16 Ton Beras Murah Nggak Laku di Operasi Pasar Murah

oleh

Operasi Pasar Murah (OPM) yang digelar Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Bogor bersama Bulog kurang diminati. Sebanyak 16 ton beras yang diturunkan tak laku dibeli warga Kecamatan Citeureup dan Kecamatan Cibinong. Padahal OPM dilakukan untuk menekan harga beras medium yang tinggi.

Belasan ton beras medium dari Bulog dijual dengan harga Rp 8.500 per kilogram. Namun tetap saja tidak dibeli. Kualitas beras dinilai jelek atau mirip dengan beras raskin. Kepala Bidang Perdagangan pada Disperdagin Kabupaten Bogor Jona Sijabat mengatakan, operasi pasar bertujuan menstabilkan harga. Namun animo masyarakat yang kurang antusias.

Ke depan, pihaknya akan mendiskusikan dengan Bulog untuk meningkatkan kualitas beras. “Saat ini masyarakat lebih memilih beras dengan kualitas tinggi, sekalipun harganya juga mahal. Ketika dilakukan operasi beras medium, mereka melihat dulu kualitas berasnya, jika jelek daya belinya berkurang,”ujarnya.

Jona mengaku saat ini beras medium sudah tak ada di pasaran dan sudah diganti beras kualitas premium dengan harga Rp13.500/kilogram. Setelah Kecamatan Cibinong dan Citeureup, Disperdagin akan kembali menggelar operasi pasar di 7 kecamatan lainnya yakni Kecamatan Sukaraja, Ciawi, Cisarua, Bojonggede, Megamendung, Babakanmadang.

Dengan adanya operasi pasar pihaknya akan melihat terlebih dahulu apakah harga akan stabil atau tidak. Jika tidak, maka operasi pasar kembali akan dilakukan. “Tinggal masyarakat berminat atau tidak, itu kita lihat nanti,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengadaan Kantor Subdivisi Regional Bulog Cianjur Dedi Prayoga menambahkan, untuk OPM sekarang ini, Bulog menyediakan 7,5 ton beras, dan minyak goreng 12,5 ton. “Jika warung atau pasar harga beras medium dijual Rp10.200 per kilogram dan OPM ini kami jual Rp8.500 perkilogram atau Rp127.500 perkarung . Sedangkan untuk gula dan minyak goreng kami jual Rp12.000 per kilogram. Harga sembako yang kami jual ini lebih murah Rp2.000 per kilogram dari harga pasar,” tukasnya.

Sebelumnya, di tahun politik, sejumlah ibu rumah tangga dibuat uring-uringan karena kenaikan harga beras. Betapa tidak, di eceran banyak kalangan emak-emak yang dibuat pusing dengan harga beras yang meroket hingga tembus Rp 13 ribu per liter. Kenaikan ini sudah terjadi beberapa minggu sejak tahun politik dimulai.

Lela, salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Bojonggede, mengaku kaget dengan lonjakan harga beras. Jika biasanya satu liter ia beli Rp9.000, kini ia harus menebusnya dengan Rp11 ribu per liter. “Bukan naik lagi, tapi malah ganti harga. Biasanya Rp9.000 itu sudah paling bagus, sekarang malah jadi Rp11 ribu di warung eceran,” keluhnya.

Seorang pedagang beras di Pasar Bogor, Suhata (48), mengakui adanya kenaikan harga beras tersebut. Menurutnya, biasanya kenaikannya relatif sedikit yakni di angka Rp500. Tetapi sejak akhir Desember hingga puncaknya minggu ini, harga beras terus merangkak naik. “Saat ini harga beras paling tinggi mencapai Rp12 ribu untuk beras kategori super. Sebelumnya mah hanya Rp10 ribu,” katanya.

Harga itu berlaku di pasar. Namun jika sampai ke penjual eceran, nilainya bisa lebih tinggi. “Ya bisa sampai Rp13 ribu ke pengecer,” bebernya. Dia pun berharap harga beras tidak terus mengalami peningkatan. Sebab dengan naiknya harga beras tersebut, membuat tingkat penjualan beras di gerainya menurun. “Iya, banyak yang ngeluh juga kan ibu-ibu, kenapa naik harganya. Kalau saya kan jual tergantung harga dari agen,” katanya.

(Metropolitan.id)