Cerita Warga Jasinga Hadapi Amukan Sungai Cikiam

oleh

Ence Jarkasih (56) hanya bisa meratapi rumahnya yang tak lagi berbentuk. Warga Kampung Bojong, Desa Pamegarsari, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, itu menjadi korban terparah luapan Sungai Cikiam Sabtu lalu (14/4). Tak ada yang dapat diselamatkan saat banjir menerjang, selain dua helai pakaian yang menempel di tubuhnya.

Sore itu sekitar pukul 17.15, debit air Sungai Cikiam “mengamuk”. Rumah Ence yang persis berada di bibir sungai mulai dinaiki air secara perlahan-lahan. Ence pun tidak mengira air akan naik semakin tinggi.

“Saya jagain rumah seperti biasa. Tidak kepikiran air akan cepat tinggi. Jadi tidak mengamankan barang-barang di rumah,” kata Ence kepada Radar Bogor kemarin (16/4).

Awalnya, Ence menduga air akan surut lagi seperti biasanya. Di luar perkiraannya, menjelang magrib air justru semakin tinggi sampai naik ke tembok. “Arusnya juga deras,” ujar Ence sambil membersihkan puing-puing rumahnya yang ambruk.

Ence yang hanya tinggal berdua bersama anaknya, Fahri (11) masih berjaga-jaga di sekitar rumah. Air terus meninggi sampai lebih dari dua meter. Di ketinggian itulah, dinding rumah Ence yang menghadap ke sungai jebol. Anaknya, Fahri berteriak-teriak agar bapaknya cepat pergi meninggalkan rumah dan menyelamatkan diri.
Ence berpikir tidak ada lagi yang bisa diselamatkan. Hanya dia ingat ada sedikit puluhan ribu uang di saku celana yang disangkutkan di kamar. “Saat saya ingin ambil ke kamar yang sudah penuh dengan air. Anak saya narik-narik dan teriak, bapak geura kaluar eta cai banjir (bapak segera keluar itu air banjir,” lanjut Ence.

Luluh dengan teriakan sang anak, Ence pun mengurungkan niatnya mengambil uang di celana yang disangkutkan di kamar. Ia lekas keluar meng­hadang derasnya debit air sambil berenang menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.

“Anak saya narik-narik saya dan mengajak cepat tinggalkan rumah. Padahal arus sungai sudah semakin deras. Rumah jebol. Saya juga mikirnya tidak akan selamat,” lanjutnya.

Untunglah, beberapa warga yang tahu kondisi Ence ikut menarik dia dan anaknya agar tidak terbawa arus lebih parah lagi. “Kalau saya tidak nurut kata Fahri, mungkin saya tidak ada di sini sekarang. Saya pasti ikut tertimbun rumah atau terbawa arus,” kata pria yang sudah lama berpisah dengan istrinya itu.
Fahri mengaku tidak ingin ayahnya hanyut terbawa arus. Bocah yang duduk di bangku kelas 5 SD itu takut jika sampai kehilangan ayahnya. “Saya cuma tinggal sama ayah berdua di rumah. Kalau nanti ayah nggak ada, saya tinggal sama siapa?” ungkap Fahri.

Saat ditanya kelanjutan sekolahnya, Fahri mengaku tidak tahu. Sebab seluruh barang di rumah, termasuk seragam dan buku sekolah raib tanpa sisa. “Saya sudah minta izin gak bisa ke sekolah karena rumah seperti ini,” ujar Fahri.

Selain Ence, kisah lain dialami warga lainnya Ajum. Kakak kandung Ence yang tinggalnya berdampingan dengan Ence itu, rumahnya nyaris hancur dan tak ada barang apa pun yang bisa diselamatkan.

Saat Sungai Cikiam meluap, Ajum sedang berada di masjid sambil zikir menunggu salat Magrib. Dia tidak menyangka air bakal meluap. Ajum mengaku sempat memiliki perasaan tidak tenang. Benar saja, rumahnya dihantam derasnya arus sungai hingga jebol.

“Tidak ada satu pun yang bisa saya selamatkan. Saya cuma pakai kain sarung, baju koko, dan kopiah ini saja,” kata Ajum.

Ia mengaku pasrah atas musibah yang menimpanya. Menurutnya itu adalah takdir yang harus dijalani. “Pasti ada hikmah dari semua ini. Semoga juga pemerintah atau pihak lain berkenan membantu memperbaiki rumah saya. Saya tidak punya tempat tinggal lagi,” harapnya.

(Radar Bogor)