Meski Gratis, Pedagang Ogah Jualan di Pasar Laladon

oleh

Usaha PD Pasar Tohaga menghidupkan kembali Pasar Laladon dengan mengajak pedagang menempati kios secara gratis sia-sia. Pasalnya sarana dan prasarana pasar berlantai II yang selama ini terbengkalai, hingga kini belum juga dibenahi.

Dari 430 kios, hanya 12 kios yang masih ditempati pedagang. Bahkan di lantai II tak ada satu kios pun yang ditempati pedagang. Kondisi ini membuat PD Pasar Tohaga mengiming-imingi pedagang kembali berdagang dengan gratis. “Meski gratis, kami menolak berdagang di situ,” ucap Ipan, pedagang sembako yang kini berjualan di sekitar Terminal Laladon, Rabu.

Menurutnya, selain kondisi pasar mirip sarang penyamun kalau malam hari, juga dianggap tak mempunyai prospek bagus. “Orang kini sudah tahu Pasar Laladon pada malam hari sering digunakan sebagai tempat mesum, mangkal preman, dan kehidupan dunia hitam lainnya,” cetusnya.

Sedangkan Dadan, pedagang sayur terpaksa memilih berhenti berjualan di Pasar Laladon lantaran sering kecurian. “Saya nggak mau jualan di situ, tiga kali timbangan saya hilang, padahal saya bayar uang keamanan,” katanya.

Pedagang Kaki-5 Tatang mengatakan, kini hanya dia sendirian. Awal Februari, saat dizinkan membuka lapak, pedagang Kaki-5 berebut tempat strategis untuk berjualan, meksi harus bayar Rp300 ribu kepada pengelola pasar. “Kini cuma 18 lapak, tapi hanya saya sendirian yang setiap hari bukan, sedangkan lainya hanya kadang-kadang,” katanya.

Humas PD Pasar Tohaga Kabupaten Bogor, Isni Jayanti mengaku belum sempat memantau kembali di pasar tersebut. “Kami belum pantau lagi. Tapi sudah kita tempatkan pejabat sementara sebagai kepala pasar agar bisa mengkoordinir Pasar Laladon,” akunya.

Pihaknya tetap berupaya agar pedagang dapat berjualan di Pasar Laladon. “Kami tetap putar otak membuat strategi agar tidak sepi pedagang. Ini juga masih proses,” ucapnya.

 

(Poskota)