Siap-siap Ada Jalur Khusus Bus TPK

oleh

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor Theofilio Patrocinio Freitas mengatakan, jalur ini dibutuhkanuntuki memudahkan dan melancarkan layanan angkutan umum massal yang bebas hambatan. Jalur khusus, kata dia, termasuk fasilitas yang bakal disiapkan untuk mendukung kebijakan konversi angkot ke bus sedang. “Kami akan membuat jalur khusus untuk bus, yakni jalur berwarna merah, mirip-mirip jalur busway lah. Di koridor utama yang dilalui TPK angkutan masal. Konsepnya ya seperti jalur sepeda di Sistem Satu Arah (SSA), tetapi lebih lebar, sesuai ukuran bus nanti.” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Theo menambahkan, hingga kini pelaksanaan pembuatan jalur ‘karpet merah’ masih terkendala anggaran APBD 2018 yang belum ditetapkan. Setelah anggaran ditetapkan, baru bisa bicara banyak soal masalah teknis. “Tetap akan di tahun ini kok. Hanya saja perlu menunggu sampai ditetapkan anggarannya dulu. Jumlahnya berapa, cukup untuk dimana saja, ya bisa dibilang setelah selesai ditetapkan anggaran barulah bicara persiapan rencana teknisnya,” ungkapnya.

Meski begitu, pihaknya akan terus melakukan sosialiasi terkait rencana pembuatan jalur khusus berwarna merah ini, sekaligus mempersiapkan antisipasi menempatkan petugas-petugas di jalur tersebut, bila ada angkutan lain yang masuk jalur atau menertibkan lalu lintas ketika dibutuhkan.

Soal kemungkinan jalan yang bakal makin sempit dengan adanya jalur khusus ini, Theo menerangkan jalur khusus ini tetap fleksibel dan bisa dilalui kendaraan lain, namun tetap memprioritaskan bus TPK. “Makanya rencananya sih tidak akan dipasang median jalan, sehingga jalur khusus ini nantinya tetap fleksibel, tidak kaku buat pengguna jalan. Walaupun memang prioritasnya nanti kan tetap bus,” ujarnya.

Kebijakan ini diharapkan bisa membuat warga Kota Hujan lebih nyaman dalam menggunakan angkutan umum masal, yang mumpuni kondisi kendaraannya dan ditunjang jalur khusus. Sehingga menjadi solusi mobilisasi warga, dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi serta beralih ke angkutan umum masal. “Kalau angkutan umum massalnya bagus, kan masyarakat bakal beralih dengan sendirinya,” ujarnya.

Sebelumnya, pada 27 Desember 2017 lalu, Pemkot Bogor sudah mulai memberlakukan perubahan rute atau rerouting angkot. Kepala Seksi Angkutan Dalam Trayek Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor Ari Priyono mengatakan, selama tiga hari ini, rerouting fokus pada enam trayek terlebih dahulu. Di antaranya empat trayek Transpakuan koridor (TPK) yang diterapkan pada koridor dua sampai lima. TPK ini merupakan trayek-trayek gabungan dan diisi angkot, sehingga tidak ada penambahan jumlah moda.

Ari mengatakan, semua angkot yang terkena rerouting diberi tanda khusus melalui pengecetan pada bemper belakang dan depan. Tiap jalur mempunyai warna berbeda, menghindari penumpang salah naik. Untuk TPK 2, rute yang melayani Terminal Bubulak – Ciawi dengan melewati Terminal Baranangsiang memiliki warna hitam. Sementara itu, pada TPK 3 dengan jalur Bubulak-Sukasari-Ciawi, mengalami perubahan cat pada bemper depan dan belakang berwarna merah.

“Pada TPK 4 yang melayani Trayek Ciawi-Ciluar (Pomad)-Ciparigi (Villa Bogor Indah), memiliki perubahan pada body bagian atas pada lampu. Cat bempernya juga jadi putih,” ucap Ari.

Terakhir, TPK 5 dengan rute Ciparigi-Air Mancur-Teriman Merdeka mengalami perubahan pada bemper dengan dicat hijau toska. Sementara itu, trayek pengumpan merupakan trayek yang diperpanjang jurusannya. Di antaranya, angkot 01 Cipinang Gading-Terminal Merdeka yang diperpanjang hingga Perumahan Yasmin. Trayek 07 yang semula 07B melayani rute Ciparigi-RE Martadinata-Terminal Merdeka akan diperpanjang hingga Terminal Bubulak.

(metropolitan.id)