Kekeringan Landa Kabupaten Bogor

oleh -di lihat 62 kali

airKesulitan mencari air bersih mulai melanda Kabupaten Bogor.  Dari 17 kecamatan  yang dilanda kekeringan,tujuh kecamatan di antaranya dikategorikan daerah paling krisis kekeringan. Tujuh kecamatan itu,  Dramaga, Cariu, Jonggol, Klapanunggal, Tanjungsari, Tamansari, dan Jonggol.

Pemkab Bogor mengaku kewalahan mengatasi ini lantaran medan jalan yang sulit untuk mendistribusikan air dari PDAM Tirta Kahuripan. “Kita sudah berupaya optimal mendistribusikan air, namun medan yang berat membuat kami kewalahan mendistribusikan air. Kondi membuat pembak menetapkan Kabupaten Bogor sebagai  daerah siaga darurat kekeringan  2014,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bnecana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Yoss Sudrajat, Jumat.

Sejak 1 dua pekan ini pihkanya  sudah mendistribusikan 90.000 liter air bersih dengan mengerahkan  17 truk tangki air yang didistribusikan ke 17 kecamatan di Kabupaten Bogor. Selain itu, pihaknya juga sudah membuat penampungan air di 41 titik dengan kapastitas 5.000 liter sehingga masyarakat dapat mengakses selama 24 jam.

“Kami juga sudah berkoordinasi dengan perusahan-perusahaan air minum, air curah dengan menggunakan mobil tangki air milik TNI untuk mendistribusikan air bersih ke lokasi yang mengalami kekeringan,” pungkas Yos. Meski dinyatakan siaga darurat kekeringan, namun kondisi  ini masih belum parah dibanding tahun 2012 lalu.” Dua tahun lalu wilayah yang dilanda kekeringan terjadi di 124 desa di 21 kecamatan,” katanya.

Kesulitan air bersih ini dikeluhkan sejumlah warga di antaranya di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga. Sekitar 500-an kepala keluarga (KK) terpaksa harus mengantre berjam-jam setiap harinya salah satu sumber mata air hanya untuk mendapatkan air bersih.   Bahkan, akibat kekeringan tersebut warga terpaksa harus mengeluarkan uang buat membeli air gallon.

Handayani, warga Kampung Cangkrang, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga misalnya mengaku, setiap harinya ia harus mengantri minimal empat jam untuk mendapatkan tiga ember air bersih. “Kalau mau mengantri kami harus siap berdiri selama empat jam dengan ratusan warga lainnya dari kampung lainnya,” katanya.

Dia mengatakan kni   hampir semua sumur di kampungnya. Padahal kedalaman sumur warga rata-rata  19 meter lebih. Buat keperluan air minum dia harus membeli air kemasan, sedangkan sumber mata air buat mencuci. “Ada sumber mata air lainnya, tapi jaraknya sekitar 2,5 kKm,” katanya.

Sejumlah petani di  Desa Cibatu Tiga, Kecamatan Cariu dipastikan gagal panen. Impian meraup hasil panen belasan juta rupiah lenyap lantaran  belasan  hektar sawah milik petani setempat kekeringan dan dipastikan gagal panen. “Padahal hasil panen kali ini kami berniat hendak berkurban kambing pada Idul Adha , lantaran gagal panen rencana itu berantakan,” kata Ipan, petani.

Biasanya padi yang ditanam di lahannya seluas 2,2 hektar akan panen pada akhir September ini, namun memasuki minggu kedua September, lahan sawahnya mulai kekeringan. “Puncaknya tiga hari lalu tanaman padi mati layu dan kekuning-kunigan,” ujarnya. Kejadian ini membuatnya merugi Rp30 jutaan, padahal jika panen berhasil dia bisa meraup keuntungan bersih Rp 15 jutaan.

(poskota)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.