Tawuran Pelajar di Bogor, Satu Tewas Kena Clurit

oleh

Tawuran pelajar di Citeureup kembali pecah. Kemarin (02/01) beberapa pelajar tumbang jadi korban, satu di antaranya bahkan meninggal dunia. Yudi Saputra (18), pelajar SMK PGRI 2 Bogor, tewas sia-sia akibat sabetan celurit di lehernya. Meninggalnya korban yang merupakan warga Kampung Babakan, Desa Tarikolot, ini pun menyisakan kepedihan bagi keluarganya.

”Jangan sampai ada korban lagi. Semua pihak harus berpikir dan berusaha menghilangkan budaya tawuran,” ujar paman korban, Asep saat di ruang jenazah RSUD Cikaret, Cibinong.

Tawuran diketahui terjadi sejak pukul 08.15 WIB ketika gerombolan pelajar SMK Karya Nugraha (Pomad) bersama pelajar SMK PGRI 2 Kota Bogor (AOET) berjalan kaki melintasi Jalan Mayor Oking. Setibanya di depan Ruko Citeureup, Kelurahan Karang Asem Barat, dari arah Gang Pasar Citeureup, berlarian sekelompok pelajar sekitar 30 orang yang diduga dari SMK Yapis Bogor menyerang sambil berteriak-teriak ”SKY-MEBOET” (Surya Kencana Yapis-Mekanika Kota Bogor Utara) dengan mengacungkan senjata tajam seperti celurit.

Alhasil, kedua kelompok yang sudah mempersenjatai diri dengan senjata tajam pun saling adu bacok. Sedikitnya enam pelajar terluka serius akibat sabetan benda tajam tersebut. Empat orang di antaranya langsung dilarikan ke rumah sakit.

Kejadian itu pun mengundang keprihatinan banyak kalangan. Tokoh pemuda Citeureup, Edi KS menilai, maraknya aksi tawuran menjadi evaluasi banyak pihak, baik TNI, polisi maupun Dinas Pendidikan. ”TNI dan polisi harusnya sudah memiliki intelijen yang dapat mendektesi rencana tawuran, sehingga tak harus ada korban. Selama ini tawuran nyaris berjalan lancar hingga memakan banyak korban,” tukas Edi.

Selain itu, peran pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, juga harus memiliki inovasi strategis guna menekan tawuran pelajar. ”Kepala dinas harus punya langkah penyelesaian atau terobosan program, tidak hanya diam dan menunggu,” ucapnya.

Menurutnya, kadis bisa saja memanggil semua kepsek dan guru agama, mulai tingkat SD hingga SMA, untuk memberi hadiah (doa tahlil) pada ahli kubur, membaca yasin, serta dibarengi siraman rohani. Sehingga, para pelajar memiliki benteng spiritual yang kuat untuk mengendalikan hasrat tawuran. ”Saya yakin jika sudah begitu, dengan sendirinya tawuran akan hilang,” tukasnya.

Sorotan juga datang dari Ketua KNPI Kecamatan Citeureup Muhammad Yusuf Kiat. Ia menilai, adanya tawuran di depan kantor kepolisian hingga menelan nyawa pelajar tersebut, seharusnya menjadi pukulan bagi aparat kepolisian. ”Polisi sudah harus evaluasi. Ada apa, kok pelajar bisa leluasa tawuran? Jika tak ada langkah nyata dari aparat, korban akan terus berjatuhan,” tegas pria yang akrab disapa Jenderal ini.

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Citeureup Kompol Tri Suhartanto menerangkan, polisi telah mengamankan satu orang yang diduga bagian dari gerombolan pelaku pembacokan. ”Salah seorang pelaku inisial AF(17) akan kami proses. Saat ini yang bersangkutan luka pada bagian pergelangan tangan dan dirawat di RS Sentra Medika Cibinong,” singkatnya.

(radarbogor)