PRASASTI BATU TULIS MUARA TERBENGKALAI

oleh

prasastiKabupaten Bogor merupakan salah satu daerah yang menyimpan berbagai kekayaan sejarah dunia. Namun, hingga kini belum juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah maupun pusat. Seperti di Kampung Muarajaya, Desa Ciaruteunilir, Kecamatan Cibungbulang yang merupakan lokasi dari Kerajaan Tarumanegara.
Berbagai benda cagar budaya dan prasasti pun terlihat berserakan dan terbengkalai. Bahkan, banyak juga yang hilang lantaran me­miliki nilai jual tinggi di pasar gelap inter­nasional maupun kolektor benda antik lokal.
Berdasarkan penelusuran Metropolitan, terdapat beberapa benda cagar budaya yang sudah rusak. Bahkan berpindah ke halaman rumah warga tanpa ada plang cagar budaya di lokasi tersebut. Seperti Prasasti Batu Tulis Muara yang berada tepat di pinggir pertemuan aliran tiga sungai, yakni Sungai Cisadane, Cianten dan Ciaruteun.
Prasasti ini bertuliskan huruf Palawa di atas batu besar berbentuk lonjong dengan ukuran 2.70 x 1.40 x 140 meter kubuk dengan pahatan bermotif sulur-suluran (pilin) atau ikal yang keluar dari pohon umbi-umbian. Kondisinya kini sangat memprihatinkan. Karena banyak tulisan yang hilang saat terendam banjir Sungai Cisadane.
Sari (103) yang merupakan juru kunci Prasasti Batu Tulis Muara menuturkan, ketika dia kecil, tulisan dari prasasti sangat nyata terlihat meski berada di pinggir Sungai Cisadane. “Dulu begitu nampak goresan bekas dipahat orang dulu, tapi sekarang hanya bagian atasnya saja yang terlihat. Karena goresannya hilang lantaran sering tergerus air Sungai Cisadane saat banjir,” ujar Sari kepada Metropolitan, kemarin.
Menurut dia, keberadaan prasasti ini pun sudah dilaporkan ke pemerintah setempat. Pada 2012, pemerintah daerah berencana akan merelokasi benda cagar budaya itu ke lahan yang berada di atas Sungai Cisadane, namun hingga kini belum juga terealisasi.
“Saya khawatir jika prasasti tidak cepat diangkat, huruf-huruf dari tulisan kuno itu bisa hilang. Karena hampir 80 persen hurufnya sudah hilang,” tuturnya.
Sari menerangkan, berdasarkan cerita secara turun-temurun, Prasasti Batu Tulis Muara merupakan salah satu simbol untuk memberitahukan masyarakat bahwa di lokasi yang dialiri tiga sungai ini merupakan daerah kekuasaan dari Kerajaan Tarumanegara.
“Dulu itu saat masa kerajaan di kali ini banyak orang yang menjual rempah-rempahnya menggunakan rakit untuk dibawa ke daerah elor atau sekarang Jakarta dan Tangerang,” papar Sari.
Ia berharap, pemerintah daerah melalui dinas terkait cepat bertindak sebelum prasasti ini menghilang karena selalu diterpa banjir saat musim hujan.

(Metropolitan.id)