Siswa SMP Tewas, Warga Gunung sindur Ngamuk Blokir Jalan

oleh

Naas nasib yang dialami Farhan (15) siswa SMP 1 Gunung Sindur. ABG yang masih duduk di kelas dua sekolah menengah pertama itu harus meregang nyawa setelah tubuhnya terlindas truk Fuso. Saat dia mengendarai sepeda motornya di Jalan Raya Atma Asnawi, Kampung Cimanggir Desa Gunungsindur Kecamatan Gunungsindur.

Saksi Mata Asep Sahili (34) mengatakan, awalnya Farhan yang mengendarai motor bebek dengan nopop B 3772 NFP berjalan dari arah Gunungsindur menuju Parungpung. Setibanya di Jalan Raya Atma Asnawi, Kampung Cimanggir, motor yang dikendari Farhan tergelincir. Sementara dari arah berlawanan sebuah truk besar dengan nomor polisi K 1438 JB yang dikendarai Ahmad Haryadi (38) warga Kapung Sunan Kalijaga, RT 01/01, Kabupaten Tuban melintas. Truk tersebut pun tanpa sengaja melindas Farhan. “Korban terlindas ban truk dan tewas di lokasi,” ujarnya kepada Metropolitan, kemarin.

Usai peristiwa tersebut, sontak ratusan warga Kecamatan Gunungsindur memblokir jalan dan menghadang setiap truk pengangkut tambang yang lewat. Aksi ratusan warga dari beberapa desa ini dilakukan di dua lokasi. Yaitu di depan Kantor Kecamatan Gunungsindur dan di sekitar Jembatan Leuwiranji perbatasan Kecamatan Gunungsindur dan Rumpin. “Kami menuntut pemerintah untuk bersikap tegas dengan melarang truk tronton tambang melintas di jalur Jalan Gunungsindur.” kata Badrudin (54) salah seorang pendemo yang marah atas kejadian tersebut, kemarin.

Menurutnya, warga sudah terlalu banyak dirugikan akibat ketidaktegasan Pemkab Bogor terkait jalur tambang. Warga pun mengaku sudah membuat surat tuntutan yang ditandatangani sekitar 200 orang. “Tuntutan warga meminta agar aparat tidak memberikan izin jalan ini untuk dilalui truk tronton pengangkut tambang. Dan sudah banyak korban jiwa akibat terjadinya kecelakaan lalu lintas, karena jalan rusak dan jalur tambang ini.” terangnya.

Badrudin juga mengatakan, selain sering menelan korban jiwa akibat lalu lalang truk galian, kerusakan jalan terus dirasakan warga. Tak hanya itu, warga juga banyak yang terserang penyakit ISPA. “Jalan rusak karena adanya truk tambang yang melintasi jalan ini. Kapasitas jalan provinsi cuma 8 ton, tapi ini truk tronton isinya puluhan ton. Harusnya pemerintah tegas melarang,” kata dia.

Di tempat yang sama, Kapolsek Gunungsindur, Kompol Hariyanto didampingi Danramil Gunungsindur Kapten (Inf) Safrudin, langsung turun ke lokasi guna menjaga kondusifitas kamtibmas di tengah ratusan massa pendemo yang mulai memuncak amarahnya. “Sebenarnya yang menabrak bukan truk tambang, tapi truk pengangkut barang toko material bangunan. Truk ukuran kecil dan kasusnya sudah ditangani Subnit Laka Lantas,” kata Kompol Hariyanto.

Ia juga menjelaskan soal tuntutan massa yang ingin agar jalan tersebut ditutup. Namun kewenangan itu ada pada Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor. “Kami sudah berkoordinasi. Besok rencananya ada rapat gabungan di kantor Kecamatan Gunungsindur.” paparnya.

Pantauan Metropolitan, suasana sempat mencekam akibat adanya aksi blokir jalan antara warga di wilayah Gunungsindur dan kelompok sopir truk tambang yang berkerumun di daerah Leuwiranji Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin. Kedua kelompok massa saling berhadapan dan saling berteriak namun di batasi aparat berwajib gabungan Polri TNI dan Satpol PP.

Beruntung aparat gabungan dari Polres Bogor, Polsek Gunungsindur dan Koramil Gunungsindur berhasil melakukan mediasi diantara dua kelompok massa tersebut. Aksi demo yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB itu mulai mencair pukul 15.00 WIB. “Alhamdulillah kondusif. Semoga kedua pihak bisa menahan diri dan tidak berlaku anarkis,” kata Danramil Gunungsindur Kapten (Inf) Safrudin.

(METROPOLITAN)