Kerugian Akibat Kekeringan Bogor Rp9 Triliun

oleh

Kerugian akibat bencana kekeringan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada periode 2002 hingga 2013 mencapai Rp9,060 triliun, kata Kepala Badan Lingkungan Hidup, Roni Sukmana.

Dalam diskusi publik yang diselenggarakan Forum Wartawan Bogor Selatan, di Pancawati, Kamis data kerugian tersebut dihimpun dari berbagai sumber Dibi serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana(BNPB).

“Kerugian yang ditimbulkan akibat bencana alam karena kerusakan lingkungan sudah sangat nyata dan mahal,” kata Roni.

Roni mengatakan, berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Bogor, kekeringan yang terjadi tahun ini tersebar 72 desa di 21 Kecamatan. Belum diketahui berapa nilai kerugian yang ditimbulkan oleh bencana tersebut.

Menurut Roni, kekeringan selain dipicu oleh faktor alam yakni gejala El-nino, juga ada pengaruhnya dari kerusakan lingkungan yang telah terjadi, diantaranya kerusakan hutan, penyempitan daerah aliran sungai, berubahnya fungsi lahan pertanian, pengambilan air sumur dalam yang tidak terkendali, serta kurangnya sumur resapan.

“Kerusakan lingkungan ini akan terus terjadi karena pertumbuhan penduduk yang tidak terelakkan mendorong pertumbuhan ekonomi yang mempercepat pembangunan,” katanya.

Roni mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 30 tahun terakhir cukup impresif, dominan berbasis sumber daya alam dan lingkungan hidup. Sementara pertumbuhan penduduk terus meningkat. Namun demikian, ongkos pembangunan juga cukup mahal berupa maraknya kerusakan lingkungan.

“Rata-rata pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bogor sebesar 6,05 persen. Ini nyata memberikan dampak positif terhadap percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut dikatannya, proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut telah diikuti dengan rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar 2,3 persen per tahun sehingga penduduk Kabupaten Bogor mencapai 5,3 juta.

“Oleh karena itu, tantangan terhadap lingkungan dan sumber daya alam di tahun-tahun mendatang akan semakin besar pula,” katanya.

Roni mengatakan, sumber dari pakar IPB Prof Ahmad Fauzi, mengatakan pemikiran ekonomi ibarat perahu yang terus berjalan menuju jurang kehancuran. Kunci ekonomi adalah uang, tanpa memperhatikan keberlanjutan atau kelestarian lingkungan.

Oleh karen itu, lanjutnya, perlu langkah-langkah pencegahan, promotif, kuratif, rehabilitatif dan represif dalam rangka mencegah terjadinya kerusakan lingkungan yang lebih jauh lagi.

“Upaya pelestarian lingkungan dan sumber daya alam, tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah saja, tetapi juga peran serta masyarakat, dan swasta dalam menggerakkan program konservasi secara bersama-sama,” katanya.

Diskusi publik yang diselenggarakan Forum Wartawan Bogor Selatan ini mengangkat tema “Pelestarian Air dan Lingkungan Sebagai Tanggung Jawab Bersama” menghadirkan pembicara dari Aqua.

Multijo dari Aqua Danone mengatakan, sebagai perusahaan yang bergerak dalam penyediaan air dalam kemasan sudah berdiri di Indonesia sejak 42 tahun lalu, memiliki komitmen dalam menjaga kualitas menyediakan air yang sehat untuk masyarakat.

“Komitmen Aqua, bisnis harus berjalan seiring dengan kontribusi sosial perusahaan kepada masyarakat,” katanya.

Multijo menambahkan, untuk menjaga kualitas itu, karena bisnis Aqua berkaitan erat dengan sumber daya air, maka menjaga agar sumber daya air tetap tersedia, dan tidak merusak sumber air masyarakat menjadi komitmen perusahaan. (bogor.antaranews.com)