Melihat Proses Bedah Rumah Hasil Swadaya Masyarakat di Desa Situudik (1)

oleh

Bila mendengar kata bedah rumah, masyarakat pasti beranggapan bagian dari program salah satu televisi swasta. Tapi, bagi Kepala Desa Situudik Kecamatan Cibungbulang Enduh Nuhudawi, hal itu menjadi bagian dari program kerjanya. Bagaimana mekanismenya?

ENDUH Nuhudawi pada 25 April 2008 resmi menjadi Kades Situudik periode 2008-2012. Tumpukan pekerjaan rumah (PR) pun sudah menanti. Di antaranya meningkatkan kesejahteraan masyarakat untuk kedepannya.

Apalagi masih banyak warga Desa Situudik yang memerlukan bantuan. Tapi, ada satu program yang sudah ia rencanakan, sebelum terpilih menjadi kades yakni bedah rumah milik warga miskin dan orang jompo.

Awalnya Enduh sempat ragu. Apakah program ini bisa berjalan atau tidak. Apalagi anggaran desa tak mencukupi untuk memperbaiki beberapa rumah milik warga.  Terlebih, Pemkab Bogor tidak mengalokasikan anggaran untuk program tersebut.

Karena sudah niat, Enduh pun rela mengeluarkan dana pribadi untuk menjalankan program bedah rumah. Hasilnya, program yang ia kerjakan mendapat respons positif dari masyarakat sekitar. Tak ingin berhenti begitu saja, Enduh sepakat mengajak masyarakat berpartisipasi dalam program tersebut.

Hasilnya mayoritas masyarakat menengah atas mendukung untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk bedah rumah yang tak layak huni.

Semenjak itulah, program ini ia namakan sebagai program swadaya masyarakat. Tak tanggung-tanggung, Enduh menargetkan 94 rumah milik warga bakal ia bedah. Hingga saat ini baru 15 rumah yang berhasil ia bedah.

Namun, untuk menentukan rumah seperti apa yang layak bedah, ia memberikan kategori yakni warga jompo miskin, rumah milik warga yang mengalami rusak parah dan tidak layak huni.

“Sampai sekarang, kami berhasil membedah 15 rumah. Tapi yang membuat saya bangga, program ini berjalan  berkat partisipasi masyarakat,” ujarnya.(dkw)