Rerouting Berlanjut, Dua Angkot Jadi Satu Bus

oleh

Dinas Perhu­bungan (Dishub) Kota Bogor terus melanjutkan program re-routing angkot dengan sejumlah skema. Di antaranya dengan konversi dari angkot ke bus yang akan dilakukan bertahap. Salah satu rute baru yang akan melaksanakan konversi angkot yakni rute TPK 2 dan TPK 3. TPK 2 akan melayani rute dari Ciawi- Terminal Bubulak via Baranangsiang dan TPK 3 melayani rute Cia­wi-Terminal Bubulak via La­wanggintung, Suryakencana.

Kepala Seksi Angkutan Dishub Kota Bogor Ari Priyono men­gatakan, konversi artinya per­gantian moda transportasi yang dari konvensional menjadi angkutan massal sesuai Pera­turan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2013. Nantinya ada dua jenis layanan, yakni laya­nan angkutan massal dan layanan angkutan berbasis feeder atau pengumpan. Ang­kutan massal sendiri akan dibagi menjadi tujuh TPK.

Ari menjelaskan, program re-routing dan konversi ang­kutan umum terus berjalan dan dilakukan bertahap. “Kon­sep awalnya kami mensyarat­kan konversi harus 3:1, artinya tiga angkot jadi satu bus sedang. Tetapi karena adanya kenaikan suku bunga, pajak naik, kan mengurangi kemampuan ba­dan hukum untuk melakukan proses konversi tersebut. Nah, sebelum jadi bus sedang, kami putuskan TPK 2 dan 3 akan dilayani angkot yang diberi identitas baru sambil menerapkan rute TPK-nya. Angkutan massal koridor ter­sebut diambil dari angkot jalur utama, yaitu eks 02, 03, 07, 21, 09 yang usia angkotnya sudah di atas sepuluh tahun,” bebernya.

Tahapan yang dilakukan su­paya TPK ini jalan yakni menga­nut skema tiga angkot diganti dua angkot sembari menung­gu kesiapan konversi jadi bus sedang di koridor tersebut. “Supaya TPK ini jalan, pelaya­nan dilayani angkot terlebih dulu. Sebanyak 243 unit ke depannya, nantinya dikon­versi jadi 81 bus sedang, menunggu kemampuan dari badan hukum dan pemilik terkait pengadaan unitnya. Sementara dulu nih, kami beri waktu, tapi sudah beralih, berubah identitas baru, nanti akan diujicobakan akhir De­sember nanti,” terangnya.

Saat ini, lanjut Ari, perubahan identitas itu mulai dilakukan dengan mengecat bagian ba­wah angkot sebagai identitas baru. “Progres kami, untuk angkot-angkot yang sudah disampaikan untuk mengisi TPK 2 dan TPK 3 sedang dalam pergantian selempang, yakni tanda trayek berwarna yang ada di bawah kendaraan,” ka­tanya.

Ari menambahkan, pengeca­tan dilakukan atas inisiasi ba­dan hukum sendiri. “Catnya ya swadaya sesuai koperasi mana yang memimpin di situ. Misal TPK 2 kan dipim­pin Koperasi Pengusaha Ang­kutan (Kopata) dan TPK 3 Koperasi Jasa Angkutan Usaha Bersama (Kauber) ini TPK 3. Ya kami membebaskan me­reka. Bulan depan mulai mengisi TPK sesuai SK Wali Kota pada Februari 2017,” pungkasnya.

(METROPOLITAN)