Gurandil Demo PT Antam Pongkor

oleh -di lihat 99 kali

Ingin Diizinkan Ngagurandil, Protes Oknum Polisi yang Minta Tebusan Gurandil Jutaan Rupiah

NANGGUNG – Kawasan pertambangan emas di Gunungpongkor Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor kembali memanas. Warga dari dua desa, Desa Bantarkaret dan Desa Cisarua, mendatangi PT Antam Pongkor untuk meminta agar penambang emas ilegal (gurandil) diizinkan ngagurandil -menambang emas- di area yang dikelola perusahaan milik pemerintah tersebut.

Aksi massa yang di dalamnya terdapat para gurandil itu berlangsung ricuh. Massa yang didominasi pemuda emosi kemudian melempari petugas kepolisian yang berjaga di depan pintu gerbang PT Antam Pongkor dengan batu.

Pelemparan dilakukan setelah niat massa masuk ke kawasan perusahaan dihadang petugas yang disiagakan. Saat itu, di dalam perusahaan, dilakukan dialog antara warga dengan pihak manajemen PT Antam dan kepolisian.

Akibat insiden ini beberapa petugas mengalami luka di lengan dan kepala setelah terkena lemparan. Salah satu mobil patroli milik Polsek Nanggung juga sempat dihadang massa dan menjadi sasaran pelemparan.

Informasi yang dihimpun Radar Bogor, aksi ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, Senin (20/4), warga yang mayoritas pemuda dan kaum perempuan mendatangi PT Antam dan mendesak agar mereka diizinkan menambang. Aksi ini berlangsung hingga malam hari. Namun, permintaan warga tidak dikabulkan PT Antam.

Sejak kawasan Gunungpongkor dikelola PT Antam, gurandil terus beroperasi secara kucing-kucingan dengan pihak perusahaan. Mereka (gurandil, red) tak hanya orang Nanggung dan sekitarnya, warga yang datang dari luar Bogor pun banyak.

Mereka melakukan penambangan dengan membuat lubang di lereng dan atas pegunungan kawasan Pongkor. Sedangkan di bawahnya kegiatan PT Antam mengeksplorasi emas berlangsung. Sehingga tak aneh bila lubang-lubang gurandil itu sampai menembus level-level penambangan yang dikelola PT Antam. Bila naas, gurandil yang tembus ke level itu tertangkap petugas.

Meski gurandil dilarang dengan SK Bupati Bogor medio 2001, kegiatan penambang emas tradisional itu terus berlangsung hingga saat ini. Untuk mengamankan aset emas di Pongkor, PT Antam bekerjasama dengan Polda Jabar, termasuk untuk pengamanan wilayah bekerjasama dengan Polsek Nanggung. Nah, belakangan tidak sedikit gurandil yang tertangkap diamankan Polsek Nanggung. Warga ternyata tidak puas dengan kinerja polisi yang dinilainya sering meminta tebusan di atas kemampuan ekonomi untuk mengeluarkan gurandil yang tertangkap tangan karena menambang emas di areal milik PT Antam.

Ingin Diizinkan Ngagurandil, Protes Oknum Polisi yang Minta Tebusan Gurandil Jutaan Rupiah
Aksi warga berlanjut sejak kemarin pagi. Sekitar pukul 07:00, warga yang kebanyakan berasal dari Desa Cisarua memblokir jalan menuju PT Antam dengan menggunakan batu dan kayu. Akses ke PT Antam pun tertutup. Tapi perlahan pemblokiran berhasil dibuka petugas kepolisian dengan mengangkat dan membersihkan batu yang menghalangi jalan utama.

Tidak terima dengan tindakan petugas, warga kemudian mendatangi Kantor PT Antam. Upaya itu lagi-lagi tidak berhasil. Mereka dihadang petugas kepolisian yang sudah membuat blokade. Entah siapa yang memulai, sekitar pukul 11:00, warga mulai melempar batu ke arah petugas dan terjadi aksi saling dorong.

Aksi massa terhenti saat hujan mengguyur lokasi tersebut. Tapi massa tetap berkumpul di pintu gerbang menunggu rekan mereka yang sedang berdialog.

Dua jam berlalu, sekitar pukul 13:00, muncul dua kendaraan milik PT Antam yang menghampiri warga. Penumpang kendaraan tersebut adalah perwakilan warga yang selanjutnya bergabung dengan massa. “Dialog belum menghasilkan kesepakatan dan kami belum puas dengan jawaban manajemen PT Antam,” ujar warga Kampung Cimaja Desa Cisarua Acih (54) kepada massa pendukungnya.

Selain meminta agar gurandil diizinkan menambang emas di areal itu, massa juga mempertanyakan tindakan aparat kepolisian dari Polsek Nanggung yang meminta uang Rp2 juta untuk pembebasan gurandil yang tertangkap.

Sementara itu, tokoh masyarakat dari Desa Bantarkaret Ustad Suwandi yang ikut berdialog mengatakan, pihaknya mengerti gurandil merupakan masalah yang pelik dan melanggar hukum. Namun, dia meminta keringanan kepada PT Antam untuk mengizinkan warga menambang di kawasan yang dikuasai PT Antam.

Menanggapi tuntutan warga, Senior Vice President (SVP) PT Antam Pongkor Wawan Herawan tetap menolak gurandil menambang di areal yang dikuasai PT Antam. Alasannya, dia menegaskan perizinan untuk menambang bukan wewenang PT Antam Pongkor. Wawan menyarankan warga meminta izin ke Pemkab Bogor, dalam hal ini Dinas Pertambangan dan pengelola Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang merupakan penanggung jawab kawasan Gunungpongkor.

“Masalah izin bukan wewenang kami karena PT Antam Pongkor hanya mengelola. Kami juga sudah menjelaskan ke pemkab dan dewan bahwa PT Antam tidak berwenang memberikan izin menambang kepada gurandil,” terang Wawan.

Wawan mengatakan, aksi warga meminta agar gurandil diizinkan menambang merupakan yang pertama kalinya. Namun, pihaknya akan terus melaksanakan program Community Development (Comdev) untuk warga di sekitar PT Antam Pongkor, termasuk warga Desa Cisarua. Seperti diketahui, program Comdev untuk desa di sekitar PT Antam Pongkor, khususnya desa di Kecamatan Nanggung, setiap tahun dilaksanakan. Comdev itu berupa bantuan untuk pembangunan sarana transportasi (jalan, jembatan), pendidikan (bea siswa, pembangunan gedung sekolah), kesehatan (pegobatan gratis, operasi katarak, sunatan masal) dan keagamaan (bantuan pembangunan masjid, musala) serta lingkungan.

Tak hanya itu, perusahaan penghasil emas itu pun menggelontorkan dana miliaran rupiah per tahun kepada desa sekitar perusahaan untuk program ekonomi, berupa pinjaman lunak, misalnya per KK yang diusulkan desa mendapat kredit Rp5 juta.

“Akibat kejadian ini kami mengalami kerugian berupa ketidaknyamanan bekerja dan terhambatnya pasokan barang-barang,” imbuh Wawan.

Kunjungan Bupati Garut Batal

Aksi demo warga ke PT Antam Pongkor itu juga berakibat pembatalan kunjungan Bupati Garut Aceng HM Fikri ke kawasan pertambangan emas tersebut. Pembatalan dilakukan pihak PT Antam setelah melihat aksi massa yang memblokade pintu masuk ke kawasan itu. Agenda kunjungan bupati Garut rencananya membahas beberapa permasalahan mengenai pertambangan khususnya emas.

“Pembatalan kunjungan semata-mata untuk keamanan bupati Garut walau beliau sudah berada di Bogor. Tapi kami tetap agendakan kunjungan selanjutnya dan waktunya belum tahu. Kami masih melihat situasi dulu,” terang Superintendent Humas PT Antam Pongkor Yulan Kustiyan kepada Radar Bogor. Jadwal kunjungan Bupati Garut Aceng HM Fikri terpaksa dialihkan ke pengolahan logam mulia (LM) PT Antam di Jakarta.

Informasi yang diperoleh Radar Bogor, rencana kunjungan bupati Garut ini untuk membahas kerjasama penambangan emas di Kabupaten Garut. Kebetulan di daerah tersebut memiliki potensi emas yang cukup besar di kawasan Gunung Papandayan. Namun, PT Antam Pongkor membantah kunjungan tersebut untuk kerjasama dalam hal penambangan emas. “Kami tidak tahu, apakah ada kerjasama untuk itu,” ujar Yulan.(dkw)
sumber : radar-bogor.co.id

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.