Tiket Mahal, Curug Cigamea Disoal Pengunjung

oleh

Curug Cigamea sudah bukan menjadi rahasia umum obyek wisata yang ada di di Desa Cunungsari Kecamatan Pamijahan ini memiliki keindahan alam yang begitu memuaskan mata guna melepas penat. Namun sangat disayangkan dengan adanya tiket yang begitu mahal hingga dikeluhkan para pengungjung.

Ketua PK KNPI Kecamatan Pamijahan, Burhan mengungkapkan, dirinya hanya tahu kalau karcis gerbang utama tidak ada kontribusi untuk masyarakat. Namun hanya ke negara melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan harganya jelas tertera di karcis.

“Jika ada nilai lebih dari jumlah yang di tentukan PNBP masuknya bisa pungli. Jika terjadi demikian mungkin itu atas dasar ada kesepakatan pengelola,” katanya.

Menurut Burhan, karena jelang liburan dan membutuhkan personel pegawai di luar tenaga kontrak yang di gaji negara, bisa saja terjadi pembayaran di atas nilai yang di tentukan PNBP. Tapi apapun namanya gerbang utama itu tidak dijadikan ajang kesempatan untuk merauk untung yang sebesar-sebesarnya yang aliran dananya tidak jelas ke mana.

“Kalau lokasi wisatanya sih masih dianggap wajar, karena jelas ada pengelolanya dan jelas pengunjung menikmatinya,” ujarnya.

Warga Desa Pamijahan Badru Tamam mengatakan, mungkin ini disebabkan dari tatakelola yang kurang rapi, mengingat sejumlah sampah begitu mudah ditemui disekitaran area curug. Selain dari itu banyaknya pintu gerbang yang tersedia menjadi pertanyaan besar apakah curug ini menjadi milik perorangan.

“Kawasan tersebut berada dalam Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang artinya dikelola oleh balai ataupun Perhutani. Sejauh ini ada empat gerbang masuk untuk memasuki area curug ditambah harga tiket yang meroket,” ucapnya.

(metropolitan.id)