambang kepada gurandil,” terang Wawan.

Wawan mengatakan, aksi warga meminta agar gurandil diizinkan menambang merupakan yang pertama kalinya. Namun, pihaknya akan terus melaksanakan program Community Development (Comdev) untuk warga di sekitar PT Antam Pongkor, termasuk warga Desa Cisarua. Seperti diketahui, program Comdev untuk desa di sekitar PT Antam Pongkor, khususnya desa di Kecamatan Nanggung, setiap tahun dilaksanakan. Comdev itu berupa bantuan untuk pembangunan sarana transportasi (jalan, jembatan), pendidikan (bea siswa, pembangunan gedung sekolah), kesehatan (pegobatan gratis, operasi katarak, sunatan masal) dan keagamaan (bantuan pembangunan masjid, musala) serta lingkungan.

Tak hanya itu, perusahaan penghasil emas itu pun menggelontorkan dana miliaran rupiah per tahun kepada desa sekitar perusahaan untuk program ekonomi, berupa pinjaman lunak, misalnya per KK yang diusulkan desa mendapat kredit Rp5 juta.

“Akibat kejadian ini kami mengalami kerugian berupa ketidaknyamanan bekerja dan terhambatnya pasokan barang-barang,” imbuh Wawan.

Kunjungan Bupati Garut Batal

Aksi demo warga ke PT Antam Pongkor itu juga berakibat pembatalan kunjungan Bupati Garut Aceng HM Fikri ke kawasan pertambangan emas tersebut. Pembatalan dilakukan pihak PT Antam setelah melihat aksi massa yang memblokade pintu masuk ke kawasan itu. Agenda kunjungan bupati Garut rencananya membahas beberapa permasalahan mengenai pertambangan khususnya emas.

“Pembatalan kunjungan semata-mata untuk keamanan bupati Garut walau beliau sudah berada di Bogor. Tapi kami tetap agendakan kunjungan selanjutnya dan waktunya belum tahu. Kami masih melihat situasi dulu,” terang Superintendent Humas PT Antam Pongkor Yulan Kustiyan kepada Radar Bogor. Jadwal kunjungan Bupati Garut Aceng HM Fikri terpaksa dialihkan ke pengolahan logam mulia (LM) PT Antam di Jakarta.

Informasi yang diperoleh Radar Bogor, rencana kunjungan bupati Garut ini untuk membahas kerjasama penambangan emas di Kabupaten Garut. Kebetulan di daerah tersebut memiliki potensi emas yang cukup besar di kawasan Gunung Papandayan. Namun, PT Antam Pongkor membantah kunjungan tersebut untuk kerjasama dalam hal penambangan emas. “Kami tidak tahu, apakah ada kerjasama untuk itu,” ujar Yulan.(dkw)
sumber : radar-bogor.co.id

Next Page »

Masukkan 468x60e1 kode banner di sini
Masukkan 468x60e2 kode banner di sini