Miris, 5 Cicit RA Kartini Hidup Sengsara di Parung

oleh

“Ibu kita Kartini pendekar bangsa. Pendekar kaumnya untuk merdeka”. Petikan lagu ciptaan WR Supratman itu selalu dinyanyikan tiap kali peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April. Namun, hal itu justru tidak dirasakan keturunan RA Kartini. Ya, lain dari sang ibu, Kartini yang namanya harum. Anak cucu tokoh wanita nasional itu malah tidak dikenal publik. Bahkan, lima cicitnya saat ini hidup sengsara di Parung, Kabupaten Bogor.

RM Soesalit, putra semata wayang RA Kartini dari pernikahannya dengan Bupati Rembang, Raden Mas Adipati Ario Djojoadiningrat, hampir tak dikenal masyarakat. Apalagi dengan cucu bahkan cicit wanita yang terkenal dengan untaian kata mutiara ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ itu.

Maklum, baru berusia empat hari, RM Soesalit sudah ditinggal meninggal ibunya, RA Kartini, dan disusul ayahnya, Raden Mas Adipati Ario. Pantas, saat perayaan Hari Kartini berlangsung Sabtu (21/4), Bupati Jepara Ahmad Marzuki menyinggung soal kehidupan keturunan tokoh penggerak emansipasi wanita itu yang memprihatinkan.

Untuk diketahui, RM Soesalit menikah dengan Siti Loewijah. Dari pernikahan itu lahir seorang putra bernama Boedi Setyo Soesalit. Boedi Soesalit merupakan satu-satunya cucu RA Kartini. Kemudian Boedi Soesalit menikah dengan Sri Bidjatini dan dikaruniai lima anak.

Menurut Marzuki, cucu tunggal dan menantu RA Kartini, Sri Bidjatini bersama lima anaknya yang merupakan cicit pejuang wanita Indonesia, hidup dalam keprihatinan. Kelimanya yakni Kartini, Kartono, Rukmini, Samimum dan Rachmat, hidup sengsara di Parung, Kabupaten Bogor.

“Hanya yang pertama yang lumayan, sedangkan Kartono mengojek. Demikian pula Samimun, juga jadi tukang ojek,” ucap Marzuki saat memberi sambutan pada Resepsi Peringatan Hari Kartini ke-39 Tahun di Pendapa Kabupaten Jepara, Sabtu (21/4/2018).

Sementara Rukmini telah ditinggal suaminya yang bunuh diri akibat ekonomi. Sedangkan Racmat menderita autis. “Dia (Rachmat, red) sudah meninggal,” kata Marzuki.

Ia pun mengatakan bahwa penderitaan yang dialami keturunan RA Kartini semakin bertambah ketika Boedi Soesalit meninggal di usia 57 tahun. “Setelah Boedi Soesalit meninggal, cucu menantu RA Kartini, Sri Bidjatini, bersama lima anaknya hidup dalam keprihatinan,” ungkap Marzuki.

Marzuki menambahkan, para keturunan Kartini itu tidak ada yang tinggal atau menetap di Jepara. Mereka justru tinggal di rumah bantuan pemerintah di daerah Parung, Bogor. Namun, mereka terpaksa harus pergi dari rumah itu karena cucu RA Kartini langsung bernama Boedi Soesalit telah tiada.

“Jadi ada oknum yang meminta mereka meninggalkan rumah bantuan pemerintah itu. Cucu menantu dan para cicit RA Kartini dianggap tidak berhak menghuni lagi,” tambah Marzuki.

Politisi PPP itu meminta pemerintah terus berusaha memebri perhatian kepada keturunan RA Kartini itu. Pemerintah Daerah (Pemda) Jepara ingin mereka hidup layak serta beasiswa pendidikan bagi keturunan RA Kartini yang masih hidup.

“Ketika Anies Baswedan (masih menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, red) dan beberapa menteri berkunjung ke Jepara, juga pernah berjanji akan memberikan beasiswa bagi keturunan RA Kartini. Tetapi sekarang menterinya malah sudah ganti. Kepada Menteri PUPR, saya juga pernah menyampaikan permintaan bantuan rumah untuk cucu RA Kartini,” jelasnya.

Plt Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko mengaku segera membentuk tim kecil yang terdiri dari Asisten Pemerintahan dan Biro Kesra Setda Jateng, SKPD terkait serta Pemkab Jepara. Tim itu nantinya bersama-sama memikirkan langkah dan upaya guna membantu keturunan RA Kartini yang sedang dalam kondisi memprihatinkan.

Menurutnya, selain bantuan pendidikan berupa beasiswa dan tempat tinggal atau bantuan berkelanjutan lainnya, paling tidak juga ada bantuan tahunan yang diserahkan setiap tahun atau pada peringatan Hari Kartini. “Jadi ada bantuan tahunan dan ada yang berkelanjutan. Nanti kita rumuskan bersama tim kecil. Apa yang disampaikan bupati harus kita tanggapi dan ditindaklanjuti,” tandasnya.

(Metropolitan.id)