Jembatan di Rumpin Berbahaya

oleh
Jembatan Gantung Desa Leuwibatu (mediaindonesia.com)

Kondisi sejumlah jembatan bambu maupun beton di Kecamatan Rumpin, cukup memprihatinkan serta dapat membahayakan warga yang melintasinya.

Bahkan, dibukanya akses armada tambang jenis tronton ke arah Jembatan Leuwiranji-Gunungsindur menimbulkan ke-khawatiran sejumlah warga dan pengguna jalan.

Pasalnya, meskipun kondisi Jem-batan Leuwiranji sudah berstatus stadium 3 (sangat kritis, red), ratusan truk tronton bermuatan lebih dari 40 ton tetap memaksa melintas di atas jembatan secara bersamaan.

Imbauan petugas DLLAJ, yang disampaikan agar kendaraan melintas satu per satu dan pembatasan tonase maksimal 8 ton diabaikan para sopir.

Tokoh masyarakat Leuwiranji, Badrudin mengusulkan, untuk mengurai volume kendaraan ke arah Leuwiranji, sebaiknya portal Cikoleang ke arah Cisauk dibuka untuk akses tronton. ”Kalau itu dibuka, nanti kendaraan yang melintas sebagian bisa diarahkan ke Cisauk, supaya yang melintas ke Leuwiranji bisa diurai,”  katanya.

Namun, usulan tersebut dipastikan akan mendapat penolakan warga Cikoleang karena pada saat pengalihan arus armada tambang sementara, saat penutupan jalan Leuwiranji pekan lalu, warga Cikoleang menolak solusi tersebut. Sejumlah tronton, akhirnya terpaksa diarahkan ke arah Banjarpinang melalui Jalan Malapar, Desa Sukamulya.

Tak hanya itu, lebih dari 4.000 warga Kampung Kantalarang 1, Kantalarang 2 dan Kantalarang 3, Desa Leuwibatu terancam ter-isolir karena kondisi jembatan gantung yang biasa digunakan cukup memprihatinkan.

Jembatan gantung yang berada di atas Sungai Cikaniki itu meng-hubungkan Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, dengan panjang mencapai sekitar 70 meter, ketinggian permukaan air lebih dari 7 meter dan kedalaman air mencapai 10 meter, terutama saat turun hujan.

”Sejak tahun 1992, tak pernah ada bantuan dari pemerintah. Kalaupun ada perbaikan, swadaya masyarakat tapi tak menyeluruh,”  ucap salah satu warga, Asep (35).

Menurut dia, ada satu jalan lain menuju Desa Karehkel maupun sebaliknya namun kondisinya lebih membahayakan karena hanya jalan setapak, rusak, dan jaraknya lebih dari tiga kilometer ke jalan desa.

Tak hanya itu, kondisinya masih hutan karet dan rawan kejahatan karena sepi. ”Bisa ke jalan perkebunan kayu Bosbow, Gunung Pangangkan, tapi jauh dan berbahaya,” tuturnya.

Menanggapi masalah ini, Kepala UPT Jalan dan Jembatan wilayah Leuwiliang, Asman Dilla mengatakan, telah memeriksa kondisi semua jembatan dan melaporkannya kepada Dinas Binamarga dan Pengairan (DBMP) Kabupaten Bogor.

Menurut dia, pengawasan terus dilakukan demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan. ”Semua telah kita data dan laporkan,”  ucapnya.(ful/luc)
sumber : radar-bogor.co.id