Es Berbahan Kimia Beredar

oleh -di lihat 185 kali

ES batu berbahan air sungai yang dicampur bahan kimia beredar di Jakarta. Kepolisian Sektor Setiabudi mengungkap kasus itu setelah ada warga yang mengeluh sakit perut seusai mengonsumsi es batu.

Kapolres Jakarta Selatan Kombes Wahyu Hadiningrat di Jakarta kemarin mengatakan pabrik es batu milik PT Elstar Utama (EU) yang terletak di Jalan Rawa Gelam 2, Cakung, Jakarta Timur, itu diketahui menggunakan bahan dasar air sungai yang kotor. Untuk menjernihkannya, mereka mencampur air sungai dengan bahan kimia berbahaya.

Pengungkapan kasus itu, lanjut Kapolres, berawal dari laporan warga yang menemukan kejanggalan pada es batu yang dijual di sebuah warung milik R di kawasan Setiabudi, Kelurahan Karet, Jakarta Selatan.

Polisi pun menyelidiki kasus itu hingga memanggil AL, 55, pemilik pabrik. Selain itu, polisi juga telah memeriksa pemilik mobil tangki, DDN, yang biasa memasok air baku ke pabrik tersebut.

Es hasil pabrik itu pun diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kemenkes RI. Hasilnya, es tersebut tidak layak konsumsi karena terdapat bakteri coliform yang dapat menyebabkan penyakit, seperti kanker.

Mengenai kandungan kimianya, di es batu itu ditemukan kaporit, soda api, tawas, dan antifoam yang dicampurkan dengan air. DDN pun mengaku bahan baku air untuk membuat es batu itu diambil dari anak Sungai Kalimalang, Bekasi, yang berjarak sekitar 10 kilometer dari lokasi pabrik.

“Dari hasil keterangan, air bahan baku esnya diambil dari sungai yang ada di Kalimalang. Bahan kimia ini berbahaya bagi kesehatan orang yang mengonsumsinya,” papar Wahyu.

Menyebar ke pelosok DKI
Air yang sudah diolah kemudian di cetak menjadi es balok. Es balok itu didistribusikan ke warung-warung dengan harga Rp12 ribu dan Rp30 ribu, tergantung ukuran.

“Sehari, target penjualannya 2.000 batang. Es batu ini sudah disebar ke beberapa wilayah di Jakarta Selatan, khususnya di kawasan Setiabudi,” kata Wahyu.

Berdasarkan pemantauan, di pabrik es milik PT EU tidak ada aktivitas yang terlihat. Garis polisi juga sudah terpasang di dalam pabrik.

“Pabriknya beroperasi 24 jam. Sudah sembilan hari yang lalu dipasangi garis polisi. Bosnya jarang datang ke sini,” kata Dian, pemilik warung di sekitar pabrik.

Dian mengaku tidak mengetahui adanya kasus keracunan akibat mengonsumsi es batu yang diproduksi pabrik itu. “Nggak tahu. Tapi masak sih? Kan di wilayah sini juga ngambil es batu ke sana. Kalau ada racun, sini duluan dong yang kena,” ujarnya.

Namun, polisi tetap mengusut kasus ini dan menjerat para pelakunya dengan UU No 7/2004 tentang Sumber Daya Air dengan ancaman 3 tahun penjara atau denda Rp500 juta, UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman 5 tahun penjara atau denda Rp2 miliar, dan UU No 18/2012 tentang Pangan dengan ancaman 2 tahun penjara atau denda Rp4 miliar. (mediaindonesia.com)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.