Pengusaha Bus Ribut Rebutan Trayek, di Terminal Baranangsiang

oleh

Persoalan di Terminal Baranangsiang ternyata bukan hanya pada masalah ketidakjelasan revitalisasi. Persaingan antar Perusahaan Otobus (PO) pada satu trayek pun kini terjadi. Kemarin, dua PO trayek Bogor-Kuningan-Cirebon PO Bus Luragung dan PO Setia Negara nyaris ribut lantaran berebut trayek yang sama.

PO Bus Luragung menuding PO Bus Setia Negara menjalani persaingan yang tidak sehat karena bus mereka sudah bisa beroperasi, padahal belum mengantungi izin trayek. “Ini kan sama saja mengacak-acak aturan. Belum ada izin prinsip trayek, tetapi bisa operasi bahkan ngetem di terminal. Kami juga mempertanyakan kebijakan Dishub yang memberi keringanan PO tersebut melintas saja, sebelum izin turun. Nyatanya, mereka malah bisa ngetem dan berangkat semaunya. Harusnya kebijakan jangan dianggap main-main karena rawan konflik horizontal antarpengusaha bus loh,” kata Pengurus PO Bus Luragung Asep Gunawan, kepada Metropolitan, kemarin.

Asep bahkan mencurigai, ada permainan dari dinas terkait dan pengusaha PO Setia Negara yang bisa meloloskan rekomendasi agar bisa beroperasi sambil menunggu izin trayek turun. Hal ini tentu menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Apalagi, beroperasinya pun tidak seperti apa yang diatur Terminal Baranangsiang. “Harusnya ada izin prinsip dulu, ada kesepakatan dengan para pengusaha. Ini kelihatannya arogansi dari PO, dengan segala upaya, memanfaatkan kedekatan, jadi melabrak semua aturan. Belum ada kelengkapan tetapi sudah bisa jalan, jadi timbul persaingan tidak sehat lah. Seharusnya ya tunggu dulu lah. Meskipun baru satu bus yang mereka jalankan,” ujarnya.

Sementara itu, Pengurus PO Setia Negara Gery, membantah segala tudingan tersebut. Menurutnya, bus yang dikelolanya tersebut sudah pada jalur dan tahapan yang benar, hanya saja masih menunggu izin trayek turun yang diperkirakan akan rampung dalam waktu dekat. “Semua tahapan sudah kami tempuh, kami jalan mengantungi rekomendasi yang ada. Kami ikuti semua aturan itu kok, kami tidak ngetem di trayek seharusnya, kami juga ngetem tidak lama. Kenapa? Karena kami ingin taat aturan dari regulator di sini (terminal),” tegasnya.

Saat ini pun, kata Gery, pihaknya hanya menurunkan satu bus saja, padahal mereka punya empat armada. Sebab, dirinya ingin beroperasi sesuai aturan saja. “Karena kami hargai keputusan dari regulator. Bisa operasi dengan syarat, ngetem tidak di trayek, tidak lama, lalu apa lagi? Tidak salah dong? Mungkin mereka tidak terima keberadaan kami. Padahal kami pernah kok, sowan ke PO yang lebih dulu. Intinya kami beroperasi sesuai aturan regulator lah,” ucapnya.

Hal ini diamini Kepala Terminal Baranangsiang Sumardono yang menjelaskan bahwa posisi PO. Satia Negara sudah pada koridor yang benar secara tahapan. Terbukti dari kesiapan beberapa syarat seperti bus dan stnk yang sudah siap, disertai surat rekomendasi hingga resi penerimaan. Hanya saja, Dishub memberi ketentuan khusus dalam beroperasinya bus tersebut. “Kami istilahnkan dengan tahap uji coba, menunggu surat izin trayek keluar. Maka ada rekomendasi, bisa melayani penumpang dengan syarat harus mengikuti ketentuan dari kami selama uji coba. Misalnya, tidak mengetem di trayek yang sudah ada dan sementara kami tempatkan di jalur eks Ploris. Itu pun tidak boleh lama-lama, karena tertuang hanya melintas,” ungkapnya.

Dono sapaan akrabnya, menambahkan, kisruh ini memang bermuara dari rasa ketidakadilan dari pengusaha tertentu yang menganggap pengusaha lain bisa beroperasi, padahal kelengkapan administrasinya belum selesai sepenuhnya. “Makanya, kami akan jembatani keduanya, memanggil dua pengurus agar ada jalan keluar dan tidak membuat kegaduhan di terminal. Menerangkan apa yang sebenarnya dipermasalahkan. Secepatnya lah,” tuntasnya.

(Metropolitan.id)