Situ Ciburuy tak Lagi Ngeplak Caina

oleh

Situ Ciburuy laukna hese dipancing.. Nyeredet hate ningali ngeplak caina..

Penggalan lirik tembang Sunda itu menggambarkan keindahan pemandangan alam di kawasan Situ Ciburuy, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat yang sudah diakui baik oleh masyarakat setempat maupun luar daerah. Tak heran jika pesona danau buatan itu diabadikan dalam lirik lagu Sunda populer yang sudah tak asing lagi didengar masyarakat Jawa Barat.

Sebagaimana lirik lagu tersebut, volume air di Situ Ciburuy saat itu tinggi dan memungkinkan ikan-ikan di dalamnya bebas bergerak sehingga hese (susah) dipancing. Sementara Ngeplak dalam bahasa Sunda berarti putih mengilap, yang menggambarkan bahwa air Situ Ciburuy dahulu jernih dan memesona.

Namun, lain dulu lain sekarang. Kini Situ Ciburuy hanya berupa genangan air yang sudah dikotori tangan-tangan manusia. Sampah kaleng dan plastik yang beserakan di pinggir situ membuat pemandangan di danau seluas 25 hektare itu terkesan kotor.

Pemandangan itu kian jelas seiring dengan menurunnya permukaan dan debit air di Situ Ciburuy. Volume sampah terus meningkat sementara volume air situ menurun. Semakin mendorong mata untuk mengalihkan pandangan.

“Permukaan air turun 1,5 hingga 2 meter dan membuat Situ Ciburuy menjadi dangkal. Anak-anak saja bisa berdiri di tengah situ. Sampah-sampah jadi terlihat berserakan,” kata Acep Dadang (40), warga Desa Ciburuy saat ditemui di kawasan Situ Ciburuy, Rabu (19/10).

Penurunan debit air Situ Ciburuy, kata Acep, sudah terjadi sekitar dua bulan lalu sejak musim kemarau. Menurut dia, hal itu tidak hanya menyebabkan sampah-sampah muncul ke permukaan, tetapi juga fungsi irigasi dari Situ Ciburuy menjadi tidak optimal.

Penataan Situ Ciburuy saat ini dibutuhkan tidak hanya untuk kembali membersihkan kawasan tersebut dari onggokan sampah, tetapi juga untuk melancarkan pengairan sawah-sawah warga setempat. Kepada Pemkab Bandung Barat, Acep berharap agar dibuat tempat penampungan sampah untuk membersihkan kawasan situ.

“Sementara untuk menjaga debit air agar tetap tinggi, harus dilakukan pengerukan di Situ Ciburuy untuk menampung banyak air saat musim hujan ini. Jadi, irigasi ke sawah-sawah warga bisa kembali berjalan,” ujarnya.

Pengelolaan Situ Ciburuy sebagai objek wisata unggulan daerah sebenarnya tidak hanya melibatkan Pemkab Bandung Barat, tetapi juga Pemprov Jabar di bawah Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air. Namun penatan Situ Ciburuy hingga kini masih belum optimal. Meskipun tim pengelola Situ Ciburuy sudah dibentuk sejak akhir tahun lalu, penataan situ dengan memperbaiki akses jalan masuk baru dilakukan Oktober ini.

Minimnya penataan Situ Ciburuy membuat kawasan itu sepi pengunjung selama beberapa tahun terakhir. Sejumlah pedagang di sekitanya juga mengaku mengalami penurunan penghasilan akibat minimnya pengunjung. Pesona Situ Ciburuy kini seakan hilang karena tak lagi ngeplak caina. (Cecep Wijaya Sari/das/’PRLM”)***

sumber : pikiran-rakyat.com