Dilema Keberadaan Pohon Besar di Bogor

oleh

Kota Bogor, konon dikenal hingga ke mancanegara karena keberadaan koleksi pohon rimbunnya. Selain koleksi yang tertanam di Kebun Raya Bogor, koleksi pohon lainnya juga terlihat di sepanjang jalan utama Kota Bogor, terutama wilayah Bogor lama.

Ketika cuaca panas, keberadaan pohon yang rimbun itu terasa menyejukkan dan membuat nyaman. Namun, sudah beberapa pekan terakhir ini cuaca di Kota Bogor berubah dengan sangat cepat. Pagi hingga siang sekitar pukul 13.00 WIB panas penyengat, tetapi mulai pukul 14.00 WIB cuaca berubah menjadi gelap karena mendung hitam.

Suasana rimbun yang tadinya menyejukkan tiba-tiba berubah menjadi mencekam karena biasanya hujan yang turun disertai angin kencang yang menggoyang pohon-pohon rimbun itu seolah mau tumbang. Bahkan, tanpa diduga, bisa jadi pohon besar yang ada di pinggir jalan bisa saja tumbang atau ranting dan batangnya patah dan menimpa siapa saja yang berada di dekatnya.

Di kawasan Bogor lama, yakni Jln. Pemuda, Jln. Dadali, Jln. Ahmad Yani, Jln. Dr. Sumeru, wilayah Kebun Raya Bogor, Jln, Siliwangi, sekitar Lawanggintung, serta Jln. Pahlawan memang terkenal dengan pohon-pohonnya yang besar dan rata-rata berusia lebih dari 50 tahun.

Sebagian besar jenis pohon yang ditanam adalah kenari yang telah ditetapkan sebagai pohon khas Kota Bogor. Meski demikian, tidak ada yang tahu pasti sejak kapan pohon-pohon kenari ini mulai ditanam di beberapa ruas jalan Bogor lama.

Sejumlah sumber menyebutkan pohon-pohon kenari, khususnya di Jln. Pemuda dan Ahmad Yani Kota Bogor sudah ditanam semenjak zaman kolonial Belanda ketika Dandaels membuat jalan yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor.

Sementara, untuk jenis pohon lainnya seperti angsana dan flamboyan diperkirakan ditanam saat masa awal Orde Baru. (Kismi Dwi Astuti/”PRLM”/A-88)***
sumber : pikrain-rakyat.com