Kisruh Sengketa Tanah di Jonggol Kabupaten Bogor Berujung Isu SARA

oleh

Isu perampokan, penjarahan, penganiayaan disertai kebencian rasial yang dialami keluarga Sulaiman di Kampung Jeprah RT 01/01 Desa Jonggol, beberapa hari menjelang Natal, dibantah polisi. Yang benar, kasus tersebut berlatar belakang sengketa tanah. Tidak ada isu SARA sama sekali.

Hal itu diungkapkan Kapolres Bogor AKBP A.M Dikcy saat di TKP, untuk memastikan isu tersebut, belum lama ini (31/12). Kapolres menemui langsung Sulaiman dan berbagai pihak untuk mendalami peristiwa sebenarnya. Hasilnya, tidak ada isu SARA.

Kapolres juga menegaskan, tidak benar jika polisi tidak menanggapi serius laporan yang dibuat oleh pelapor. “Saya cek di lapangan, laporan dari pihak pelapor ternyata sudah kami terima, bahkan dua kali pada tanggal 23 Desember 2017, perkara yang dilaporkan penganiayaan. Dan tanggal 24 Desember 2017, tentang pengrusakan, penganiayaan dan atau pengeroyokan,” jelas Dikcy.

Justru, proses penyidikan yang dilakukan oleh polisi sempat terhambat oleh permintaan pelapor. “Sulaeman sendiri melalui pengacaranya yang sejak awal mendampingi meminta diperiksa setelah Natal yaitu tanggal 3 Januari, karena mau merayakan Natal,” tukasnya.

Dicky memastikan bahwa kasus ini dilatarbelakangi oleh sengketa tanah, dimana pihak terlapor melakukan eksekusi tanah atau bangunan sepihak oleh pihak terlapor.

“Jadi harus diketahui, penyidik tidak bisa langsung melakukan upaya paksa seperti yang diminta pihak pengacara, karena Saudara Sulaeman pun belum memberikan kesaksian dalam BAP-nya, sehingga alat bukti masih minim, itulah yang menjadi hambatan bagi penyidik,” tukasnya.

Kasus tersebut, lanjutnya, tak terkait dengan isu SARA maupun upaya presekusi. “Jadi pernyataan dari pihak pengacara mengenai adanya persekusi terkait masalah rasial adalah sesuatu yang berlebihan, karena perlakuan buruk atau kekerasan yang dilaporkan Saudara Sulaeman hanya berlatar belakang sengketa tanah, bukan masalah SARA atau pandangan politik,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua RW 01 Edy Jantho, menerangkan bahwa aparat desa, Babinkamtibmas dan Babinsa sudah melakukan mediasi. Bahkan, para aparat sudah mengupayakan musyawarah hingga tujuh kali.

“Tujuh kali dimediasi, masalah pelapor dan pihak terlapor terkait sengketa tanah, yang sebenarnya masih kerabat dan sama-sama warga keturunan, jadi tidak ada data di sini,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Kapolsek Jonggol, Kompol Agus Supriyanto menerangkan, kasus ini dilatarbelakangi sengketa kepemilikan lahan di Jalan Lapangan Bola Jepfah RT 001/001, Desa/Kecamatan Jonggol, yang ditinggali Sulaiman. Menurutnya, kasus bermula ketika terjadi sengketa kepemilikan lahan antara Sulaiman dengan Agus Hermanto.

Lahan di Jalan Lapangan Bola Jepfah RT 001/001, Desa/Kecamatan Jonggol, yang ditinggali Sulaiman digugat oleh Agus dengan bukti kepemilikan bersertifikat hak milik. “Pak Sulaiman ini juga mengklaim, karena tinggal sudah bertahun-tahun tetapi tidak memiliki bukti otentik,” ucapnya.

Terkait sengketa kepemilikan itu, lanjut Agus, sudah difasilitasi pihak kelurahan setempat dan dilakukan mediasi sebanyak dua kali. Dalam mediasi disepakati, Sulaiman bersedia pindah dengan catatan disediakan rumah pengganti.

Namun, saat tenggat waktu yang diberikan, Sulaiman berubah pikiran dan ingin mempertahankan aset yang diklaimnya. Hingga pada Sabtu (23/12), kediaman Sulaiman didatangi beberapa orang yang meminta Sulaiman mengosongkan rumah.

“Diduga ada perlawanan saat pengosongan rumah, lalu terjadilah penganiayaan, menyebabkan anak Sulaiman, Yanes, luka. Tidak ada sama sekali terkait rasial seperti yang diviralkan, karena antara yang bersengketa sama-sama keturunan (Tionghoa, red),” kata Agus.

Pascakejadian, Sabtu (23/12), polisi menerima laporan tindak penganiyaan. Berdasarkan hasil laporan tersebut, polisi sudah memeriksa pelapor (Sulaiman), korban Yanes, dan empat orang saksi.

“Kami akan proses. Korban juga sudah dimintai keterangan dan diminta lakukan visum. Polisi pun memastikan orang yang terlapor berada di wilayah Bogor, bila sudah cukup bukti, kami amankan,” tambah Agus.

Sebelumnya, tersiar melalui lini masa terjadinya perampokan, penjarahan, penganiayaan disertai kebencian rasial yang dialami keluarga Sulaiman beberapa hari menjelang Natal. Sulaiman mengaku dirinya mendapatkan perlakuan rasial dari sekelompok orang yang melakukan perampokan di kediamannya pada Sabtu (23/12).

(POJOJABAR)