Menyusuri Jejak Gurandil di Tambang Emas Pongkor

oleh

Awal Maret lalu, nama Pongkor kembali mengejutkan publik karena tragedi yang merenggut sejumlah nyawa manusia. Mereka yang mati cukup mengenaskan itu disebut-sebut sebagai penambang tanpa izin (peti), yang populer dengan julukan gurandil. Musibah tak cuma melanda peti, tapi juga beberapa karyawan penambangan yang resmi. Walhasil, 13 gurandil dan 1 karyawan tewas dalam terowongan penambangan emas Pongkor.

Di Gunung Pongkor memang berdiri sebuah penambangan emas resmi bernama Unit Bisnis Penambangan Emas (UBPE) Pongkor, milik BUMN PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Oleh masyarakat sekitar, UBPE Pongkor lebih sering disebut Tambang Emas Pongkor (TEP). TEP ini bersebelahan dengan Taman Nasional Gunung Halimun yang hijau dan rimbun, tepatnya di Sorongan, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, 54 kilimeter dari kota Bogor. Namun, ketika memasuki wilayah Bantarkaret, jangan harap Anda bisa menemukan angkutan umum atau angkutan desa. Yang ada hanyalah tukang-tukang ojek.

TEP memiliki 3 urat kuarsa yang mengandung emas dan perak, yaitu urat Ciguha, urat Kubang Kicau, dan urat Ciurug. Untuk mendapatkan emas dari urat-urat ini, Antam membangun terowongan utama berdiameter 3,3 meter setinggi 3 meter. Jika terus diikuti, terowongan ini akan tembus ke Gunung Pongkor yang jauhnya sekitar 4 kilometer. Pintu dari portal beton adalah satu-satunya tempat keluar masuk karyawan TEP.

Dalam terowongan ini, terdapat 4 lubang besar sebagai ventilasi. “Dengan ventilasi semacam ini, orang bisa tahan tinggal selama dua hari dalam terowongan tanpa harus kehabisan udara bersih, kata karyawan TEP Rismono, saat mendampingi wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Pertambangan Energi dan Sumber Daya Mineral (FW-PESDM) Kamis (15/4) pekan lalu mengunjungi Pongkor.

Di tengah-tengah terowongan utama terdapat semacam lobi sebagai tempat lift. Lift inilah yang menghubungkan dan mengantarkan para pekerja tambang menuju ke 4 level produksi TEP di atasnya. Lift yang ditarik dengan katrol ini berkapasitas maksimum 20 orang dan tanpa tombol seperti lift modern. Lift ini unik, karena cara membuka dan menutupnya dilakukan secara manual.

Sejarah

Tambang emas Pongkor (TEP) merupakan salah satu dari 6 unit bisnis milik Antam, yang dieksploitasi sejak 1974. Sejak restrukturisasi tahun 2000, yang mengalihkan fungsi tambang emas ini dari cost center menjadi profit center, TEP kini menjadi Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor (UBPE) Pongkor.

Keberadaan TEP dimulai dengan dilakukannya eksplorasi logam dasar (Pb dan Zn) di bagian utara Gunung Pongkor oleh geolog Antam mulai 1974 hingga 1981. Eksplorasi ini menemukan endapan urat kuarsa (quart vein) berkadar 4-gpt emas dan 126-gpt perak. Karena waktu itu Antam tengah fokus pada eksplorasi Cikotok, antara 1983- 1988 eksplorasi dihentikan sejenak. Barulah tahun 1988 hingga 1991 eksplorasi Pongkor dilanjutkan secara sistematis. Akhirnya, studi kelayakan pun dibuat dan Antam mengantongi Kuasa Pertambangan Ekploitasi seluas 4.058 hektare tahun 1991. Tahun 1992, dengan bantuan ABRI Masuk Desa (AMD), jalan masuk sepanjang 12,5 km berhasil diwujudkan.

Pabrik pertama dengan kapasitas 2,5 ton emas/tahun berhasil dibangun pada tahun 1993, secara bersamaan Tailing Dam pun bisa direalisasikan. Pengembangan tambang terus dilakukan dan tahun 1997 dibukalah pabrik tambang baru di Ciurug berkapasitas produksi 5 ton emas/tahun. Pabrik ini resmi beroperasi tahun 2000. Dengan dua pabrik tambang inilah, terhitung 1 Agustus 2000, Antam memiliki wilayah penambangan di Pongkor seluas 6.047 hektare.

Mendulang emas tidaklah gampang, dibutuhkan keahlian dan kesabaran. Dari batu digerus menjadi lumpur kemudian diolah menjadi emas mentah. “Dari lumpur emas seberat 4,5 ton, akan didapatkan 45 gram emas berkadar 10 karat, kata Rismono. Sebab itulah, Kuasa Direksi Operasi Antam Eko Warman menyebut bahwa target produksi emas per bulan hanya 350 kilogram.

TEP memiliki 1.526 karyawan yang bekerja dibagi menjadi 3 shift. Dalam satu hari, mereka hanya bisa ditambang 1.200 ton lumpur emas.

TEP adalah tambang bawah tanah alias, sehingga penambangan emasnya harus melalui serangkaian proses pemboran, peledakan, pengerukan, pengangkutan, dan penimbunan kembali. “Ini sangat berbeda dengan yang dilakukan para gurandil, yang hanya mencari urat emasnya saja. Kami ingin menghindari kerusakan lingkungan, kata Rismono sambil menunjukkan urat tikus atau gua kecil yang dibuat para gurandil.

Di Pongkor, bijih emas mentah diolah menjadi logam campuran emas 6 – 17% dan perak 82 – 92%, serta kotoran maksimum 4%. Campuran ini akan dimurnikan di Unit Bisnis Pemurnian Logam Mulia di Jakarta.

Meski prosesnya panjang, tak membuat TEP mangkir dari standardisasi baku penambangan. Terbukti pada tahun 2000 TEP berhasil menyabet ISO 9002 yang berkaitan dengan manajemen mutu. Dengan dibangunnya Tunnel di level 600 – 700 dpl urat Ciurug pada tahun 2001, TEP meraih ISO 14000 dan ISO 14001 yang berkaitan dengan sistem manajemen lingkungan. “Jadi, TEP tak mungkin dapat ISO kalau manajemen lingkungannya tidak bagus, tutur Rismono.

Menurut Direktur Utama Antam, Deddy Aditya Soemanegara, TEP yang dibangun dengan investasi Rp 100 miliar memberikan kontribusi sekitar 25-30% bagi pendapatan perseroan. Kontribusi dari emas tidaklah sebesar kontribusi nikel yang mencapai 65%. Setiap tahun kontribusi emas relatif stabil. Namun, kata Deddy, kontribusi ini sempat menurun jadi 11% kala peti merajalela tahun 1998. Peti telah merusak dan membakar aset perusahaan. Tapi tahun berikutnya, kontribusi emas naik kembali bahkan sempat melonjak hingga 41%. Untuk tahun 2004, Deddy berharap kontribusi emas Pongkor masih tetap pada kisaran 25 – 30%.

TEP memiliki cadangan geologi sekitar 6 juta ton bijih emas dengan kadar emas rata-rata 17,14 gram per ton dan kadar perak 154,28 gram per ton. Cadangan emas ini bisa dipertahankan hingga 12 atau 14 tahun lagi.

Peti

Pada awal-awal penambangan, sekitar 1994, tak ada satupun Peti yang beroperasi di Pongkor, beda dengan tambang Kalimantan yang selalu penuh Peti. Fenomena Peti marak tahun 1998 akibat faktor daya tarik harga emas yang mencapai angka Rp 100.000 per gram, di samping karena krisis ekonomi dan pengangguran yang melonjak. Diperkirakan ada sekitar 3.000 hingga 8.000 gurandil yang beroperasi di Pongkor. Sekitar 70% dari jumlah ini adalah pendatang dari Cikotok, Salopa, Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor, Rangkasbitung, Bengkulu, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur, sementara hanya 30% saja yang berasal dari Desa Bantar Karet dan Desa Cisarua.

Sebanyak 13 gurandil tewas dalam musibah Pongkor Maret lalu mati karena terjebak asap dalam terowongan di level IV. Para gurandil menuding bahwa TEP-lah yang menimbulkan asap tersebut untuk mengusir mereka. Tapi TEP membantah dan balik menuding gurandil yang dianggap membakar daun dan kayu untuk menakut-nakuti petugas keamanan agar bisa menguasai lubang yang mereka buat. Hingga kini, masalah asap ini masih diteliti oleh Pusat Laboratorium Forensik Mabes Kepolisian RI.

Menurut Rismono yang lebih banyak berada di lapangan, para gurandil dalam melakukan aksinya biasanya menginap selama 1 minggu dan hanya menggunakan penerangan lilin. Khusus untuk level IV (lokasi tragedi), memang banyak digunakan kayu-kayu sebagai fasilitas. Dugaan Rismono, lilin milik para gurandil itulah yang menyebabkan kayu-kayu menjadi terbakar, yang akhirnya menimbulkan gas CO. “Penyebab pasti dari asap ini, pihak Forensik lah yang lebih berkompeten menjawabnya, katanya. Ketika menginap, para gurandil tersebut membawa bekal logistik, mulai dari beras, mie, garam, ikan asin, dan juga peralatan memasak.

Yang jelas, kata Deddy Aditya, jumlah gurandil saat ini telah jauh berkurang, tinggal 100-an orang. “Semua ini berkat kombinasi antara program community development, pembinaan masyarakat, dan peningkatan patroli, antara pihak TEP dan Muspika setempat, kata Deddy. Bahkan, untuk masalah yang satu ini, Polsek Nanggung semakin menggiatkan patroli. Polsek Nanggung melakukan patroli seminggu sekali di lingkungan seputar penambangan milik Antam, jelas Kapolsek Nanggung AKP Ipik Kusmana.

Saat rombongan wartawan masuk terowongan emas, segala peraturan penambangan harus dipatuhi. Mulai dari tanda tangan kartu asuransi, memakai sepatu bot, berbaju warmpack, hingga berhelm yang bertengger senter di atasnya. Tidak lupa, masker pun harus dikenakan. “Bukan untuk apa-apa, hanya untuk menghindari bau yang tak sedap, tutur Rismono. Satu lagi, tidak diperbolehkan membawa benda-benda yang bisa menimbulkan api, semacam korek, karena efeknya bisa fatal.

Untuk menuju lobi terowongan utama dengan menggunakan lori, dibutuhkan waktu sekitar 15 menit. Jika berjalan kaki mungkin butuh waktu berjam-jam. Terowongan utama ini memiliki 4 pintu ventilasi yang dihubungkan langsung dengan udara luar dan langsung dihubungkan dengan pipa dan blower yang harus dipompa terlebih dahulu untuk mendapatkan udara bersih. Sampai di lobi, mau tak mau kereta lori berhenti, perjalanan pun harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jalanan di sepanjang terowongan ini tidak rata, penuh air, dan licin.
Di terowongan emas ini, Rismono menunjukkan batu-batu kuarsa yang diduga mengandung emas, lumpur emas yang ada di bak lori, dan sampah emas guna menutup kembali area yang telah di bor. “Jadi, proses mendulang emas itu seperti sebuah siklus, terus berputar, sampah emas dikembalikan lagi ke tempatnya, kata Rismono. Seperti itulah standar penambangan bawah tanah.