BOGOR MULAI DILANDA KEKERINGAN

oleh

Ancaman kekeringan akibat musim kemarau yang sebentar lagi berlangsung, menghantui wilayah Bogor. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejak awal Mei mendatang sebagian wilayah Jawa Barat akan memasuki musim kemarau.

Wilayah Bogor termasuk daerah yang dianggap harus waspada akan ancaman kekeringan akibat musim kemarau ini. Terlebih untuk awal Mei, di Utara Jawa Barat akan masuk musim kemarau. Termasuk Utara wilayah Bogor.

Kepala Stasiun Klimatologi Dramaga Budi Suhardi mengatakan, Bogor punya karakteristik yang unik karena masuk Non Zona Musim. Artinya tidak menunjukkan perbedaan antara musim hujan dan kemarau. Meski begitu, Bogor bagian Utara, Tengah dan Selatan diminta waspada. Sebab, kondisi agak kering hingga kering akan dialami wilayah tersebut. Temperaturnya juga cukup tinggi, kisaran 32 derajat celcius dengan kelembapan udara rata-rata 83 persen. “Tetap harus ada kewaspadaan menampung air bersih,” ucapnya.

Budi mengimbau masyarakat mulai menampung air dalam menghadapi musim kemarau tersebut. Hal itu perlu diwaspadai sebagai antisipasi jika terjadi kekeringan dan kekurangan pasokan air bersih. Tetapi seminggu ke depan, masih ada potensi cuaca ekstrem. Pancaroba, siangnya panas, malamnya hujan deras. Ini juga harus diwaspadai.

Di bagian lain, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor Ganjar Gunawan membenarkan bahwa Kota Bogor secara karakteristik wilayah berbeda dengan daerah lain. Yakni termasuk daerah di luar prakiraan musim. Artinya tidak tergantung pada musim kemarau atau hujan.

Meski begitu, Ganjar tetap menyiapkan antisipasi jika memang terjadi kekurangan pasokan air bersih di wilayah tertentu. BPBD juga memiliki satu kendaraan tangki air berkapasitas sekitar 8.000 liter air yang bisa digunakan sewaktu-waktu saat ada wilayah yang kekurangan pasokan air bersih. Selain itu, PDAM juga bisa suplai air bersih melalui CSR-nya atas rekomendasi BPBD Kota Bogor.

Ganjar mencontohkan, pada kejadian 2015 saat terjadi kekurangan pasokan air di Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, BPBD membantu dengan memasang pipa saluran air dari mata air ke wilayah tersebut. Musababnya, kontur tanah di Mulyaharja tinggi. Jadi saat kering, pasokan air PDAM tidak naik dan sungai juga kering. “Solusi kami, pipanisasi yang bisa dinikmati hingga sekarang,” tandasnya.

Karena itu, jelas Ganjar, BPBD Kota Bogor memberi perhatian lebih kepada daerah yang relatif lebih tinggi dibanding wilayah lainnya.

Senada, Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bogor Budi Aksomo mengatakan, sebanyak lima unit tangki air tengah disiapkan sebagai langkah awal jelang musim kemarau. Personel, alat hingga logistik juga telah disiapkan guna memberikan yang terbaik bagi warga Bumi Tegar Beriman.

Selain itu, BPBD juga mengimbau kepada para pengusaha air curah untuk bersiap siaga membantu masyarakat yang kekeringan sebagai bukti nyata kepeduliannya terhadap sesama. ”Secara keseluruhan, kami telah siap. Kita juga bakal melibatkan seluruh elemen terkait agar penanggulangan bencana kekeringan dapat teratasi. PDAM, BMKG hingga pengusaha curah akan siap membantu jika bencana kekeringan memang terjadi,” ujarnya.

Terpisah, Direktur Utama (Dirut) PDAM Kota Bogor Deni Surya Senjaya mengatakan, jika kekeringan melanda dan pasokan air ke pelanggan terganggu, PDAM sudah menyediakan Tangki Air Hydrant Umum (TAHU) untuk nantinya mobile ke wilayah-wilayah yang membutuhkan pasokan air bersih. “Tergantung permintaan sih sebetulnya. Seperti pada 2015, ada kekeringan di Kelurahan Mulyaharja, Cimahpar dan Balumbangjaya. Kami bantu pasok TAHU untuk mengatasi krisis air bersih,” ucapnya.

Satu tangki tersebut, jelas Deni, mampu memasok air bersih sekitar 3.000 liter air. Dia menerangkan, PDAM Tirta Pakuan tidak mengidentifikasi daerah mana saja yang punya kerawanan kekeringan. Namun, hanya mengantisipasi daerah-daerah yang belum ter-cover air PDAM Tirta Pakuan. Seperti misalnya sebagian di Bogor Barat dan Bogor Utara. PDAM menunggu dan antisipasi bila diperlukan.

Pria yang juga Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Bogor ini mengimbau masyarakat lebih bijak dan hemat dalam menggunakan air bersih. Jika perlu, menampung air ke toren atau bak penampungan agar jika suatu saat terjadi gangguan aliran bisa teratasi.

Hal sama disampaikan Kepala Bidang Humas dan Protokol PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor Agus Riyanto. Ia mengaku akan menyiapkan mobilisasi tangki ke beberapa wilayah yang merupakan titik rawan bencana kekeringan. Berkoordinasi dengan cabang PDAM di wilayah hingga melakukan pemantauan dan koordinasi langsung dengan BPBD. “Kami akan menyiapkan beberapa tangki air di setiap cabang PDAM wilayah serta bersinergi dengan BPBD jika jangkauan kami tidak mampu mencapai titik bencana,” kata Agus.

(metropolitan.id)