Di Desa Banyuasih, Teleponan Hanya Bisa di Atas Bukit

oleh

Warga Desa Banyu Asih Kecamatan Cigudeg harus berjalan beberapa kilo meter menuju satu bukit hanya untuk mendapatkan sinyal telepon selularnya. Bukit itu bisa di bilang bukit cinta, lantaran warga harus bersusah payah demi berkomunikasi dengan kekasih, sahabat serta keluarganya.

Keberadaan Desa Banyu Asih adalah salah satu desa yang masuk terisolir. Meskipun akses jalan yang sudah memadai namun keberadaan sinyal di desa tersebut sangat sulit di jangkau.

Sebut saja salah satu pemuda Cules, pria dari Kampung Cisarua Desa Banyu Asih ini, harus berjalan kiloan meter demi bisa berkomunikasi dengan kekasih tercinta. Meski demikian dirinya merasa puas jika sudah berkomunikasi dengan pujaan hatinya.

“Kalau malam minggu bukit ini rame, jadi banyak warga yang teleponan dengan keluarga dan temen. Meski meraka harus berjalan kaki ke bukit ini,” ujar Cules saat ditemui di lokasi.

Cules juga menjelaskan, selain komunikasi dengan pacar di bukit ini juga sering dijadikan tempat tongkrongan hanya demi bisa berkomunikasi dengan temen.

“Sinyal hanya bisa simpati, yang lain tidak bisa. Cuma bisa di bukit ini doang yang ada sinyalnya. Jadi kalau mau teleponan ya harus jalan kaki dulu,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Desa Banyu Asih Mudis Sunardi mengatakan, sinyal memang tidak ada di Desa Banyu Asih, jadi warga kalau mau teleponan harus ke bukit.

“Cuma ada sinyal simpati saja, itupun turun naik. Saya juga kalau mau teleponan harus turun dulu ke Rumpin untuk mendapatkan sinyal,” pungkasnya.

(Metropolitan.id)