Buat Kecanduan, Tonjolin Narsisme – Ketika Demam Facebook Melanda

oleh

Saat ini jutaan orang sudah dibuat mabuk kepayang dengan salah satu jejaring pertemanan terbuka yang disebut Facebook. Jika lima tahun terakhir jejaring pertemanan yang paling diminati adalah Friendster maka kini orang berbondong-bondong mulai meninggalkan Friendster dan beralih ke Facebook.

HAMPIR semua orang yang mulai mengenal facebook akan merasakan gejala yang sama. Mulai ketagihan dan mabuk kepayang. Semenit saja tidak meng-update, rasanya ada sesuatu yang hilang dalam hidup.

Saling lempar komentar di dinding anggota lainnya adalah kepuasan tersendiri untuk menunjukkan eksistensi. Mengintip profile kawan seakan menjadi kesenangan tersendiri seperti menonton gosip selebritis di televisi. Melihat koleksi fotonya, komen kawannya, aktivitas pribadinya dan komen di fotonya, seakan membuat penggila facebook menjadi kenal lahir-batin dengan kawan dalam waktu yang cepat.

Demi tidak kehilangan semenit pun momen di facebook, tak sedikit orang yang akhirnya beramai- ramai mengupdate facebook dari handphone-nya. Jadi, facebook bisa diakses kapan pun dan di manapun, tak peduli waktu.

Lalu apa nilai positif dan negatif dari facebook ini? Nilai positif paling utama yang dihadirkan  facebook tentu semakin eratnya hubungan komunikasi dengan orang-orang sekitar, baik teman lama maupun rekan kerja. Ya, manfaat inilah yang dirasakan Abduh Saputra (23) salah seorang penggila facebook. Abduh dapat mengenal teman dan kerabatnya melalui jejaring itu dalam waktu singkat. Dia mengaku menemukan teman semasa kecil. “Sekarang teman-teman SD saya ada semua di facebook,” ujar Abduh yang memiliki 378 teman dalam akun facebook-nya.

Bukan hanya teman ataupun kerabat yang dia temui dalam jejaring ini, seseorang yang pernah dekat dengannya di masa SMA pun bisa ditemukan. “Saya ketemu mantan pacar waktu SMA,” jawabnya sambil tersenyum renyah. Sejak pertemuannya dengan mantan pancar melalui facebook, Abduh menjadi lebih intens menjalin hubungan yang telah lama putus.

Sementara nilai negatifnya lanjut Abduh, tersitanya waktu hanya mengurusi facebook. Apalagi mereka yang sedang bekerja, curi-curi facebook tentulah sangat merugikan.

Dalam sehari Abduh mengaku membuka facebook selama enam jam. “Dua jam sepulang kantor, saya buka di rumah,” tuturnya. Saking keranjingan, Abduh pernah ditegur atasannnya karena membuka  facebook saat jam kerja. “Sejak itu, saya selalu hati-hati membuka facebook waktu jam kerja,” katanya.

Berbeda dengan Abduh. Apip Priyatna (29) karyawan salah satu perusahan swasta di Jakarta yang juga penggila facebook ini menuturkan, selain mengganggu pekerjaan ternyata facebook juga terjadi nilai narsistis atau “Narsis” di diri anggotanya. Gejala narsistis ini, kata dia, terindikasi dari setiap anggota facebook. Kenapa? Hampir semua orang di facebook pasti  memilih foto terbaiknya untuk dipajang di id-facebook dan koleksi fotonya. “Semua foto narsisme itu seakan bersuara woy lihat nih gue, keren?,” cetus Apip.

Selain itu tambahnya, tak sedikit juga anggota facebook yang mengganti atau menyembunyikan identitas sebenarnya demi  menunjukkan narsismenya. “Jangan salah, di Canada, seorang suami sampai membunuh istrinya karena sang suami menemukan sang istri menuliskan identitas single dalam profile facebook-nya,” kata dia.

Persahabatan menggunakan facebook memang tenar setahun ini. Sekarang facebook sangat digandrungi semua kalangan terutama kaum muda. Tak jarang mereka harus mengeluarkan kocek hingga ratusan ribu rupiah hanya untuk membayar tagihan online melalui facebook.

Bahkan facebook sudah menjadi sindrom layaknya candu. Mengapa tidak? ada sebagian orang, jika sehari tak berfacebook maka mereka langsung sakit atau tak bisa tidur dan akhirnya ketagihan seperti orang yang kecanduan zat adiktif. Jelas sudah kalau facebook sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan komunikasi masyarakat dewasa ini. Seperti yang dialami sebagian pelajar dan mahasiswa di Kota Hujan. Setelah mengenal facebook, mereka hampir setiap menit berkomunikasi lewat facebook, baik dengan handphone, laptop dengan koneksi internet maupun warnet di wilayah di Kota Bogor.

Seperti tiga mahasiswi IPB yang mengandrungi komunikasi facebook yaitu Citra Afrilia Utami, Vira Tiara Putri dan Sendy Monarchi. Ketiganya hampir tidak lepas dari genggaman HP 3G ataupun laptop yang mungil nan indah sambil dihiasi pernak-pernik unik agar lebih menyenangkan.

Sendy Monarchi menuturkan, hampir setiap menit dirinya berfacebook dengan teman-temannya yang terdaftar di jejaringnya. “Kalau semenit saja nggak berfacebook, rasanya bisa gila. Bahkan waktu 24 jam yang ada hanya untuk facebook-kan sama teman-teman,” kata Sendy. Bahkan kegilaanya semakin menjadi, jika ada kesempatan. Langsung dirinya menggeledah tas lalu   mengunakan laptop mungilnya. “Pada kesempatan seperti ini, saat  lagi nggak ada perkuliahan, gue tunggu karena bisa ketemu teman sambil menunggu perkuliahan berikutnya. Karena sudah mengetahui caranya, langsung deh kita bisa menyapa semua teman-teman yang gokil-gokil,” ungkap gadis lulusan SMA 74 Arteri Pondok Indah Jakarta Selatan ini.

Lalu berapa dana yang harus dikeluarkan untuk kegilaannya dalam menggunakan facebook? Menurut Sendy, biaya yang harus dikeluarkannya setiap bulannya mencapai Rp300 ribu. “Menurut gue, biaya itu sebanding dengan apa yang gue terima. Sekarang daripada uang  dipakai hura-hura, lebih baik gue pakai  buat facebook,” bebernya.

Lain halnya dengan Vira Tiara Putri, gadis jebolan SMAN 1 Karawang ini sehari bisa menggunakan facebook mencapai lima jam. “Waktu segitu nggak cukup. Tapi karena banyak kegiatan maka dihentikan dulu, nanti dilanjutkan, soalnya facebook sudah menjadi kebutuhan hidup,” jelas Vira. Barulah saat pulang kuliah, dirinya kembali ber-facebook. Bahkan dirinya rela bergadang hanya untuk melayani teman-teman yang ada difacebooknya. “Nggak kerasa tau-tau sudah larut malam, makanya saya sering begadang meladeni komentar teman-teman,” ujarnya.

Berbeda dengan Citra Afrilia Utami, untuk memenuhi keinginan berfacebooknya dirinya terpaksa harus kucing-kuncingan dengan orangtuanya. Maklum tiap akhir bulan dirinyalah yang paling dicari oleh orang tuanya karena pembayaran telephone yang membengkak akibat kegiatannya berfacebook.

“Makanya kalau tiap bulan aku pasti deg-degan, karena ayahku sudah pasti marah-marah soal tingginya biaya pembayaran telephone,” kata gadis jebolan SMAN 7 Kota Bogor. Dalam sehari dirinya bisa menghabiskan waktu hampir 10 jam hanya untuk menyapa teman-temannya lewat facebook.

“Kalau aku hitung-hitung sehari bisa sepuluh jam, karena lama itulah makanya biaya yang harus aku bayar cukup besar,” pungkasnya. (sep/dei)